X

Tenun Silungkang, Usaha Andalan Kaum Ibu Sawahlunto

Inspirasi | 03 April 2016
Tenun Silungkang

DUA tahun lalu, Desmi Yumiati masih berstatus sebagai buruh cuci. Mencari penghidupan dari satu rumah ke rumah lain. Mencuci, membilas, menjemur, dan menggosok pakaian menjadi rutinitas sehari-harinya.

Ibu dua anak itu, ikut berjuang membantu sang suami, Anton, dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mereka bangun semenjak dari enam belas tahun lebih.

Mengandalkan penghasilan sebagai buruh cuci, tidak memberikan pengharapan bagus bagi Desmi dan keluarga. Penghasilan yang didapat, hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga ala kadarnya.

Pelatihan tenun yang diselenggarakan Pemerintah Kota Sawahlunto, melalui Dinas Perindagkopnaker, tahun 2014 silam, memberikan perubahan yang cukup berarti bagi orang tua dari Muhammad Ikrar (15) dan Kurnia (12) tersebut.

Menjalani pelatihan selama dua bulan penuh secara bersungguh-sungguh, memberikan keterampilan yang memadai bagi Desmi untuk memulai peruntungan baru. Berbekal bantuan alat tenun bukan mesin dan kebutuhan bertenun untuk selusin songket, menjadi awal perubahan baginya.

“Alhamdulillah, banyak perubahan dalam kehidupan keluarga kami. Keterampilan tenun ini, jauh lebih baik dibandingkan dengan menjadi buruh cuci,” ungkap Desmi, di kawasan Kampung Produktif Luak Badai Sawahlunto, Rabu 30 Maret 2016.

Dalam mengembangkan kerajinan tenun, Desmi tidak hanya memainkan warna dari benang saja. Namun, wanita kelahiran 31 Juli 1976 itu, juga menggunakan pewarnaan alam, yang diraciknya sendiri.

Mulai dari penggunaan daun-daunan, kulit pohon, kulit jengkol, daun gambir, bahkan juga pernah menggunakan pewarnaan dengan bahan batubara. Harga songket berbahan alam itu, justru mengangkat harga jual songket yang dihasilkan.

“Untuk songket dengan pewarnaan alam ini, harganya jauh lebih tinggi. Paling murah Rp1,5 juta dan untuk tetingginya tidak terbatas. Harga juga menyesuaikan dengan pola, motif serta keinginan pelanggan sendiri,” terangnya.

Dalam dalam sebulan, Desmi bisa menyelesaikan antara delapan hingga sepuluh helai pesanan. Meski tidak mau menyebutkan omset rata-rata, Desmi mengaku hasil pendapatannya dari kerajinan tenun sangat membantu ekonomi keluarga.

Desmi mengaku sangat bersyukur, bisa mendapatkan pelatihan dari Pemerintah Sawahlunto. Tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan rumah tangga, kini Desmi dan sang suami telah memiliki dua kendaraan sepeda motor.

Selain itu, kedua anaknya telah bisa mengikuti les tambahan mata pelajaran di luar sekolah. Padahal, sebelum menjadi pengerajin songket Silungkang, jangankan untuk les, untuk biaya sekolah saja telah teramat susah untuk memenuhinya.

Kini, Desmi juga telah menambah alat tenun bukan mesin, untuk meningkatkan produksi tenun songket Silungkang tersebut. Meski belum memiliki merek dagang sendiri, Desmi sudah menjual hasil kerajinannya langsung ke pelanggan.

“Saat ini, saya sedang menerima beberapa pesanan dari guru sekolah. Mudah-mudahan dalam selesai, untuk memenuhi kebutuhan keuangan rumah tangga. Menjadi pengerajin songket, jauh lebih enak ketimbang menjadi buruh cuci,” ujarnya.

Kerajinan tenun songket Silungkang, kini telah menjadi usaha andalas bagi kaum ibu di Kota Sawahlunto. Tidak hanya terpusat di Nagari Silungkang, namun kerajinan itu telah menyebar di empat kecamatan di ‘Kota Arang’.

Tidak hanya Desmi yang mereguk kesejahteraan dari kerajinan tenun songket Silungkang. Hal yang sama juga dirasakan Kamiar, warga Pisang Kalek Desa Balai Batu Sandaran Sawahlunto.

Jika sebelumnya menjalani hidup dengan bertani, sejak tiga tahun terakhir Kamiar beralih profesi menjadi pengerajin tenun songket Silungkang. Wanita 41 tahun itu mengaku, semenjak menjadi pengerajin, telah bisa menyekolahkan dan menguliahkan anak-anaknya.

Jika lebih awal menjadi pengerajin, ungkap Kamiar, dia bisa memastikan anak pertamanya juga akan bisa mencicipi bangku kuliah di perguruan tinggi. Sayangnya, Kamiar baru menguasai keterampilan tenun semenjak tiga tahun terakhir melalui pelatihan yang diselenggarakan Pemerintah Sawahlunto.

“Kalau semenjak sepuluh tahun lalu saya bisa bertenun, mungkin anak pertama saya akan kuliah. Tetapi setidaknya, anak kedua kami sudah bisa kuliah,” ujar ibu tiga anak yang mengaku hanya tamat sekolah dasar itu.

Kamiar memang tidak terlalu mengharapkan pesanan langsung dari pelanggan. Pasalnya, Kamiar memiliki penyalur sendiri, yang siap menampung seluruh hasil produksi kerajinan tenun songketnya.

Menurut Kamiar, dalam sebulan bisa menyelesaikan lima selendang dan sepuluh songket. Untuk selendang, harga yang dibanderolnya ke pengusaha sebesar Rp220 ribu, sedangkan songket mencapai Rp350 ribu per helai.

Setidaknya dalam sebulan, Kamiar bisa menembus omset penjualan di atas Rp5 juta. Omset tersebut bisa meningkat, jika Kamiar bertenun hingga larut malam.

Istri Jamiun itu bertekad, anak ketiganya Guswahyuni yang masih duduk di bangku SMP, juga bisa berkuliah di kemudian hari. Sebab, bagi Kamiar dan Jamiun, pendidikan merupakan modal hidup yang sangat penting.

Bagi mereka, dengan ilmu semuanya bisa menjadi nyata, dengan ilmu semua orang bisa menjadi apa saja. Sebaliknya, tanpa ilmu, masyarakat justru sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkan.(***)