PTBA Berkomitmen Rawat Warisan Dunia UNESCO

News | 03 November 2019
Joko Pramono

SAWAHLUNTO - Meski tambang batubara tidak berproduksi, bukan berarti PT Bukit Asam tidak berperan dalam pembangunan Kota Sawahlunto.

Setidaknya itu ditunjukan dengan pencapaian Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, yang dikukuhkan UNESCO menjadi Warisan Budaya Dunia.

Klaim tersebut memang tidak mengada-ada. Sebab, sekitar 80 persen dari situs Warisan Budaya Dunia UNESCO tersebut, berada di kawasan PT Bukit Asam, dan bertahan terawat dan terjaga keberadaannya tidak terlepas dari peran PT Bukit Asam.

Bangunan bangunan yang dibangun sejak jaman Belanda, terangnya, hingga saat ini masih terawat dengan baik. Terawat dan terjaga peninggalan itu, tentu tidak mudah dan tidak murah. Sebab memiliki biaya yang terbilang tinggi.

“Tentu dikukuhkannya menjadi Warisan Budaya Dunia tidak terlepas dari upaya merawat dan menjaga situs-situs yang ditetapkan tersebut," ungkap Direktur Sumber Daya Manusia PT Bukit Asam, Joko Pramono kepada kabarita.co.

Joko Pramono menyampaikan hal itu kepada kabarita.co, usai PT Bukit Asam menerima dupikat sertifikat Warisan Dunia UNESCO, atas ditetapkannya Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto oleh UNESCO, di Baku Azerbaijan Juli lalu.

Ketika Sawahlunto menjadi kota wisata tambang yang berbudaya, sesuai dengan visi Sawahlunto yang ditetapkan pada 2001 lalu, lanjut Joko Pramono, PT Bukit Asam mengikuti ritme tersebut.

Hal itu ditunjukan dengan, terang pria kelahiran Klaten 9 Juni 1969, dengan menjadikan aset yang dikontribusikan menjadi penunjang pariwisata, hingga menjadi Warisan Budaya Dunia.

Mantan Sekretaris Perusahaan PT Bukit Asam itu menyebutkan, mulai dari lubang tambang batubara bawah tanah di Sawahluwung yang diubah menjadi tempat pendidikan, lahan pasca tambang permukaan batubara Ombilin ditata menjadi kawasan wisata. Layaknya pacuan kuda, areal kebun binatang, arena olahraga, hingga fasilitas umum masyarakat.

Jebolan UPN Veteran Jogjakarta itu menambahkan, tidak banyak kawasan bekas tambang masih mampu bertahan setelah kegiatan penambangannya tidak berjalan lagi. Sawahlunto mungkin satu dari segelintir kawasan bekas tambang yang masih bertahan.
Hal itu tentunya tidak terlepas dari komitmen perusahaan tambang batubara tertua itu dalam menjaga dan merawat bekas tambang itu.

Disebutkannya, ada banyak perguruan tinggi yang kerap mengunjungi kawasan bekas tambang ini, untuk belajar proses penambangan batubara bawah tanah.
PT Bukit Asam sendiri saat ini masih memiliki izin usaha pertambangan (IUP) di atas lahan 2.500 hektar, dari sebelumnya perusahaan yang memiliki Unit Penambangan Ombilin (UPO) itu dengan luas 15 ribu hektar.

Joko Pramono didampingi General Manager PT Bukit Asam UPO, Nan Budiman mengaku, PT Bukit Asam berkomitmen untuk terus menjaga dan merawat Warisan Budaya Dunia UNESCO.

"Insha Allah, PT Bukit Asam akan tetap berkomitmen untuk tetap di Sawahlunto, menjaga Warisan Dunia yang ada, demi Sawahlunto yang lebih baik," pungkas Joko Pramono bersama Nan Budiman.(efj)