Warisan Dunia UNESCO dan Pecel Mbah Soero

Ekonomi | 15 Agustus 2019
Suryati

SAWAHLUNTO - Status warisan dunia yang disematkan UNESCO, terhadap Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto atau sejarah pertambangan batu bara Ombilin Sawahlunto, ternyata juga berdampak pada omset usaha kuliner, di kawasan wisata Lubang Mbah Soero.

Suryati (56), pemilik usaha kuliner pecel di kawasan lubang Mbah Soero merasakan dampaknya secara langsung. Setidaknya, menurut wanita yang telah berjualan sejak kawasan wisata itu dibuka, kini mulai banyak pelancong mancanegara yang ikut mencicipi dagangannya.

Kebanyakan pelancong mancanegara saat ini, ujarnya, berasal dari Belanda, yang menelusuri kawasan bekas tambang batubara yang dulunya memang dikelola kolonial Belanda, baik museum hingga kuburan Belanda.

“Lumayan meningkat. Kini mulai banyak turis yang makan pecel di sini. Ternyata turis itu sama saja dengan warga lokal, ada yang suka pedes, ada juga yang suka manis,” ungkap Suryati kepada kabarita.co.

Meski belum bisa berbahasa inggris, Suryati mengaku tidak kesulitan untuk membuatkan permintaan pada pelancong tersebut. Sebab, pelancong kerap melihat langsung proses pembuatan pecel. Sehingga, pelancong melihat seberapa banyak cabai yang akan digunakan.

Biasanya, terang Suryati, kuliner yang dinamai Pecel Dela Surya itu, rata-rata dalam sehari terjual 75 hingga 80 porsi. Sejak disematkannya status Warisan Dunia UNESCO, pengunjung kawasan wisata Lubang Mbah Soero mengalami peningkatan.

“Alhamdulillah, pecel Dela Surya juga ikut laris. Kini sehari bisa mencapai 140 porsi, lumayan untuk tambahan pendapatan keluarga,” kata Suryati yang seharinya berjualan bersama sang suami S. Subandi dan menantunya.

Untuk dapat menikmati kuliner pecel Dela Surya, pengunjung memang tidak perlu merogoh kantong dalam. Sebab, seporsi pecel di sana terbilang sangat murah meriah, hanya butuh uang Rp10 ribu.

Pecel hasil ulekan Suryati akan semakin enak, ketika dicampur dengan bakwan khas yang juga dibuat tangan ibu dua anak dan nenek dari tiga cucu itu. Kenapa dikatakan khas, sebab bakwan di sana dicampuri udang.

Suryati sendiri berjualan berjualan hanya beberapa meter dari mulut Lubang Mbah Soero. Tempatnya berjualan juga merupakan bagian dari sejarah, petak kedai itu sendiri merupakan bekas asrama bujangan, yang ditempat kolonial Belanda. Meski terbilang sudah terlihat sedikit tua dan lapuk, Suryati tetap senang menempatinya.(rel)