PASAR REMAJA

Ulasan | 03 September 2019
Fadilla Jusman

PANJANGNYA mungkin tidak lebih dari tiga kali panjang lapangan bola. Ketika Tambang Batubara Ombilin (TBO) yang kini telah berada di bawah bendera PT Bukit Asam jaya, masyarakat di kawasan bernama Pasar Remaja ini, juga turut merasakan kejayaannya.

Petak-petak rumah dan toko yang berdiri sejak kolonial Belanda ada itu, menjadi salah satu saksi bisu, yang mengikuti perkembangan Sawahlunto dari masa pendudukan Belanda, hingga kini menjadi bagian dari Warisan Dunia yang disemati United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), awal Juli lalu.

Dulu semuanya ada di kawasan ini, mulai dari toko jamu, toko emas, bioskop, bahkan pabrik minuman kemasan botol, hingga tukang gigi, berjejer dari ujung ke ujung di kawasan pasar sepanjang tiga ratus hingga empat ratusan meter tersebut.

Menurut cerita, kawasan Pasar Remaja ini berdiri sejak 1918, tidak lama setelah Belanda mulai menggali batu bara di lembah yang berbentuk kuali tersebut. Atau sekitar 30 tahun lebih muda dibandingkan dengan hari jadinya Kota Sawahlunto.

Beberapa sumber mengatakan, Pasar Remaja dulunya bernama Pasar Usang. Ketika Sawahlunto dipimpin Walikota Shaimoery 1971 – 1983, nama Pasar Usang dirubah menjadi Pasar Remaja, demi mendorong perekonomian kawasan tersebut.

Kala itu, Toko Mas Mahkota satu-satunya toko mas di kawasan tersebut. Berikutnya juga ada tukang gigi merek Fen Cin Sang, milik orang China, toko jamu, bioskop, rumah makan, penjual es di rumah Fak Sin Kek, pabrik limun juga pernah berdiri untuk memenuhi kebutuhan karyawan TBO.

Begitu pula ketika Walikota Amran Nur memimpin kota seluas 279,5 kilometer persegi itu selama dua periode. Amran Nur malah mendorong tampak depan Pasar Remaja itu kembali ke bentuk aslinya.

Struktur banguan Kota Sawahlunto saat ini tidak jauh berbeda dengan masa lalu. Kecuali pada akhir tahun 1970-an pasar itu diperbaharui sedikit, tanpa merombak wajah struktur dasarnya. Fak Sin Kek sendiri tetap kokoh berdiri, tanpa ada perubahan, terkecuali cat yang semakin dipertajam.

Bioskop yang dulu menjadi pusat keramaian dan hiburan bagi masyarakat Sawahlunto di penghujung pekan, kini telah mengalami perubahan, diubah menjadi destinasi wisata 4 Dimensi, yang dapat dijadikan salah satu kunjungan bagi wisatawan. Sedangkan sisanya, tetap bertahan seperti sedia kala.

Setidaknya Rp1 miliar dana yang didapatkan dari pemerintah pusat, digelontorkan untuk mengembalikan tampak depan kawasan tersebut ke bentuk semula. Setidaknya, masing-masing petak mendapatkan Rp10 juta untuk renovasi.

Seiring dengan visi Sawahlunto menjadi Kota Wisata Tambang Berbudaya, sempat ada keinginan nama menjadi Pasar Remaja di kembalikan ke Pasar Usang, jika kota mau dikembangkan menjadi kota pariwisata. Menurut pendapat sebahagian masyarakat hendaknya dikembalikan ke nama aslinya, agar kota itu benar-benar bernuansa kota tua kota tambang.

Juga sempat muncul wacana menjadikan kawasan Pasar Remaja menjadi pusat kerajinan dan cenderamata, yang bebas dari kendaraan bermotor. Kawasan itu dijadikan areal berjalan kaki bagi wisatawan.

Keinginan itu tidak terlepas dari keberadaan Pasar Remaja atau Pasar Usang di masa dulu, sebagai bagian dari kota tua, pusat kegiatan pekerja tambang di kala senja, ketika aktivitas pekerja beranjak dari lubang tambang.

Kini Pasar Remaja tidak lagi memiliki tukang gigi, pablik minuman botol, maupun bioskop tempo dulu, namun demikian kawasan Pasar Remaja masih tetap menunggu arah, kebijakan pemerintah maupun pengelola Warisan Dunia, akan dijadikan apa kawasan tersebut. Masyarakat tentu menunggu.( Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi