Soto PAMI Silungkang Non Stop 24 Jam

Ekonomi | 04 November 2018
Kawasan Kuliner Soto PAMI SIlungkang

SILUNGKANG - Sinar puluhan lampu yang terang benderang, seolah memberikan harapan akan sebuah kehangatan bagi pengendara yang melintasi Cintomoni Silungkang, di kala malam, di ruas lintas Sumatera, ruas jalan yang membelah bagian selatan Kota Sawahlunto.

Soto PAMI. Papan merek dagang itu tampak kokoh berdiri, menyambut pelanggan dengan menyediakan berbagai kuliner untuk pengendara yang melintas. Mulai dari soto, sup, dan mie goreng, serta nasi goreng, hingga beragam aneka minuman hangat dan jus.

“Kami buka 24 jam penuh setiap hari. Sebab, setiap saat pengendara yang berlalu lalang di ruas jalan Lintas Sumatera ini, pasti membutuhkan makan dan minum,” ujar Fahmi Zaini, pria 52 tahun, warga Silungkang, Minggu (4/11).

Aneka kuliner yang tersedia itu, memang bisa didapatkan penikmatnya dengan harga yang terjangkau. Dengan beragam variasi harga, namun yang pasti untuk satu porsi nasi sup atau soto dilengkapi nasi, pengunjung cukup mengeluarkan uang Rp22 ribu.

Harga Rp22 ribu itu, merupakan harga kuliner tertinggi di warung Soto PAMI Silungkang. Soto dan sup menjadi kuliner khas di kawasan tersebut. Sedangkan sisanya, juga ada teh telur hingga pinang muda.

Soto PAMI Silungkang juga merupakan satu-satunya dari puluhan penyedia kuliner di ruas lintas Sumatera Silungkang, yang mampu menampung hingga 200 pengunjung sekaligus, serta dilengkapi dengan akses wifi gratis.

Tidak hanya itu, areal parkirnyapun bisa menampung belasan bus dan ratusan kendaraan pribadi berukuran kecil. Kalau untuk sepeda motor, pengunjung tidak perlu khawatir lagi, sebab parkirannya sangat luas.

Bagi bapak dua anak kelahiran 30 Juni 1966 itu, daya tampung pengunjung, fasilitas wifi, dan kenyamanan untuk parkir menjadi syarat kedua dalam mengembangkan usaha kuliner. Sebab, ketiganya merupakan pelayanan yang menjadi penilaian mereka yang berkunjung.

“Sedangkan syarat utama, tetap saja cita rasa dari masakan kuliner yang disajikan. Dengan cita rasa yang dimiliki, pengunjung tentu akan singgah berkali-kali di Soto PAMI. Asal lewat Silungkang, mereka tentu akan berfikir untuk singgah di sini,” ujar Fahmi.

Dalam memberikan pelayanan bagi pengunjung, Soto PAMI setidaknya didukung dengan 18 karyawan, yang siap dengan sigap melayani dan menyediakan semua keinginan mereka yang datang, di warung sepanjang lebih dari 50 meter itu.

Berkembangnya Soto PAMI di ruas lintas Sumatera, tidak berjalan begitu saja. Sejak merintis usaha kuliner soto, Fahmi Zaini bersama Ermita (41) 10 tahun lalu, Soto PAMI satu kali berpindah lokasi usaha.

Awalnya, menurut Fahmi dan Ermita, tahun 2008 mereka mendirikan usaha dengan merek yang sama di kawasan Lurah Cipuik Silungkang dibantu 2 karyawan. Namun karena keterbatasan lahan, khususnya perparkiran, Soto PAMI sulit berkembang.

Hanya bertahan 5 tahun, 2013 Fahmi Zaini bersama sang istri, memboyong usaha mereka pindah ke kawasan Cintomoni. Kali ini, dengan lahan yang terbilang sangat luas, Fahmi dan Ermita mengawali usaha mereka dengan warung berlantai kayu.

Semangat dan cita rasa yang dimiliki, membuat Soto PAMI mendapat tempat tersendiri di tengah penikmat kuliner. Secara perlahan, Fahmi dan Ermita mulai mengembangkan usaha, dengan menambah berbagai fasilitas, hingga perbaikan bangunan, dan pengembangan daya tampung parkir.

Bagi pria yang mengaku sebelum terjun ke bisnis kuliner ini, pernah mencoba peruntungan di jual beli souvenir Jawa dan Sumatera itu, selagi dunia masih berputar, bisnis makanan dan minuman akan terus berkembang.

Dengan bisnis kulinernya, Fahmi dan Ermita bisa memberikan pendidikan bagi kedua anaknya, Bilqis Fahira Rahmi dan Mutia Sakinah. Bisqis saat ini tengah mengikuti pendidikan di jurusan hukum Universitas Andalas. Sedangkan Mutia, masih duduk di kelas X SMA.

Meski nantinya dalam pendidikan keduanya tidak mendalami ilmu yang terkait dengan kuliner, Fahmi dan istrinya tetap mempersiapkan kedua anaknya sebagai regenerasi dalam pengembangan usaha Soto PAMI.

Fahmi melihat, peluang pengembangan usaha kuliner yang kini ditempuhnya, masih sangat terbuka lebar. Tidak hanya karena berada di ruas lintas Sumatera, namun berada di Kota Sawahlunto memberikan poin penting dalam usaha kuliner.

“Pengembangan sektor wisata yang dilakukan Kota Sawahlunto, memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan usaha kuliner. Kalau boleh dibilang, antara wisata dan kuliner saling mengisi dan saling melengkapi,” katanya.

Tanpa ada kuliner, pengembangan pariwisata akan sulit dilakukan. Begitu juga dengan usaha kuliner, tanpa adanya pariwisata juga akan sulit untuk mendapatkan pelanggan. Keduanya saling mempengaruhi.

Di luar usaha, Soto PAMI sendiri juga tergerak dengan permasalahan sosial masyarakat. Setidaknya itu ditunjukan ketika peristiwa gempa Palu Donggala Oktober lalu. Karyawan Soto PAMI yang kini berjumlah 18 orang itu bersama Fahmi dan Ermita ikut turun mengumpulkan donasi bagi korban gempa.(ril)