Yance Dumupa, Setiap Hari Tangani Sapi

Ekonomi | 18 Juli 2019
Yance Dumupa

SAWAHLUNTO - Untuk ukuran Kota Sawahlunto, mungkin hanya sedikit yang tidak kenal dengan pria yang satu ini. Selain tampangnya yang spesial, putra asal Pulau Cenderawasih ini, kesehariannya juga terbilang sangat memasyarakat, terlebih di tengah masyarakat peternak.

Meski kini diamanahi mengurusi Tata Usaha di UPTD Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kota Sawahlunto, namun mobilitasnya di tengah masyarakat terbilang sangat tinggi, khususnya dalam membidani hewan ternak.

Mulai dari kambing, sapi hingga kerbau sudah menjadi bagian dari hidup, Yance Dumupa. Pria kelahiran Nabire Papua, 14 Januari 1983 itu, rata-rata setiap hari berhubungan dengan kambing, sapi dan kerbau.

“Rata-rata setiap hari ada satu ternak, mulai dari kawin suntik, pemeriksaan kebuntingan, pemeriksaan alat reproduksi, hingga ternak yang melahirkan,” ujar Yance Dumupa kepada kabarita.co.

Paling tidak, kata Yance Dumupa, dalam sehari ada satu ekor ternak yang ditangani. Baik itu untuk kawin suntik, kebuntingan, maupun akan melahirkan. Hampir sama dengan manusia, penanganan dalam membidani ternak juga harus teliti dan hati-hati. Salah-salah ternak malah mati.

Banyak suka dan duka yang alami seorang bidan ternak, katanya. Pernah suatu ketika, Yance Dumupa diminta untuk membantu proses bersalin indukan sapi bali. Waktu itu masih 04.00 dini hari. Tapi baginya tidak masalah, yang sangat penting, sapi dan anak bisa terselamatkan.

“Untung saja, dalam hitungan satu setengah jam, anak sapi lahir, induknya pun terselamatkan. Yang penting hubungi saja, kapanpun tidak masalah. Asalkan saya bisa, pasti akan saya bantu,” kenang Yance Dumupa.

Ketika virus jembrana menyerang sapi bali di Kota Sawahlunto, Yance Dumupa bersama beberapa rekan seprofesinya harus bekerja ekstra, memberikan pelayanan penyuntikan vaksinasi jembrana.

Tahun 2016 lalu, dari catatan saya ada 20 ekor sapi jenis bali yang mati terkena virus jembrana, pusatnya di Desa Bukit Gadang. Ketika itu, tercatat 8.629 ekor populasi sapi di Kota Sawahlunto, dan 60 persen diantaranya jenis bali, sisanya peranakan ongol atau sapi kampung.

Begitu juga ketika 2017, jembrana kembali menyerang, saat itu pusatnya di Desa Talago Gunung dengan sapi yang mati mencapai 17 ekor. Kala itu, populasi sapi di Kota Sawahlunto di angka 6.049 ekor.

Untuk mengatasi masalah penyebaran virus yang kerap melanda ternak, khususnya sapi, Yance Dumupa menghimbau masyarakat yang membeli sapi dari luar Sawahlunto, untuk melapor ke UPTD Puskeswan, agar diberikan vaksin.

“Puskeswan akan memberikan vaksin jembrana untuk jenis bali dan vaksin ngorok untuk jenis peranakan ongol atau sapi kampung. Jangan ragu, vaksinasi akan diberikan secara gratis,” ungkapnya.   

Sarjana peternakan Universitas Taman Siswa Padang itu, awalnya merupakan lulusan D3 pada program studi kedokteran hewan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2005. Begitu lulus, bukannya kembali ke tanah kelahirannya Papua.

Namun ia memilih kesempatan yang diberikan salah satu perusahaan pengembangan sapi Lembu Jantan Perkasa, dan kemudian diboyong Walikota Sawahlunto, Amran Nur, akhir Februari 2007, untuk turut mengembangkan sapi di kota bekas tambang itu.

Katanya, waktu ditawari Walikota Amran Nur, dirinya masih bujang. Begitu menginjakan kaki di tanah kelahiran Mahaputra Muhammad Yamin itu, Yance Dumupa, terpikat. Hingga kini, setelah 12 tahun di Kota Sawahlunto, dirinya baru 2 kali pulang kampung.

Bagi Yance Dumupa, seorang Amran Nur memiliki arti penting. Selain sebagai orang yang membawanya ke Sawahlunto, namun juga orang yang 2 kali memberikan kesempatan dirinya untuk pulang ke tanah Papua.

Begitu Amran Nur dipanggil Allah SWT, 22 Juni 2016 silam, Yance Dumupa mengaku seolah tidak bisa berdiri dari makam penerima Tokoh Perubahan Republika tersebut. Hingga kini, foto Amran Nur juga menjadi latar di setiap akun media social yang  dimilikinya.

Rasa rindu akan kampung halaman dan orang tua, katanya, tentu ada. Namun, untuk meninggalkan kota seluas 279,5 kilometer persegi ini juga terbilang sangat berat. Apalagi sejak lulus menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), dirinya semakin bulat untuk menetap di Sawahlunto.

Bersama istrinya Diana, Yance Dumupa yang kini menempati Komplek Pertanian di Desa Kolok Nan Tuo itu, sudah memiliki 3 buah hati, Juliana, Jesica, dan Marcelino, yang kini tumbuh remaja di Sawahlunto.(del)