Zohirin Sayuti Pemateri Lanskap Kota Tua Bersejarah

News | 08 November 2018
Zohirin Sayuti Pemateri Lanskap Kota Tua Bersejarah

BANGKA BELITUNG - Pelestarian dan pengembangan Kota Sawahlunto sebagai kawasan kota tua bersejarah, mendapat sorotan nasional, yang ditunjukan dengan tampilnya Kota Sawahlunto sebagai satu-satunya pemateri dengan latar belakang pemerintah daerah, dalam Pelatihan Lanskap Kota Bersejarah, yang diselenggarakan di Museum Timah Indonesia, Bangka Belitung. Jika sebelumnya, Walikota Deri Asta menyampaikan ekspose tentang pelestarian dan pengembangan kota tua bersejarah di Cina, dalam ajang Organization World Heritage Cities (OWHC), kini disusul Wakil Walikota Sawahlunto, Zohirin Sayuti, tampil sebagai pemateri dalam Pelatihan Lanskap Kota Bersejarah di Museum Timah Indonesia – Muntok, Bangka Belitung. Zohirin Sayuti memaparkan tentang kinerja Pemerintah Sawahlunto, terkhusus pola kepemimpinan dalam langkah-langkah pelestarian, serta pengembangan kota tua (heritage town). Pria yang hampir 10 tahun memegang amanah sebagai Sekretaris Daerah itu, bercerita panjang lebar tentang trik-trik pendekatan dan sosialisasi pemerintah, terhadap masyarakat agar mendukung program-program terkait kota tua tersebut. Istimewanya, Wakil Walikota Sawahlunto ternyata menjadi satu-satunya pemateri dari pihak pemerintah daerah (Pemda). Hal ini terkait dengan pengakuan dan apresiasi terhadap konsistensi dan prestasi Pemerintah ‘Kota Arang’, dalam melestarikan kota tua, dan menjadi nominator Warisan Dunia versi UNESCO. Kepala Seksi Peninggalan Bersejarah Dinas Kebudayaan, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Sawahlunto, Rahmat Gino, mengungkapkan, kegiatan itu diselenggarakan di Museum Timah Indonesia – Muntok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. “Agenda ini bertepatan dengan ulang tahun Museum Timah Indonesia – Muntok yang menginjak usia lima tahun, di 7 November. Kegiatan ini terlaksana dengan kerjasama panitia bersama Pan – Sumatera for Heritage Conservation (PAMSUNET),” kata Gino. Ditambahkan Rahmat Gino, para peserta pelatihan itu terdiri dari para pelaku pelestarian kota tua, Ikatan Arsitek Indonesia, Akademisi dari UI, USU, Trisakti, Udayana Bali, serta komunitas budaya di Jakarta, Bogor, Semarang, Bali, Medan, Palembang dan lainnya. Dimana para peserta didominasi lulusan luar negeri, tepatnya Belanda. Dari mancanegara, terang Gino, hadir utusan Belanda, Cultural Heritage Agency dan Ahli Lanskap Rotterdam Government City. Kemudian dari Malaysia, yaitu Komunitas Penang Heritage. Semua antusias mendengar pemaparan dari pak Wawako Zohirin.(rel)