Roli, Sopir Ambulan Peternak Sapi Qurban

Ekonomi | 10 Juli 2019
Roli Pengembangan Usaha Sapi Qurban

SAWAHLUNTO - Tidak selamanya usaha sampingan hanya menjadi penambah pemasukan semata. Ada kalanya usaha sampingan justru tumbuh menjadi investasi uang menjanjikan. Setidaknya itu dirasakan, Roli, pegawai Puskesmas Kampung Teleng Sawahlunto yang berstatus kontrak dinas.

Bermodalkan tabungan dan sedikit pinjaman dari keluarga, Roli mengawali usaha ternaknya pada triwulan pertama 2015 lalu, dengan dua ekor sapi jenis bali. Waktu itu, kedua sapi yang masih berusia sekitar 1,5 tahun tersebut diboyongnya dengan harga berkisar Rp15,5 juta.

Roli sengaja membeli sapi yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan permintaan hewan qurban. Dalam tempo enam bulan, kedua sapi yang diangon Bapak satu anak itu dilepas dengan harga yang hampir dua kali lipat dari modal awal.

“Alhamdulillah, harga jual setelah diangon sekitar enam bulan, bisa mencapai dua kali lipat,” ujar Roli ketika ditemui kabarita.co, di kandang sapi miliknya, di kawasan Rusunawa Kelurahan Durian II, Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto.

Mendapatkan untung yang terbilang lumayan, Roli bukannya berkeinginan untuk menikmati langsung jerih payah keringatnya itu. Hasil penjualan yang diperoleh justru kembali dijadikan modal untuk menambah jumlah sapi peliharaannya dalam menyambut lebaran qurban tahun berikutnya.

Jika sebelumnya dua ekor, kini sapi angonan Roli bertambah menjadi empat, yang kemudian dipersiapkan untuk dilepas ketika musim haji datang. Benar saja, begitu musim haji datang, sapi milik Roli kembali habis terjual.

Kini, setelah empat tahun berusaha mengembangkan usaha peternakan, telah terparkir 10 ekor sapi, yang siap untuk dijual memenuhi kebutuhan hewan qurban ibadah haji idul adha 1440 H. “Tujuh ekor diantaranya sudah dipanjar, pelanggan tinggal jemput sehari sebelum atau pas pelaksanaan ibadah qurban,” ungkapnya.

Rata-rata harga sapi yang telah dipanjar tersebut, berkisar antara Rp13,5 juta hingga Rp17 juta per ekor. Harga sangat tergantung dengan bentuk dan postur sapi yang akan dijual. Semakin besar dan semakin bagus, harga akan semakin tinggi.

Sistem pemeliharaan yang dilakukan Roli, selain membawa sapi-sapinya ke lapangan hijau rerumputan, juga dengan sistem arit. Rata-rata dalam sehari, Roli menyediakan minimal tiga karung rumput, untuk menjadi konsumsi makan malam sapi-sapinya.

Menurutnya, dengan lebih banyak makan ketika malam, sapi-sapi akan mengalami perkembangan berat badan yang cukup signifkan. Selain rumput, Roli juga mengimbangi pakan ternaknya dengan dedak dan ampas tahu.

Roli sengaja mengisi waktu luangnya ketika pulang dari bekerja. Menjelang sore tiba, Roli siap dengan pisau aritnya, mengumpulkan rumput tiga hingga lima karung hingga magrib menjelang. Usai rumput terkumpul, Roli pun langsung membawa rumput dan sapi kembali ke kandang.

Dalam mengatasi penyakit yang kerap menyerang sapi, Roli menjalin hubungan baik dengan salah seorang dokter hewan terbaik di Kota Sawahlunto. Adalah Yance Dumupa, dokter hewan yang hampir setiap saat menjadi tempat mengaku bagi Roli.

Berkembangnya usaha pemeliharaan sapi, bukan dirasakan Roli dengan begitu saja. Ketika keinginannya memelihara sapi muncul beberapa tahun lalu, juga sempat mendapatkan berbagai hambatan.

Bahkan, di awal keinginannya mengembangkan usaha pemeliharaan sapi, justru dihalangi warga. Padahal dengan uang sebesar Rp1 juta, Roli berhasil mendirikan kandang di kawasan Puncak Poland itu. Namun niat itu terhalang dan Roli harus direlakan kandang yang telah berdiri melapuk, tanpa sempat dimanfaatkan.

Roli memang merintis usaha ternak sapi semenjak masih lajang. Dari usahanya itu, Roli dapat memenuhi biaya pernikahan. “Saya nikah dengan uang dari usaha sapi ini, Alhamdulillah berkah diberikan Allah SWT kepada saya melalui sapi-sapi ini,” ungkapnya.

Untuk terus mengembangkan usaha pemeliharaan sapinya, Roli memilih menunggu modal dari penjualan sapi yang ada. Ia tidak mau mendapatkan dukungan dari pinjaman bank. Baginya, selain diberatkan dengan bunga, pinjaman bank juga dinilai membawa riba.

Suami Weliani Santoso itu mengaku, jika suatu saat ada bantuan modal dari Pemerintah Sawahlunto tanpa bunga untuk mengembangkan usaha yang dilakukannya, tentu akan sangat membantu.

Sebab, menurutnya peluang usaha pemeliharaan sapi untuk kebutuhan qurban masih terbuka lebar. Untuk itu, Roli dengan semangat yang dimilikinya, berusaha untuk memotivasi teman-teman untuk membuka usaha yang sama.

Dari data yang ada, setidaknya Kota Sawahlunto dalam setahun membutuhkan lebih dari 350 ekor hewan yang didominasi hewan sapi sebagai kebutuhan ibadah qurban. Untuk memenuhi kebutuhan sapi itu, sebagian besarnya masih harus didatangkan dari luar Sawahlunto, bahkan luas Sumatera Barat.

Meski telah memiliki total asset melebihi Rp150 juta, Roli bertekad akan tetap setia menjadi pegawai kontrak sebagai sopir ambulan di Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto. Menurutnya, profesi sopir ambulan tetap menjadi pekerjaan utama dan ditambah dengan usaha pemeliharaan sapi.(del)