PETERNAK OTODIDAK

Ulasan | 13 Agustus 2019
Fadilla Jusman

USAHA peternakan sapi milik perorangan maupun yang didirikan secara berkelompok, yang dikembangkan secara otodidak, terlihat lebih bertahan, ketimbang usaha pengembangbiakan sapi yang dipayungi badan usaha milik daerah, serta didanai dengan uang miliaran rupiah.

Entah faktor tanggung jawab atau lainnya, ternyata peternak otodidak dapat bertahan dari berbagai permasalahan. Meskipun secara manajemen peternakan, peternak otodidak terbilang sangat miskin akan ilmu peternakan.

Peternak otodidak lebih banyak menimba ilmu dari pengalaman, aplikasi lapangan menambah pengetahuan mereka untuk mengadu peruntungan di sisi peternakan. Bagi mereka, yang terpikir bagaimana ternak yang ada dapat makan dan minum, tanpa ada kendala, sisanya diserahkan kepada Allah SWT.

Peternak otodidak tidak pernah mengetahui takaran perbandingan berat antara karbohidrat, mineral, protein, dan nutrisi yang terkandung dalam pakan yang layak untuk menghasilkan ternak yang sehat dan berdaging tebal.

Takaran bagi peternak otodidak, hanyalah menghasilkan ternak yang dimiliki makan lahap dan kenyang. Pagi pintu kandang dibuka, ternak dilepas. Sore ternak dipanggil dan dibawa kembali untuk masuk ke dalam kandang.

Tidak ada hitungan perbandingan akan pakan yang diberikan. Semua ternak milik peternak otodidak hanya dilepaskan ke lapangan hijau, untuk terus merumput dan merumput hingga kenyang.

Tidak banyak memang yang dipikirkan peternak otodidak. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, bagaimana mereka bisa bertahan dan mampu mengembangbiakan ternak yang mereka miliki, dari yang jumlahnya hitungan jari hingga berkembang menjadi puluhan ekor.

Rasanya juga tidak masuk akal, jika dibandingkan dengan sebuah perusahaan peternakan. misalnya PT Lembu Betina Subur, perusahaan milik pemerintah yang pernah melahirkan ratusan ekor sapi berperawakan besar, bisa kalah dengan peternak otodidak, yang pengembangannya usahanya tidaklah terencana dan terinci dengan matang.

Tentunya perusahaan yang disuntik modal miliaran rupiah, dengan fasilitas kandang representatif yang tersedia, hamparan rumput di lahan belasan hektar, berikut anak kandang, penjaga peternakan, serta deretan pengurus perusahaan mulai dari komisaris hingga direktur, dapat berkontribusi terhadap pengembangan usaha peternakan.

Namun itulah kenyataannya, tidak ada jaminan pasti untuk pengembangan sebuah peternakan, bahkan yang dibangun dengan sebuah perusahaan sekalipun. Ternyata peternak otodidak mampu bertahan dan melewati badai yang datang.

Ke depan, mungkin ada baiknya, pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap para peternak otodidak, baik dalam bentuk fasilitas peternakan maupun dari sisi permodalan, Sebab, dengan membuka usaha ternak, setidaknya peternak telah meringankan beban pemerintah.

Meski peternak otodidak belum memberikan kesempatan kerja bagi orang lain, akan tetapi mereka telah bisa membuka usaha untuk mereka sendiri. Mereka telah bisa berdiri di atas usaha yang mereka bangun sendiri.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi