X

Yusben dan Keterampilan Mangarok

Inspirasi | 28 November 2018
Yusben Kuasai Mangarok

NAMANYA dengan kalangan pengrajin tenun songket, bak dua sisi matang uang yang saling melengkapi. Keterampilannya bisa dikatakan sebagai kunci utama dalam setiap awal dari kerajinan tenun dimulai.

Tidak hanya di Silungkang, Sumatera Barat saja. Namun, nama Yusben telah melanglang buana hingga Singapura, Thailand dan Malaysia. Dari pengrajin hingga penguasa di negeri tetangga.

Bahkan, dua dari empat anaknya, Muhammad Alif Arasyid dan Atiyah Anayatullah lahir di Malaysia. Yusben, pria kelahiran Januari 1971 itu, menguasai keterampil Mangarok atau Gun, proses awal yang menentukan bentuk, ukuran serta motif dari tenun songket.

Untuk menguasai keterampilan mangarok, harus memiliki kemampuan dari seluruh proses tenun songket yang ada. Mulai dari jumlah benang, motif, dan seluruh proses lainnya. Agaknya hal itu pula yang membuat keterampilan mangarok, hanya dikuasai segelintir orang.

Jika tidak mengambil ukuran di Sumatera Barat, di Silungkang Sawahlunto sendiri, yang kini memasok seluruh hasil mangarok ke Pandai Sikek, Tanjung Gadang, Solok, dan Sawahlunto sendiri, hanya Yusben dan Ana yang memiliki kemampuan yang satu ini.

Ana sendiri, cerita Yusben kepada kabarita.co, kini setidaknya sudah berusia 80 tahun. Meski demikian, begitu banyaknya permintaan untuk mangarok, memaksa Ana untuk terus beraktivitas.

Bapak empat anak itu sendiri, hanya bisa menyelesaikan 3 set dalam sepekan. Untuk satu set, dengan mangarok, Yusben bisa mengantongi pendapatan kotor Rp1 juta. Artinya, dalam sepekan omset yang dikumpulkan Yusben mencapai Rp3 juta.

Dari rumah kayu yang hampir lapuk milik orang tua Yusben, di Dusun Lubuak Nan Godang Desa Silungkang Tigo, alat tenun bukan mesin (ATBM) akan mengawali cerita panjang, dalam membentang helai demi helai tenun songket, yang dikerjakan pengerajin tenun.

Bagi Yusben, motif Kaluak Paku, Pucuak Rabuang, yang menjadi motif tersusah untuk pengrajin tenun, dapat diselesaikan dalam hitungan dua hingga tiga hari. Bagaimana tidak, Yusben memang menggantungkan kebutuhan hidupnya dari keterampilan mangarok itu.

Suami Helenesda itu, bukan tidak mau berbagi kepandaian ataupun meregerasi keterampilan yang dimilikinya kepada generasi yang lebih muda. Baginya, siapa saja yang ingin belajar, pintu rumahnya terbuka sepanjang hari.

Dari beberapa anak muda yang mencoba belajar keterampil mangarok, belum satupun yang bertahan hingga pandai. Paling lama dalam hitungan setengah pelajaran, mereka sudah menyerah dan tidak mampu untuk melanjutkan.

Akibatnya, hingga saat ini hanya Yusben dan Ana berdualah, orang-orang yang menguasai keterampilan mangarok. Padahal, jika tidak diturunkan, bukan tidak mungkin akan mengancam kesinambungan kerajinan tenun songket ke depan.

Bukan Yusben tidak berusaha untuk menurunkan keterampilan yang dimilikinya. Melalui anak-anaknya, Yusben berusaha meneteskan keterampilan mangarok tersebut. Hingga saat ini, katanya, sudah ada anak yang menguasai 50 persen keterampilan mangarok.   

Pesanan Yusben memang terbilang sangat banyak, sejak triwulan pertama 2018 lalu, Yusben sudah menutup orderan. Sebab, orderan yang sudah masuk, dijadwalkan dengan kondisi kesehatan yang memadai, baru akan selesai di ujung 2018.

Dengan kemampuan yang dimilikinya, anak dari pasangan Rajiah dan Agus itu sempat mendapat tawaran untuk menjadi warga negara Malaysia. Hanya saja, ketika itu Yusben memilih dekat dengan orang tuanya, dan menolak untuk pindah kewarganegaraan.

Bagi Malaysia sendiri, Yusben memiliki arti yang sangat penting. Sebab, ketarampilan mangarok yang dimilikinya, mampu menggali kembali motif-motif lama, yang tidak lagi bisa dikerjakan pengrajin tenun.

Dulu, cerita Yusben kepada kabarita.co, sambil menghela nafas panjang, dirinya difasilitasi rumah, pangan dan tinggal istana Negeri Sembilan. Yusben sempat tujuh tahun tinggal di istana.

Kala itu di bawah Lembaga Museum Negeri Sembilan, pendapatan Yusben terbilang luar biasa, gaji pokok yang diterima mencapai 1.200 ringgit, ditambah tunjangan 2.000 ringgit.

Jika bicara jujur, kata Yusben lirih, dirinya menyesal meninggalkan Malaysia. Sebab, untuk ekonomi, dengan pendapatan yang diperolehnya hari ini, perbandingannya siang dan malam.

Namun demikian, Yusben tidak lagi memikirkannya. Kebahagiaanya dapat hidup dengan orang tua, sudah membuatnya lebihh dari cukup.(***)