Tiket UNESCO

News | 02 Juli 2019
Fadilla Jusman

SEBAGAI bangsa Indonesia dan khususnya masyarakat Sawahlunto Sumatera Barat, kita patut bersyukur dengan masuknya kota yang pernah menjadi penghasil batu bara terbaik di Indonesia ini sebagai salah satu nominasi situs Warisan Dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Sebab, jika Sawahlunto berhasil ditetapkan sebagai warisan dunia, tentu berpengaruh besar, khususnya sektor pariwisata. Tingkat kunjungan wisatawan mancanegara juga akan lebih banyak, promosi pariwisata ke depan tidak hanya dilakukan oleh Sawahlunto, Sumbar dan Indonesia saja, tapi juga dilakukan UNESCO.

Apalagi Sawahlunto dengan kekayaan peninggalan bersejarah yang dimiliki kota berpenduduk multi etnik ini terbilang sangat banyak. Terutama peninggalan yang bisa dijadikan sebagai tujuan wisata edukasi.

Mulai dari beragam museum terkait penambangan baik museum tambang, gudang ransum, hingga museum sarana transportasi pengangkut batubara yakni kereta api, yang menjadi jejak sejarah tambang di Indonesia.

Tidak hanya di sektor tambang, Sawahlunto juga kaya dengan geologi, Sawahlunto yang kini juga berstatus sebagai geopark nasional, dan dengan 50 destinasi yang ada, tengah bersiap menuju UNSECO Global Geopark (UGG).

Apalagi, sejak tiga tahun pasca reformasi, Pemerintah Sawahlunto melalui Peraturan Daerah Nomor 2 tahun 2001, menetapkan diri, sesuai dengan visi menjadi ‘Kota Wisata Tambang Berbudaya Tahun 2020’.

Jika UNESCO meloloskan Sawahlunto sebagai warisan dunia, tentu pencapaian visi menjadi Kota Wisata Tambang Berbudaya 2020, yang mendekati limit waktu, tentu akan semakin mendekati kata terwujud.  

Pengakuan internasional akan menjadi pintu masuk bagi Sawahlunto ke pangsa pasar pariwisata yang lebih luas. Bisa disebut, pengakuan ini menjadi tiket bagi kota seluas 279,5 kilometer persegi itu ke pentas wisata dunia.

Pasar wisata yang semakin terbuka, akan menjadi bahan bakar bagi Sawahlunto dalam memutar roda perekonomian masyarakat. Meningkatnya wisatawan, akan membawa uang masuk bagi masyarakat yang ada.

Mereka yang datang akan berbelanja, menggunakan uang mereka untuk berbelanja berbagai kebutuhan yang dapat membantu mereka dalam berkunjung di kota warisan dunia.

Sekali lagi, jika tiket itu didapatkan dalam Sidang ke-43 Komite Warisan Dunia di Baku, Azerbaijan, yang akan berakhir 10 Juli mendatang, tentu akan menjadi sebuah lompatan besar bagi kota tambang batu bara tertua di Indonesia.

Tentu secara tidak langsung, tiket tersebut akan mengantarkan Sawahlunto sejajar dengan 11 situs warisan dunia di Indonesia yang sebelumnya sudah ditetapkan UNESCO.

Mulai dari Candi Borobudur, Prambanan, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Manusia Purba Sangiran, Taman Nasional Lorentz, Taman Nasional Sembilang, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, hingga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, dan Cultural Landscape Subak Bali.

Memegang status warisan dunia, tentu akan memberikan nilai lebih bagi Sawahlunto khususnya, dan daerah sekitar yang ada di Sumatera Barat pada umumnya. Semoga saja tiket menjadi warisan dunia itu diterima Sawahlunto dari UNESCO.(Fadilla Jusman)