SISSCa akan Rilis Songket Silungkang Pewarna Alami

Ekonomi | 07 September 2019
Tenun songket Silungkang

SAWAHLUNTO - Ajang Sawahlunto International Songket Silungkang Carnival (SISSCa) juga akan merilis produk kerajinan songket berbahan pewarna celup alami, dengan produk yang semakin berkualitas.

“Tentunya, Songket Silungkang dengan pewarna celup alami dengan kualitas yang semakin bagus, akan diikuti dengan nilai ekonomis yang bagus pula,” ujar Walikota Sawahlunto, Deri Asta, di hadapan wartawan.

Menurut Deri Asta, dengan nilai ekonomis yang lebih baik, akan ikut mengkerek nilai ekonomi pengerajin songket Silungkang sendiri. Tujuannya, tentu saja untuk memperbaiki ekonomi masyarakat Sawahlunto.

Selain itu, kehadiran songket Silungkang dengan bahan pewarna alami akan memberikan pilihan yang lebih banyak terhadap konsumen yang ada selama ini, dengan keragaman produk songket Silungkang yang dimiliki.

Songket berbahan pewarna alami, dapat diracik sendiri, dengan menggunakan daun-daunan, kulit pohon, kulit jengkol, daun gambir, bahkan juga bisa menggunakan pewarnaan dengan bahan batubara. Harga songket berbahan alam itu, justru mengangkat harga jual songket yang dihasilkan.

“Untuk songket dengan pewarnaan alam ini, harganya jauh lebih tinggi. Paling murah Rp1,5 juta dan untuk tetingginya tidak terbatas. Harga juga menyesuaikan dengan pola, motif serta keinginan pelanggan sendiri,” terang Desmi, salah seorang pengerajin Songket Silungkang, yang mulai menggunakan pewarna alami kepada kabarita.co.

Ajang SISSCa telah dilaksanakan selama empat kali berturut-turut. Tahun ini merupakan SISSCa kelima, yang diharapkan mampu mengangkat produk kerajinan yang telah ada sejak ratusan tahun silam tersebut kembali mendunia.

Pemerintah Sawahlunto sendiri menjadikan kerajinan songket Silungkang sebagai salah satu program dalam upaya mengkerek perekonomian masyarakat, melalui program pelatihan tenun yang mentargetkan pertumbuhan 50 pengrajin setiap tahun.

Hingga tutup tahun 2018 lalu, Sawahlunto tercatat memiliki 914 pengrajin tenun songket. Jumlah itu mengalami peningkatan dari tahun 2017, yang mana pengrajin tenun berjumlah 877 orang.

Sementara sebelumnya, 2016, pengrajin tenun Silungkang di Kota Sawahlunto berada di posisi 796 orang. Jumlah itu terus mengalami peningkatan seiring dengan program pelatihan yang diberikan pemerintah setempat.

Saat ini, Pemerintah Sawahlunto juga menyediakan 100 unit alat tenun bukan mesin (ATBM), yang akan dibagikan kepada para pengrajin. Seiiring dengan itu, juga dipersiapkan pelatihan terhadap 50 orang calon pengerajin.(del)