PT LBS, Perusda Yang Tak Sesubur Namanya

Ekonomi | 06 Agustus 2019
Lembu Betina Subur

SAWAHLUNTO - Kawasan ini dulunya digadang-gadang menjadi pusat peternakan sapi potong. Tidak kurang dari Rp3 miliar modal awal, sebagai penopang bergulirnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), di akhir 2005 tersebut.

Dengan modal itu, BUMD yang didirikan di bawah bendera PT Lembu Betina Subur menggandeng perusahaan sejenis PT Lembu Jantan Perkasa, memboyong 200 ekor indukan sapi bunting berumur 2 hingga 2,5 tahun sebagai penghuni awal, di peternakan yang berdiri di kawasan yang awalnya seluas 25 hektar itu.

Dasar pendirian PT Lembu Betina Subur dipayungi dengan kesepakatan antara Pemko bersama DPRD Kota Sawahlunto yang dituangkan dalam Perda No. 6 Tahun 2006 mengenai pendiriannya.

Akta pendirianya sudah disahkan Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia Republik Indonesia. Dalam menjalankan kegiatan usahanya, PT Lembu Betina Subur dipimpin seorang komisaris, 2 orang direktur, 1 orang manajer farm dan 2 orang teknisi.

Kandang sapi dibangun dengan konstruksi kayu, besi dan pipa, atap asbes dan lantai beton, kandang terdiri atas kandang induk, kandang pedet, kandang dara, kandang menyusui, kandang jepit dan kandang karantina.

Dalam perkembangnnya, pertengahan 2006 indukan sapi PT Lembu Betina Subur mulai melahirkan anak tahap pertama. Dari 200 ekor induk bunting tersebut lahir anak sebanyak 197 ekor, 104 jantan dan 83 betina.

Dengan angka kelahiran calving rate sebesar 98,50 persen, angka yang terbilang cukup tinggi disebabkan karena ternak yang didatangkan untuk dipelihara semua sudah dalam keadaan bunting.

Namun kemudian untuk paritas kedua terus turun menjadi 169 ekor, paritas ketiga 121 ekor, hingga paritas keempat 146 ekor. Sistim pemeliharaan sapi pada Lembu Betina Subur secara intensif, sapi dikandangkan terus menerus dan makanan diberikan rumput yang ditanam sekitar kandang.

Tetapi itu semua cerita lama, kini kawasan PT Lembu Betina Subur bagai tinggal nama, bak lentera yang telah pudur. Kawasan peternakan yang bersebelahan dengan Taman Satwa Kandi dan Camping Ground itu, hilang ditelan semak.

Bahkan untuk masuk ke kawasan itu, ruas jalan yang dulu lebar bahkan dua mobil bisa berpapasan, kini lebar jalan tidak sampai 2 meter, dua motor saja harus sangat berhati-hati dan sulit untuk berpapasan.

Besi-besi yang dulu berdiri kokoh mengurung akses sapi untuk berkeliaran, kini sudah berkarat dan banyak yang hilang. Bangunan kantor yang dulu berdiri kokoh, kini atapnya sudah lapuk dan jatuh.

Dari pantauan kabarita.co, masih terdapat satu keluarga yang dulu menjadi penjaga kawasan tersebut, yang memilih bertahan di kawasan yang dikerumuni semak belukar itu.

“Sudah empat tahun terakhir tidak ada lagi sapi milik perusahaan. Yang ada lima ekor sapi dan lima ekor kambing milik kami,” ujar wanita yang mengaku bernama Hendra Fitri kepada kabarita.co.

Ibu dua anak kelahiran 1975 itu mengatakan, dulu suaminya Nasril menjadi penjaga kawasan peternakan tersebut, dengan gaji setiap bulan Rp700 ribu. Tapi kini sudah tidak lagi.

Kini menurut Hendra Fitri, di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan mengembala sapi serta kambing miliknya itu, Ia memanfaatkan kawasan gudang pakan sebagai tempat membuat batako.

Gudang pakan sendiri, dulunya sempat dijadikan tenpat untuk memproduksi kompos. Tapi kini, beberapa tiang penyangga gudang itu sudah mulai lapuk dan bersiap untuk roboh.

Kondisi yang sama juga dialami kandang-kandang besar yang dulu berdiri tegap melindungi ratusan ekor sapi itu, kini juga terlihat ringkih dan tidak berdaya karena tidak lagi dirawat.

Rumput-rumput pakan sapi yang dulu tumbuh menghijau di atas lahan belasan hektar, kini terlihat mengkerdil karena tertutup tumbuhan lain dan dijerat akar liar. Kawasan itu telah kembali ke asalnya dulu, semak belukar.

PT Lembu Betina Subur sendiri pernah dicoba untuk diselamatkan dengan menyuntikan dana segar. Setidaknya 2013, Pemerintah Sawahlunto mengucurkan suntikan dana Rp1 miliar. Sayangnya ‘darah’ segar itu tidak bisa membuatnya kembali berdiri.

Kini Lembu Betina Subur tidak lagi sesubur namanya, Lembu Betina Subur kini sudah pudur seiring tidak termanfaatkannya kawasan tersebut menjadi pusat peternakan sapi di Kota Sawahlunto.(del)