X

RBKG, Rumah Gakin Menuju Pasar Burung

Ekonomi | 04 Februari 2019
Penangkaran Burung Kayu Gadang

SAWAHLUNTO - Dua belas tahun lalu, kawasan yang berada di timur Desa Santur, Kecamatan Barangin Sawahlunto itu, menjadi pemukiman keluarga miskin. Dengan semangat keras untuk mengubah nasib, secara perlahan perekonomian masyarakat setempat mulai meningkat.

Penangkaran burung jenis love bird menjadi potensi utama, dalam menyatukan puluhan keluarga di kawasan Kayu Gadang Desa Santur untuk keluar dari masalah kemiskinan, yang kerap memunculkan berbagai masalah lain.

Berawal dari inisiatif seorang petugas Babinkamtib setempat dalam mengembangkan penangkaran love bird di tahun 2014, kini tidak kurang dari 35 keluarga turut merasakan dampak dari penangkaran burung kicau.

“Alhamdulillah kini kami memiliki usaha sampingan yang memberikan dukungan perekonomian keluarga,” ujar Ketua Kelompok Rumah Burung Kayu Gadang (RBKG), Rudiyanto (47) ketika ditemui kabarita.co, di kediamannya, Senin (4/2).

Rudiyanto mengungkapkan, penangkaran burung kicau love bird yang dilakukan petugas Babinkamtib itu, menjadi percontohan bagi warga, yang membentuk kelompok penangkaran untuk pengembangan.

Dua tahun pertama, terang Bapak dua anak itu, kelompok yang berdiri dengan 10 anggota itu, mencoba penangkaran dengan modal sendiri. Setidaknya untuk satu pasang love bird, harus merogoh Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Semakin bagus bibitnya, tentu harga yang harus ditebus untuk satu pasang love bird akan semakin tinggi. Dua tahun berjalan, RBKG mendapatkan suntikan bantuan sebesar Rp25 juta dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Santur.

Menurut Rudiyanto, bantuan itu langsung dibelikan 15 pasang love bird, yang kemudian secara bergulir dipinjamkan kepada anggota RBKG dan masyarakat Kayu Gadang. Dalam hitungan 2 hingga 3 bulan, biasanya satu pasang love bird akan menghasilkan 3 hingga 6 ekor anakan yang siap untuk dikembangkan.

Love bird sendiri memiliki nilai ekonomis yang terbilang tinggi, untuk ukuran love bird dengan usia dua bulan, setidaknya memiliki harga termurah Rp250 ribu. Harga itu bisa didapatkan langsung para penangkar dari penampung khusus love bird.

“Selanjutnya indukan dipinjamkan ke keluarga lain, untuk kembali ditangkarkan dan mendapatkan anakan untuk pengembangan. Dan begitu selanjutnya,” terang Rudiyanto yang mengaku sudah menjual love bird puluhan ekor dari hasil penangkaran.

Saat ini, Rudiyanto yang seharinya berprofesi sebagai tukang itu, memiliki tidak kurang dari 15 pasang love bird. Jika ditotal secara keseluruhan, tidak kurang dari 40 ekor love bird berkicauan di kediamannya.

Bagi Rudiyanto bersama istrinya Warisnah Tukino, penangkaran love bird dikelola bersama. Jika sang suami kerja, maka untuk memberi makan indukan dan anak yang baru menetas dapat dilakukan sang istri.

Warisnah sendiri juga sudah terbiasa dalam cakap dalam memberi makan love bird yang ada. Asalkan air dan makanan tersedia, semua kebutuhan burung-burung penangkaran itu beres dilakukan Warisnah.

Pokoknya kebutuhan makan dan air ada, semua sudah selesai. Lagi pula penangkaran love bird memberikan kesibukan tersendiri bagi Warisnah di sela-sela kesibukannya dalam mengatur urusan rumah tangga.

Dari penjualan love bird hasil penangkarannya, setidaknya pasangan Rudiyanto dan Warisnah mampu mengantongi pendapatakan minimal Rp3 juta setiap bulannya. Jika pasaran sedang ramai, pasangan ini malah pernah mengantongi penjualan di atas Rp8 juta.

Tidak hanya Rudiyanto dan Warisnah yang merasakan dampak dari penangkaran love bird. Sarmin dan istrinya Tunem juga merasakan dampak besar akan kehadiran cuitan-cuitan kecil love bird.

Bahkan, Sarmin terlihat lebih fokus, menyediakan waktu khusus bagi love bird tangkarannya, sebelum melakukan usaha ojek dan bisnis gas elpiji 3 kilogramnya. Saat ini, Sarmin juga memiliki 16 pasang love bird dan belasan anakan.

Sarmin mengaku usaha penangkaran yang dilakukannya dengan modal awal Rp1,5 juta. Seiring perkembangan, Sarmin terus menambah indukan dari hasil penjualan hasil penangkaran.

Kelompok penangkaran love bird Kayu Gadang Santur Sawahlunto sendiri sangat berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah, terutama terkait dengan penambahan bibit, pelatihan pembuatan kandang dan permodalan.

Kendala yang ada saat ini, menurut Rudiyanto dan Sarmin, kelompok kesulitan dalam memenuhi permintaan warga yang ingin menangkarkan love bird. Hal itu diakibatkan keterbatasan pasangan love bird yang dimiliki.

“Saat ini ada 7 keluarga yang antri untuk mendapatkan giliran guna melakukan penangkaran love bird. Jika saja, kelompok memiliki jumlah pasangan indukan love bird yang banyak, tentu akan lebih mudah dalam memenuhi keinginan warga untuk menangkarkan,” terang Rudiyanto.

Kedua kepala rumah tangga itu meyakini, jika separuh saja warga menangkarkan love bird, dalam hitungan satu hingga dua tahun ke depan, keinginan menjadikan Kayu Gadang sebagai Pasar Burung akan dapat terwujud.

Apalagi, keberadaan kontes burung kicau di Kota Sawahlunto yang digelar berbagai komunitas pecinta burung terus dilakukan. Setidaknya dalam satu bulan, tidak kurang dari 10 kali kontes dilakukan.

Begitu banyaknya kontes yang digelar, membuat pasar love bird turut terkerek ke permukaan. Kelompok RBKG sendiri juga melakukan dua kali kontes setiap bulannya. Begitu kontes digelar, para pecinta burung juga ikut berburu burung ke rumah penagkar.

“Kami bertekat menjadikan Kayu Gadang sebagai Pasar Love Bird tahun 2020 mendatang. Jadi dorongan dan perhatian pemerintah sangat kami butuhkan dalam mengembangkan penangkaran ini,” tambah Rudiyanto.(del)