Rusli Haji Nor, Gandeng Media Gemakan Warisan Dunia

News | 09 September 2019
Rusli Haji Nor

SAWAHLUNTO - Pengelolaan situs Warisan Dunia, Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) atau kawasan pertambangan Ombilin Sawahlunto, pasca ditetapkan UNESCO tidak boleh jauh dari media massa.

Keberadaan dan gerak langkah warisan dunia, harus terus disuarakan di semua ruang media massa. Sehingga gaung Warisan Dunia UNESCO yang kini disandang OCMHS tetap menggema.

“Keberadaan media massa sangat penting untuk terus menggemakan status Warisan Dunia yang kini disandang Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto,” ungkap Rusli Haji Nor, Kepala Kantor Pengelola Warisan Dunia UNESCO Malaka Penang kepada kabarita.co.

Menurut pria yang mengaku berdarah Bengkulu itu, Malaka – Penang, selalu mengagendakan publikasi terkait perkembangan Warisan Dunia UNESCO di setiap pekan.

Hampir setiap agenda dan kegiatan yang dilaksanakan terkait dengan Warisan Dunia UNESCO Malaka – Penang tidak pernah luput dari sentuhan media massa. Peran media massa, tidak hanya sekedar promosi, namun juga menjadi bagian dari pengawalan dari pengelolaan yang ada.

Semestinya, lanjut pria kelahiran Selangor Malaysia itu, media massa harus ada di setiap denyut kegiatan Warisan Dunia, terkhusus Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, yang masih hangat-hangatnya ditetapkan oleh UNESCO.

Rusli sendiri sangat berharap, status UNESCO yang kini berada dipundak sejarah pertambangan Ombilin itu, hendaknya dapat memberikan banyak peluang berupa program bagi anak muda dan perempuan, baik peluang pekerjaan maupun peluang usaha.

Bagi Rusli, sejarah pertambangan Ombilin sangat menarik. Kawasan ini dibangun orang rantai atau buruh paksa, dengan hasil pekerjaan yang dilakukan justru berkontribusi terhadap perkembangan perekonomian Eropa.

“Kawasan ini memiliki peran penting untuk dunia. Di jamannya, Sawahlunto memiliki sejarah pertukaran teknologi Eropa, yang menjadikan Sawahlunto berkontribusi terhadap perekonomian dunia,” katanya.

Arsitek yang sempat menjadi dosen di Kuala Lumpur itu melihat, masih banyak sudut dan potensi yang harus digali, untuk dikupas dan disajikan menjadi cerita penting di media massa.(del)