Revitalisasi Aset Bersejarah, Cikal Bakal Warisan Dunia

News | 02 Juli 2019
Kota Wisata Tambang

SAWAHLUNTO - Kebijakan besar yang diambil Pemerintah Kota Sawahlunto tahun 2004 silam, berupa revitalisasi aset bersejarah kota tambang, ternyata memiliki pengaruh besar, dalam mengantarkan Sawahlunto sebagai salah satu nominator situs Warisan Dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Revitalisasi aset yang dilakukan di masa kepemimpinan Amran Nur itu, berupa kebijakan alihfungsi Komplek Dapur Umum menjadi Museum Goedang Ransoem, dan Stasiun Kereta Api jadi Museum Kereta Api.

Museum Kereta Api itu, sekaligus tercatat sebagai museum kereta api kedua di Indonesia, setelah Museum Kereta Api Ambarawa. Setahun berselang, kedua museum itu kemudian diresmikan Wakil Presiden, HM Yusuf Kalla, 17 Desember 2005.

Hal itu terungkap dalam makalah yang disampaikan Kasi Peninggalan Bersejarah, Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Rahmat Gino Sea Games, pada Dies Natalis ke 78 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, akhir tahun lalu.

Saat ini, menurut Gino, Sawahlunto yang mengusulkan diri dengan tema ‘Warisan Budaya Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto’ (Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto) sedang menunggu keputusan Sidang ke 43 Komite Warisan Dunia, di Baku, Azerbaijan, yang akan berakhir 10 Juli mendatang.

Gino sangat yakin, dukungan berkas dan peninjauan lapangan dan penelitian yang dilakukan tim yang ditunjuk bernama ICOMOS, Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto yang menjadi satu-satunya nominator dari Indonesia akan ditetapkan UNESCO menjadi Warisan Dunia.

Menurut jebolan Teknik Sipil Universitas Bung Hatta itu, ada empat keputusan yang akan dihasilkan dalam sidang Komite Warisan Dunia, yang membahas 38 usulan warisan dunia yang diajukan.

“Keputusannya ada empat. Mulai dari ditetapkan, ditunda, dikembalikan, dan tidak ditetapkan. Mudah-mudahan dengan semua persiapan yang telah dilakukan, UNESCO menetapkan Sawahlunto menjadi Warisan Dunia,” ujar Gino melalui telepon genggamnya kepada kabarita.co, Selasa (2/7).

Bapak dua anak kelahiran 21 September 1979 itu, mengaku sangat berharap, hasil kerja keras yang dilakukan bersama seluruh stakeholder, tim pakar dan masyarakat Sawahlunto itu, UNESCO dapat menerima dan menetapkan menjadi Warisan Dunia.(del)