P A N G G U N G

Ulasan | 09 Juli 2019
Fadilla Jusman

BAHAGIA bercampur haru menyelimuti rasa sebagian besar masyarakat Sawahlunto, Sumatra Barat, ketika 21 negara anggota Komite Warisan Sidang ke 43, di Baku, Azerbaijan, secara penuh menetapkan Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, sebagai Warisan Dunia United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Kabar bahagia itu memang sangat dinantikan. Melalui siaran langsung youtube, masyarakat Sawahlunto mengikuti sidang komite, yang mensidangkan 38 calon warisan dunia yang diajukan.

Dalam hitungan menit, kabar itu menyebar bagaikan hembusan angin, masuk dari media massa website, portal hingga media sosial. Mulai dari facebook, twitter, whats’app, ucapan selamat atas penetapan kawasan sejarah bekas tambang batu bara Ombilin Sawahlunto itu pun langsung mengalir bak air.

Tidak hanya Sawahlunto Sumatra Barat saja, Indonesia pun turut berbahagia. Sebab, pengakuan berskala internasional itu baru berlaku untuk beberapa situs saja di tanah nusantara.

Sebut saja Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorenz (1999), Hutan Tropis Sumatra (2004), Taman Nasional Ujung Kulon (1991), keempatnya masuk  dalam kategori alam.

Sedangkan untuk kategori budaya, ada Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran (1996), dan Sistem Subak di Bali (2012). Kini, sejarah bekas tambang Ombilin memantapkan diri sejajar dengan kedelapan para pendahulunya itu.

Sawahlunto tentu boleh berbahagia. Pengakuan ditetapkannya Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto sebagai Warisan Dunia merupakan tiket bagi kota berpenduduk 65 ribu jiwa lebih ini dari UNESCO, dalam menggaet mata dunia.

Kota seluas 279,5 kilometer persegi ini mendapatkan panggung tersendiri, di tengah kompetisi pengembangan pariwisata lokal, nasional maupun internasional. Sawahlunto mendapatkan panggung yang disorot dan dipromosikan langsung pihak UNESCO.

Setidaknya penetapan Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, sebagai Warisan Dunia UNESCO, akan menjadi catatan penting bagi wisatawan mancanegara dalam agenda wisata.

Sawahlunto akan masuk menjadi salah satu tujuan penting wisatawan mancanegara, terutama mereka yang cinta akan sejarah. Akhirnya, wisatawan yang berkunjung ke kota bekas tambangpun akan semakin beragam, tidak hanya mereka yang membawa rupiah, namun juga dolar.

Berada di atas panggung, tentu Sawahlunto dituntut bisa tampil lebih baik, sesuai ketentuan yang berlaku bagi Sawahlunto ketika berada di atas panggung. Mendapatkan kesempatan untuk dipromosikan UNESCO, Sawahlunto juga harus membarenginya dengaan upaya pelestarian, menjaga dan melestarikan Warisan Dunia yang telah ditetapkan.

Di atas panggung UNESCO ini, Sawahlunto dapat memanfaatkannya menjadi pasar dari segala macam produk yang dihasilkan. Sebab, label UNESCO akan melekat pada segala macam produk yang dihasilkan masyarakat.

Panggung UNESCO ini, tentunya juga diharapkan mampu mendorong investor lebih percaya diri untuk berinvestasi di tanah kelahiran Mahaputra Muhammad Yamin dan tokoh pers Adinegoro ini.

Seiring dengan bertumbuhnya kunjungan wisatawan, investasi akan rumah makan, restoran, penginapan akan ikut terdorong. Sentra-sentra kerajinan masyarakat akan turut bertumbuh.

Semakin banyak orang yang datang ke Sawahlunto, tentu akan semakin banyak uang yang akan berputar dalam menggerakan roda perekonomian, ujungnya kesejahteraan masyarakat akan ikut terangkat.

Tentu kesempatan itu juga menuntut kesiapan masyarakat untuk menjaga, merawat dan melestarikan situs Warisan Dunia, masyarakat harus turut berperan dalam menjaga keberlangsungan Warisan Dunia UNESCO itu sendiri.

Semoga saja panggung besar internasional yang diberikan UNESCO ini dapat mengantarkan Sawahlunto, Sumatra Barat dan Indonesia lebih maju, terutama dalam bidang pariwisata, yang berujung pada meningkatnya ekonomi masyarakat. Amiin amiin yarobbal alamiin.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi