Warisan Dunia, Pariwisata Bukan Orientasi Utama

News | 10 September 2019
Seminar

SAWAHLUNTO - Pariwisata bukan menjadi orientasi utama dari ditetapkannya Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) atau kawasan pertambangan Ombilin Sawahlunto, sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, Juli 2019 lalu.

Hal itu menjadi catatan penting yang ditegaskan Prof. Johannes Widodo, ketika hadir mewaliki International Council on Monuments and Sites Indonesia (ICOMOS), dalam Seminar Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto.

Johannes Widodo yang tampil sebagai nara sumber dalam itu mengungkapkan, UNESCO memberikan label Warisan Dunia, sebagai upaya menjaga agar kekayaan yang dimiliki, agar bisa berguna bagi pendidikan generasi berikutnya.

Menurut alumni arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (1984) itu, langkah yang harus diambil Sawahlunto bak ibarat merenovasi sebuah rumah. Dimana tujuan renovasi untuk menciptakan rasa nyaman bagi penghuni rumah sendiri.

“Pembangunan yang akan dilakukan pasca ditetapkannya OCMHS sebagai Warisan Dunia, haruslah bermanfaat dan memudahkan masyarakat Sawahlunto sendiri. Bukan untuk menyambut kedatangan wisatawan,” ujarnya.

Sehingga dalam penerapannya, terang pria yang kini menerap di Sungapura itu, Sawahlunto tidak harus berevolusi menjadi kota lain. Sawahlunto harus tetap menjadi Sawahlunto.

Sawahlunto harus prioritaskan pembangunan yang diperuntukan bagi masyarakatnya, bukan menghadirkan pembangunan bagi wisatawan. Sebab, kedatangan wisatawan ke Sawahlunto untuk melihat dan belajar dari kota seluas 279,5 kilometer persegi tersebut.

Jika pun nantinya ada yang tertarik melihat hasil inovasi terhadap rumah, atau ingin merasakan kenyamanan rumah tersebut, ada yang ingin belajar, itulah yang disebut dengan wisatawan.

“Intinya, Sawahlunto melakukan pembangunan harus demi masyarakatnya. Membangun infrastruktur, jalan transportasi, air kran yang bisa diminum dan segala macamnya, hanya untuk masyarakat Sawahlunto sendiri,” terang doktor jebolan Univeritas Tokyo Jepang (1996) tersebut.

Artinya, membangun infrastruktur untuk mensejahterakan masyarakat. Jika masyarakat sudah sejahtera, dengan label Warisan Dunia dari UNESCO itu, Sawahlunto tentu akan dikenal dimana-mana.

Silahkan, lanjut Johannes, membangun sarana transportasi yang representatif bagi masyarakat, air yang langsung bisa diminum di kran, adanya tenpat makan dan minum yang nyaman, dapat dipastikan masyarakat Sawahlunto akan betah dan kerasan untuk tinggal di kota ini.

Sehingga, kata Johannes Widodo, kota ini benar-benar makmur, karena infrastrukturnya dibangun memang untuk masyarakat sendiri. Masyarakat merasa nyaman dan mungkin akan banyak ide yang muncul dari masyarakat.

Hidupkan makanan yang khas yang dimiliki masyarakat dulunya pernah ada, gali semua potensi yang dimiliki di masa lalu, yang tentunya tidak ada di daerah lain. Wisatawan akan datang untuk melihat langsung daerah ini.

“Wisatawan tidak akan mencari segelas kopi Startbuck atau empuknya makanan MC Donald ke Sawahlunto. Sawahlunto adalah Sawahlunto, disajikan secara jujur, bukan secara pura-pura,” katanya.

Wisatawan datang ingin rendang, ingin songket yang benar-benar buatan Sawahlunto, bukan didatangkan dari daerah lain. Mereka tidak mau songket made in China, yang meskipun harganya jauh lebih murah dibandingkan songket Silungkang Sawahlunto.

Mumpung belum terlambat, ICOMOS sebagai organisasi akademik, yang belajar banyak dari kasus-kasus seluruh dunia. Johannes berharap Sawahlunto tidak menjadikan turisme sebagai tujuan utama.

Sementara itu, Rusli Haji Nor, Pengelola Warisan Dunia UNESCO Melaka – Penang, yang juga hadir sebagai nara sumber dalam seminar yang sama mengungkapkan,  status Warisan Dunia yang kini disandang OCMHS, harus diiringi dengan regulasi yang akan menjaga serta merawat situs tersebut.

Apalagi, katanya, situs yang berada dalam OCMHS sendiri, berada di kawasan kota yang masih hidup atau living city, yang terus bergerak melakukan beragam pembangunan.

“Jika dibiarkan tanpa aturan dan regulasi yang jelas, nantinya masyarakat dunia bisa mengajukan protes ke UNESCO. Sebab, dengan status yang tersematkan sejak Juli lalu, situs Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto sudah menjadi milik dunia,” katanya.

Menurut pria kelahiran Selangor 1964 itu, untuk membuat aturan dan regulasi, tentunya pemerintah bernegosiasi dengan masyarakat lokal. Harus ada komunikasi dan duduk bersama, sehingga ada kesepakatan di kedua belah pihak.

Pria berdarah Bengkulu yang mengaku pertama kali menginjakan kaki di Kota Sawahlunto pada 2008 silam itu, melihat Sawahlunto bak dua kota kembar dengan Malaka.

Memang, lanjutnya, pernyataan itu pernah disampaikan Walikota Sawwahlunto Amran Nur, dalam sebuah kegiatan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI). Kala itu, menurut Rusli Haji Nor, mendiang sangat berkeinginan Sawahlunto juga meraih status Warisan Dunia UNESCO.

Sayangnya, status Warisan Dunia UNESCO diraih ketika Walikota Amran Nur telah menghadap Sang Ilahi. “Mudah-mudahan niat yang dulu pernah disampaikannya, dibalasi dengan pahala berlipat ganda,” ujar Rusli Haji Nor lirih.

Rusli yang sempat menjadi dosen bidang sejarah arsitektur, di Kuala Lumpur itu mengaku sangat bangga dengan Sawahlunto, yang mampu mencapai status Warisan Dunia UNESCO dalm tempo yang terbilang sangat singkat.

Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari nilai penting yang dimiliki Sawahlunto sebagai kawasan pertambangan Ombilin yang memiliki arti penting dari sisi penilaian yang dilakukan UNESCO.

Kedua poin penting itu, ujarnya, mulai dari pertukaran teknologi Eropa, dan peranan Sawahlunto terhadap perekonomian dunia. Sawahlunto terlibat secara langsung dalam merubah ekonomi Eropa.

“Ketika itu kebetulan Belanda salah satu kuasa ekonomi dunia. Belanda membawa hasil tambang batubara di Sawahlunto, untuk digunakan sepenuhnya di eropa sana,” ungkapnya.(del)