TOUR DE SINGKARAK

Ulasan | 04 November 2019
Fadilla Jusman

SEPULUH tahun lalu, Tour de Singkarak pertama digelar. Kala itu, Sawahlunto menjadi salah satu kota penting dalam perhelatan yang diikuti pesepeda mancanegara tersebut. Tidak hanya sebagai garis finish, Sawahlunto juga diberi kesempatan menjadi titik start.

Tour de Singkarak 2009 itu berlangsung selama 5 hari dengan melombakan 4 etape. Sawahlunto berada di etape 3A, dengan rute Bukittinggi - Sawahlunto yang menempuh jarak sejauh 90,2 kilometer, dan pada etape 3B Sawahlunto menuju Danau Singkarak sejauh 90,2 kilometer.

Tampil sebagai daerah dengan garis finish dan titik start tentu memberikan banyak keuntungan bagi daerah setempat. Apalagi, jika daerah tersebut memiliki lintasan yang cukup panjang dalam ajang bergengsi tersebut.

Sebagai titi start dan garis finish, tentu akan membuat jika tidak keseluruhan, sebagian dari peserta Tour de Singkarak atau setidaknya official harus menginap di daerah setempat. Apakah akan memanfaatkan hotel ataupun homestay. Otomatis, akan ada uang yang dibelanjakan peserta atau official ke masyarakat sekitar.

Sementara dengan banyaknya lintasan yang dilalui di suatu daerah, akan membuat panitia harus memperbaiki jalur yang akan dilintasi tersebut. Tentu untungnya, ruas jalan yang dilalui akan diperbaiki dan kembali mulus.

Tahun keempat Tour de Singkarak, dengan lobi-lobi yang kuat, Pemerintah Kota Sawahlunto  dipilih menjadi titik start lomba balap sepeda internasional Tour de Singkarak 2012, yang dilegar  4 hingga 10 Juni 2012.

Padahal, tiga kali penyelenggaraan Tour de Singkarak sebelumnya, titik start selalu dimulai dari Padang. Namun, tahun 2012, Padang menjadi titik finish Tour de Singkarak, dan Sawahlunto menjadi titik startnya.

Menjadi titik start memang memiliki nilai tersendiri bagi Sawahlunto, sebab, helat akbar itu dimulai di Sawahlunto. Semua mata tertuju ke kota yang penduduknya hanya berkisar 65 ribu lebih itu.

Bahkan untuk memeriahkannya, Pemerintah Sawahlunto menghadirkan lokolotif uap Mak Itam, yang diboyong dari Museum Ambarawa, sebagai latar belakang garis start. Tentu saja momen tersebut membuat titik start Tour de Singkarak 2012 semakin meriah.

Kini Tour de Singkarak berusia sebelas tahun. Sawahlunto yang berada di etape IV dilintasi dengan rute sepanjang tidak lebih dari 8 kilometer. Masuk dari perbatasan Kabupaten Sijunjung, menuju ke Muaro Kalaban, Pondok Kapur, dan berakhir di garis finish di Lapangan Segitiga Sawahlunto.

Berikutnya etape V, peserta Tour de Singkarak berangkat menuju ke garis start di Kabupaten Solok menuju Kabupaten Agam. Hingga, Senin (4/11), belum satupun homestay mengaku mendapatkan order untuk penginapan baik peserta maupun official Tour de Singkarak.

Masyarakat Sawahlunto, khususnya masyarakat pengusaha tentu sangat berharap, agar Tour de Singkarak memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat. Baik itu penginapan, cenderamata, hingga jajan kuliner.

Sebagai daerah yang dilalui Tour de Singkarak, tentu Sawahlunto juga harus memberikan kontribusi terhadap perhelatan yang digelar. Tentunya, kontribusi yang diberikan itu juga mesti berdampak terhadap masyarakat.

Apakah dampak terhadap ekonomi masyarakat, maupun dampak terhadap perbaikan sarana dan prasarana ruas jalan. Ke depan, masyarakat Sawahlunto tentu berharap, ruas jalan Sawahlunto semakin panjang yang menjadi lintasan Tour de Singkarak. Baik dari utara hingga selatan, maupun dari timur menuju barat.

Sehingga iven yang digelar sekali setahun ini hdir bagai lebaran bagi masyarakat Sawahlunto. Hadirnya ruas jalan kembali diaspal, bergeraknya ekonomi kerakyatan, hingga berputarnya ekonomi kreatif di tengah masyarakat. Semoga saja.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi