Tomy Aprianto, Berawal dari Kolam Pancing

Inspirasi | 13 Maret 2017
Tomy Aprianto

LAPSEG – Semangat menjadi modal utama bagi Tomy Aprianto, dalam menjalankan usaha yang bergerak jasa mainan anak-anak di kawasan Lapangan Segitiga Kota Sawahlunto.

Dengan keterbatasan kakinya yang cacat, diamputasi akibat kecelakaan Oktober tahun 1999 silam, dibantu dua tongkat penyangga yang selalu setia menemani Tomy berjuang keras sebagai pengusaha dengan ‘tiga kaki’ dalam mengembangkan usaha mainan anak-anak.

Bermodal awal satu juta rupiah, tahun 2014 lalu, Tomy mengawali usaha kolam pancing anak-anak. Kolam seluas 8 meter persegi, dengan tinggi tak sampai selutut orang dewasa, dirangkainya dari papan dan kayu berbungkus terpal.

Ternyata kolam pancing memiliki daya tarik tersendiri bagi anak-anak yang berkunjung ke Lapangan Segitiga. Usaha anak pertama dari lima bersaudara, buah hati pasangan Arizul (72) dan Windarsih (65) itu, mulai menghasilkan uang.

Hanya dalam hitungan satu tahun, lajang kelahiran 1 April 1983 itu, dengan keuntungan yang dikantonginya, menambah mainan baru, yakni wahana mandi bola. Masih di lokasi yang sama, Tomy pun memiliki dua usaha mainan anak-anak.

Melalui dua wahana yang dimiliki, usaha mainan anak milik Tomy semakin maju dan keuntungan yang didapatkannya pun semakin meningkat. Tomy pun kembali memperluas usaha.

Dengan modal hampir Rp15 juta, Tomy menambah usaha mainan ketiganya, berupa kereta mini bertenaga listrik. Tiga wahana mainan anak-anak terus memutar pemasukan bagi Tomy.

“Alhamdulillah, rata-rata Rp100 ribu untuk hari biasa dari senin hingga kamis, untuk akhir pekan bisa tiga hingga lima kali lipat, bisa untuk membantu memenuhi kebutuhan orang tua,” ungkap Tomy.

Asalkan tidak hujan, Tomy yang membuka lapaknya mulai lepas Ashar dan berakhir ba’da Isya itu, dipastikan dapat mengantongi pemasukan dari anak-anak yang menggunakan mainannya.

Rezeki Tomy akan melimpah ketika libur tiba, baik itu libur lebaran maupun tahun baru. Betapa tidak, dalam sehari, warga Lubang Tembok Kelurahan Saringan itu, bisa maraup pemasukan jutaan rupiah.

Dari rezeki yang diperolehnya, selain untuk memenuhi kebutuhannya bersama ibu dan keluarga, Tomy mampu mengkredit dua unit sepeda motor metik, yang kini sudah lunas proses kreditnya.

Tomy memang menjadi andalan bagi keluarganya. Sebab, Arizul, sang ayah tidak lagi menjadi bagian dari keluarga, karena sudah bercerai dengan sang ibu Windarsih, sejak 12 tahun silam.

Agaknya hal itu pula yang membuat Tomy belum memutuskan untuk bekeluarga. Selain trauma akan perceraian orang tuanya, tanggungan keluarga sang ibu juga terbilang besar dimana dalam rumah yang ditempati terdapat 8 anggota keluarga.

Tabrakan yang dideritanya, ketika mengendarai sepeda motor Oktober 1999, membuatnya tidak banyak pilihan. Sempat melanjutkan pendidikan di sekolah kejuruan, karena tidak hobi dengan jurusan yang dipilih, Tomypun mengakhiri pendidikannya di bangku kelas satu.

Sebelum mengembangkan usaha wahana mainan anak, masih di Lapangan Segitiga, Tomy sempat menjadi pedagang pakaian. Namun, karena jual beli yang tidak terjadi setiap hari, membuat Tomy harus gulung tikar.

Usaha dagang pakaian yang sempat dilakoni Tomy selama setahun lebih itu, dimodali melalui bantuan Pemerintah Kota Sawahlunto. Semenjak  gulung tikar, Tomy berusaha mencari usaha lain, yang tidak membutuhkan modal besar, namun bisa memberikan penghasilan setiap hari.

Perjalanan usaha mainan anak-anak yang dilakoni Tomy, bukan tidak pernah mendapat masalah. Beberapa kali alat perlengkapan usaha mainannya diamankan Satuan Polisi Pamong Praja.

Menghadapi hal itu, Tomy hanya bisa pasrah. Dengan kondisi kakinya yang cacat, Tomy tidak bisa melakukan perlawanan untuk mempertahankan perlengkapan mainan anak yang dimilikinya.

“Saya juga tidak bisa melawan petugas, karena mereka juga menjalankan tugas yang diamanahkan. Jalannya, ya saya datang ke kantornya, untuk meminta kembali barang-barang milik saya,” lirihnya.

Kini, meski telah memiliki tiga wahana permainan anak, Tomy memasang mimpi untuk memiliki wahana istana balon, yang jika dihitung-hitung membutuhkan modal sedikitnya Rp50 juta.

Tomy yakin, wahana istana balon jika beroperasi, khususnya di ketika libur lebaran dan tahun baru, akan mampu mengembalikan modal hanya dalam hitungan satu tahun saja.

Namun, keterbatasan dana, membuat Tomy harus bersabar dalam menggapai mimpi untuk memiliki istana balon. “Kalau ada yang mau investasi ataupun memberikan pinjaman lunak, saya sangat berminat,” terang Tomy sambil memperbaiki posisi tongkat penyangganya.(fdl)