Ponpes Ababil Hadir Bagi Yang Kurang Mampu

News | 04 Februari 2019
H. Alamsyah

SAWAHLUNTO  - Menyediakan sekolah lanjutan dengan latar belakang agama bagi lulusan sekolah dasar, menjadi alasan utama bagi H. Alamsyah bersama lima temannya, dalam mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Ababil Kenagarian Lunto 18 tahun lalu.

Tepatnya 17 Juli 2000, Alamsyah bersama teman-temannya langsung mengoperasikan Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTS). Kala itu, ponpes yang kini berdiri di atas lahan seluas seperempat hektar hibah dari Kenagarian Lunto itu harus menumpang di gedung sekolah dasar setempat.

“Awalnya karena tidak memiliki gedung sendiri, kami beroperasi dengan menumpang di seolah dasar. Usai anak sekolah dasar pulang, siswa kami masih dan belajar mulai pukul 2 siang hingga 5 sore,” terang Alamsyah kepada kabarita.co, Senin (4/2).

Kondisi ponpes yang menumpang itu berjalan hingga 3 tahun, sampai pada akhirnya Yayasan Ababil Lunto mendapatkan perhatian dari pemerintah. Dengan bantuan sebesar Rp60 juta, Ababil membangun 2 ruang belajar.

Berselang setahun, Ababil kembali mendapatkan bantuan Rp120 juta, empat ruang belajarpun berdiri, yang membuat sekolah swasta yang ditujukan untuk masyarakat ekonomi lemah itu terus tumbuh dan mendapat kepercayaan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya.

Alhamdulillah, ujar Alamsyah, setelah 18 tahun berjalan, Yayasan Ababil tidak hanya mengoperasionalkan MTS, namun juga sudah memiliki Madrasah Aliyah Swasta (MAS), mesi muridnya didominasi generasi muda Lunto, namun juga ada yang berasal dari Kabupaten Sijunjung dan Pariaman.

“Mereka yang datang dari luar Lunto biasanya mereka mondok dengan membawa bekal beras dan memasak sendiri di pondok,” ujar pensiunan guru lima anak dan memiliki 16 cucu tersebut.

Dalam mengoperasikan ponpes Ababil ini, suami Arnis yang kini telah berusia 71 tahun itu, harus kuat mencari dukungan donatur. Sebab, untuk operasional ponpes yang kini telah memiliki PAUD dan RA/TK itu, membutuhkan biaya minimal Rp20 juta setiap bulan.

Saat ini, ponpes Ababil memiliki 6 guru berstatus PNS dan 21 guru honor, untuk mendukungnya ponpes mendapatkan sumber pendanaan dari dana BOS, wali murid dan donatur.

Dukungan terbesar, terang Alamsyah berasal dari donatur, dalam sebulan Alamsyah bersama rekan-rekan mampu mengumpulkan donasi hingga Rp8 juta. Donasi itu, digunakan untuk operasional dan honor para guru swasta.

Donatur sendiri tidak hanya berdomisili di Kota Sawahlunto, namun juga ada di Solok  hingga Kota Padang. “Pokoknya, kami akan terus berusaha menyediakan pendidikan yang berkarakter bagi masyarakat kurang mampu,” ujarnya.

Dalam pengembangannya, saat ini ponpes Ababil juga berencana mengembangkan bidang usaha ekonomi dengan membangun warung serba ada. “Untuk bangunannya sudah berdiri, tinggal mengisi apa yang akan dijual saja,” pungkas Alamsyah.(del)