SPESIAL SEDERHANA

Ulasan | 03 Desember 2019
Fadilla Jusman

STATUS warisan budaya dunia yang disematkan pada sejarah pertambangan batubara Ombilin Sawahlunto atau Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, tentunya menjadi magnet bagi orang untuk datang ke kota bekas tambang yang satu ini.

Diakui atau tidak, meski belum genap satu semester sejak ditetapkan menjadi warisan budaya dunia, ternyata memang mampu menarik perhatian wisatawan asing. Lebih dari lima ratusan wisatawan asing tercatat mengunjungi Sawahlunto.

Sertifikat pengakuan yang diterbitkan UNESCO tersebut memang memiliki dampak serius bagi sektor pariwisata Sawahlunto, yang dibuktikan dengan peningkatan jumlah wisatawan asing ke kota seluas 279,5 kilometer persegi tersebut.

Mungkin untuk seukuran kota tujuan wisata, layaknya Bali dan Lombok atau destinasi selevelnya, angka kunjungan wisatawan itu terbilang biasa saja. Namun untuk ukuran Sawahlunto, jumlah itu bisa disebut luar biasa, apalagi dalam hitungan beberapa bulan saja.

Pengakuan warisan budaya dunia UNESCO itu layaknya oase bagi pariwisata Sawahlunto, meskipun pengakuan tersebut lebih bertujuan kepada merawat dan menjaga situs-situs sejarah pertambangan batubara yang ditetapkan agar tetap lestari.

Agaknya status warisan dunia yang disandang itu, menjadikan peringatan hari jadi kota Sawahlunto ke 131 tahun lebih spesial. Sebab, inilah peringatan HJK pertama Sawahlunto sejak sejarah pertambangan batubara Ombilin ini ditetapkan menjadi warisan dunia, di Azerbaijan, awal Juli lalu.

Namun kondisi itu tampaknya tidak membuat Sawahlunto terlihat ‘jumawa’. Hari jadi kota ke 131 yang spesial itu hanya dibungkus dengan helat sederhana, dalam prosesi makan bajamba. Tidak ada petinggi dan pengambil kebijakan level nasional, sekelas menteri yang hadir.

Selain warga kota, helat sederhana makan bajamba ini dihadiri para petinggi daerah, petinggi daerah tetangga, hingga perantau yang sengaja meluangkan waktu untuk menghadiri iven akbar yang digelar sejak 13 tahun silam itu.

Helat hari jadi ini digelar sebagai wujud kebersamaan, kebersamaan antara pemerintah daerah dengan masyarakat yang dipimpinnya. Kebersamaan dalam membangun silaturrahmi antar warga di negeri yang pernah menjadi penghasil batubara berkualitas tinggi.

Beberapa undangan untuk kehadiran menteri belum mendapatkan respon, mungkin kementerian masih disibukan dengan penataan internal usai pergantian petinggi mereka, sejak kabinet nasional negeri ini diumumkan Oktober lalu.

Kehadiran petinggi nasional, layaknya menteri yang dapat mengambil kebijakan dan berkontribusi terhadap pembangunan Sawahlunto ke depan, baik dalam bentuk kebijakan jangka pendek maupun jangka panjang sangat dibutuhkan.

Atau setidaknya program kementerian yang dapat disingkronkan dengan program kota yang tengah dikejar. Sehingga program kementerian terkait dapat diboyong ke kota berpenduduk 65 ribu jiwa lebih ini.

Perlu kerja keras petinggi daerah, untuk melobi dan meyakinkan pemerintah pusat, untuk bisa datang, melihat langsung kondisi kota yang saat ini memang terbilang membutuhkan pembangunan di berbagai sisi. 

Kepemimpinan kota yang saat ini dibalut dengan koalisi besar, dimana hampir seluruh partai yang melabuhkan wakilnya di gedung dewan sepakat untuk mendukung program pemerintah, sama-sama memajukan dan membangun daerah.

Sebuah potensi besar yang dapat dimanfaatkan sebagai kekuatan lobi ke pemerintah pusat, melalui partai-partai yang bergabung dalam koalisi besar yang dibentuk, pemerintah dapat menggaet anggaran dan program pembangunan.

Jika saat ini belum bisa diwujudkan, mudah-mudahan ke depan dengan status Warisan Budaya Dunia, dapat menarik menteri untuk datang dan hadir dalam helat 1 Desember pada Sawahlunto ke 132 tahun.

Di hari spesial nan sederhana ini ke depannya, tentu masyarakat Sawahlunto sangat berharap, status warisan dunia yang telah disematkan itu memberikan dampak terhadap kemajuan Sawahlunto ke depan.

Kemajuan pembangunan, peningkatan sarana prasarana, peningkatan fasilitas umum, peningkatakan pelayanan kesehatan, peningkatkan kulitas pendidikan, hingga peningkatan perekonomian. Semoga saja, dalam kesederhanaannya pemerintah dengan sekuat tenaga terus memperjuangkan kesejahteraan masyarakatnya.(Fadilla Jusman)