Revitalisasi Aset

Ekonomi | 21 April 2019
Aset

TIDAK melulu harus membangun program baru, revitalisasi aset atau menghidupkan kembali aset dan potensi yang telah ada, menjadi pilihan bagi pemerintah dalam menggerakan ekonomi masyarakat.

Setidaknya itu mulai ditunjukan Pemerintah Kota Sawahlunto, di bawah kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota, Deri Asta - Zohirin Sayuti, dengan menyisir aset yang dimiliki, dikaji dan dimanfaatkan kembali guna menggerakan roda ekonomi.

Langkah itu dimulai dengan mengunjungi kawasan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Industri Kecil Menengah, di Desa Muaro Kelaban, Kecamatan Silungkang, Sawahlunto, pertengahan pekan lalu.

UPTD yang berada di bawah Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan ‘Kota Arang’ itu, memiliki mesin peralatan tenun modern, bantuan dari pemerintah pusat. Mungkin untuk Sumatera Barat, Sawahlunto satu-satunya yang mendapatkan mesin bantuan tersebut.

Bantuan itu diberikan tentu berdasarkan pertimbangan dan sebagai dorongan, agar Sawahlunto terus meningkatkan produksi tenun songket, baik dari sisi jumlah maupun dari segi kualitas dan mutu.

Tentunya semua itu bermuara kepada peningkatan ekonomi masyarakat Sawahlunto sendiri. Apalagi, Pemerintah Sawahlunto juga mendorong pengembangan tenun songket Silungkang melalui pelatihan maupun melalui pegelaran iven.

Kondisi mesin peralatan tenun modern yang berada di UPTD itu, ketika ditinjau memang mulai terlihat kusam, berdebu, di beberapa sisi mulai dihinggapi jaring laba-laba, yang mungkin disebabkan sudah lama tidak beroperasi.

Walikota Sawahlunto, Deri Asta bersama Wakil Walikota, Zohirin Sayuti, berinisiatif untuk kembali mengoperasikan mesin tenun modern itu. Sebab jika tidak, sangat disayangkan kembali mengingat sebenarnya mesin modern bernilai dalam menunjang produksi kain tenun.

Untuk itu, Pemerintah Sawahlunto mengambil langkah melakukan perbaikan, penggantian dan penambahan berbagai mesin, serta item pendukung kinerja produksi lainnya.

Jika tidak ada aral melintang, pemerintah akan berupaya mengalolasikan anggarandalam Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sawahlunto 2019.

Terlepas dari semua itu, Sawahlunto memang terbilang memiliki aset membutuhkan revitalisasi, dihidupkan dan dikelola kembali dengan baik, guna menggerakan ekonomi masyarakat.

Masih di areal yang sama dengan mesin tenun modern, Sawahlunto juga memiliki mesin pengolah kakao, hingga menjadi bubuk. Namun, mesin yang juga berstatus bantuan itu memiliki nasib yang sama dengan mesin tenun modern.

Keberadaan mesin pengolah kakao itu, tidak terlepas dari upaya kepemimpinan Walikota, almarhum Amran Nur, yang menghidupkan Sawahlunto dengan pengembangan tananaman kakao.

Tidak kurang dari 1,5 juta bibit tanaman kakao diberikan Pemerintah Sawahlunto, yang hingga saat ini tanaman itu dapat berkontribusi bagi ekonomi masyarakat. Dari upaya itu, pemerintah pusat memberikan bantuan mesin untuk mengolah kakao, guna menjadi bahan baku makanan.

Aset lainnya, Sawahlunto juga memiliki kawasan peternakan sapi, yang dulunya berada di bawah penanganan Badan Usaha Milik daerah (BUMD), PT. Lembu Betina Subur.

Perusahaan plat merah itu, selain sempat memproduksi anakan sapi, juga sempat menjadi menghasil pupuk kompos. Sayangnya, miliaran rupiah uang yang disuntikan ke perusahaan itu, belum menjadikan Sawahlunto sebagai sentra pembibitan sapi, baik untuk Sawahlunto sendiri, apalagi untuk Sumatera Barat.

Yang sangat penting tentunya, revitalisasi aset yang dimiliki untuk dihidupkan kembali, dalam mengangkat ekonomi, baik masyarakat maupun pendapatan asli daerah, tentunya dapat melibatkan masyarakat.

Pemerintah melakukan revitalisasi dengan menggandeng masyarakat yang terkait dengan usaha yang dikembangkan, bukan hanya dikelola pemerintah melalui dinas atau aparatur sipil negara semata.

Mudah-mudahan saja, langkah Pemerintah Sawahlunto, di bawah kepemimpinan Deri Asta – Zohirin Sayuti, dapat kembali mengangkat aset dan potensi yang dimiliki, guna mengangkat Sawahlunto menjadi lebih baik ke depan.(Fadilla Jusman)