X

Pedagang Sate Berharap Ekonomi Masyarakat Meningkat

Ekonomi | 08 Februari 2019
Pedagang Sate Madura

SAWAHLUNTO – Dimana ada kemauan, di situ ada jalan. Dua puluh dua tahun lalu, 1997, Muhammad Ali (40) jauh-jauh membawa gerobak dari Jambi, guna memulai usaha sate khas Madura di Kota Sawahlunto.

Jatuh bangun Kota Sawahlunto, dirasakan Bapak tiga anak itu, yang berdampak langsung terhadap usahanya, baik di zaman orde baru hingga zaman reformasi.

Suami Siti (36) itu merasakan usaha satenya bergerak naik, ketika Sawahlunto dipimpin Amran Nur. Memang saat ini, suasana di kawasan pusat kota Sawahlunto tidak seterang saat ini, namun omset jual belinya terbilang tinggi.

Memang, terang Ali dengan logat Maduranya, omset penjualan tertinggi ketika tambang batubara masih aktif. “Waktu itu, ketika tambang aktif, dalam semalam bisa 20 ekor kambing yang kita sate,” ujar Ali ketika ditemui kabarita.co.

Kini, ujar ayah dari Susi Susanti, Lailatul Jannah, dan Aishila itu, daya beli masyarakat sangat jauh turun, ekonomi yang anjlok dibuktikan, dalam semalam hanya satu ekor kambing ditambah 5 ekor ayam.

Penjualan tertinggi, lanjutnya, ketika lebaran, dimana kebutuhan kambing bisa mencapai 5 ekor dalam semalam. Bagi Ali, lima tahun terakhir, merupakan masa turunnya ekonomi masyarakat Sawahlunto.

Ke depan, Ali sangat berharap, hadirnya pemimpin baru di Kota Sawahlunto, dapat membawa perubahan yang signifikan, terutama dalam meningkatkan ekonomi masyarakat, yang akan berujung pada peningkatan daya beli masyarakat.(del)