PTBA UPO - UNESCO

Ulasan | 28 Agustus 2019
Fadilla Jusman

JIKA tidak mau disebut seluruhnya, kita sepakati saja dengan kata dominan. Situs yang didaulat menjadi Warisan Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), dominan merupakan asset dan berada di kawasan PT Bukit Asam, khususnya Unit Penambangan Ombilin (PTBA – UPO).

Hal itu tentu wajar saja, sebab label Warisan Dunia UNESCO memang diberikan untuk Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto atau sejarah pertambangan batu bara Ombilin Sawahlunto.

Situs yang menjadi Warisan Dunia UNESCO sendiri juga meliputi kawasan bekas tambang. Mulai dari lubang tambang, sarana transportasi alat angkut batu bara, kantor operasional perusahaan, hingga kawasan pemukiman pekerja tambang sendiri.

Meskipun hari ini, PT Bukit Asam Unit Pembangan Ombilin tidak lagi beroperasi menghasilkan bongkahan batu bara, namun kontribusi perusahaan tambang tertua di Indonesia itu masih tetap dinanti.

Jika sebelumnya lebih pada penyaluran dana CRS perusahaan untuk beragam kegiatan sosial, mulai dari pendidikan, sunata massal, hingga pembangunan rumah adat, jamban, dan bedah rumah. Kini tentu beban di pundak PT Bukit Asam akan semakin berat.

Apalagi, berdasarkan dokumen yang ada di Sekretariat UNESCO, dokumen nominasi dan dokumen rencana pengelolaan, PT Bukit Asam punya peran yang sangat penting, khususnya dalam perencanaan dan monitoring evaluasi dari atribut warisan dunia.

Ada peran besar yang ditunggu semua pihak dari PT Bukit Asam, khususnya dalam menjaga dan merawat situs yang telah dilabeli Warisan Dunia itu. Sebab, hanya PT Bukit Asam bersama Unit Penambangan Ombilinlah yang tahu bagaimana perawatan terhadap situs-situs yang telah ditetapkan itu.

Apalagi situs-situ itu dulunya dikelola perusahaan sebagai infrastruktur tambang yang dulunya digunakan untuk operasional, dalam menghasilkan bongkah-bongkahan emas hitam yang tersimpan di dalam bumi.

Tentunya, peran dan tanggung jawab yang ada di pundak PT Bukit Asam, terbilang sangat berat. Karena setiap tanggung jawab dan peran yang diberikan, akan dibarengi dengan kebutuhan materi di belakangnya.

Hal itu tentu sangat menarik untuk dikaji. Apalagi, di tengah suara sumbang yang menginginkan perusahaan tambang itu untuk segera angkat kaki dari ‘Kota Kuali’ dan meninggalkan asset yang ada.

Suara itu bukan tanpa tindakan, namun ada tindakan nyata. Dimana kawasan yang berada di areal milik PT Bukit Asam, sudah mulai disertifikatkan secara perorangan. Beberapa diantaranya sudah dijual dan digadai masuk ke bank.

Tak ayal hal ini membuat PT Bukit Asam harus membawa permasalahan tersebut masuk ke ranah hukum. Tidak dua tiga kali, namun kejadian yang sama, bahkan dengan orang itu itu juga, kerap berulang.

Padahal, ada kepentingan yang jauh lebih besar, dengan mendukung PT Bukit Asam untuk bertahan di tanah bekas tambang ini. Kepentingan untuk menyematkan peran dan tanggung jawab PT Bukit Asam dalam merawat Warisan Dunia yang disematkan UNESCO belum lama ini.

Jangan kita biarkan kawasan bekas tambang ini, tercabik cabik untuk kepentingan segelintir orang, yang mungkin hanya sekedar mengejar keuntungan secuil, dan mengorbankan kepentingan besar yang akan menjadi gerbong perubahan Sawahlunto ke depan. Sebab, keberadaan Warisan Dunia UNESCO tidak bisa dipisahkan dari peranan PTBA – UPO.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi