Kolok Nan Tuo Kembangkan Sukun

Ekonomi | 06 November 2018
Sukun

KOLOK NON TUO - Tidak kurang dari 70 hektar lahan ulayat Nagari Kolok Sawahlunto, yang berada di daerah administrasi Desa Kolok Nan Tuo, akan ditanami dengan tanaman sukun. Program itu, akan dilaksanakan melalui kerja sama dengan Balai Pengkajian Tanaman Pertanian (BPTP) dan Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Sumbar.

Lahan yang akan menjadi sentra sukun itu, berada pada tanah ulayat dan kawasan hutan lindung. Setidaknya kini, terdapat seribu hektar lahan yang disiap untuk dimanfaatkan guna pengembangan sektor pertanian.

Desa Kolok Nan Tuo sendiri kini tengah dipersiapkan menjadi Desa Mandiri Pangan,. Sebagai langkah awal, akan dikembangkan tanaman sukun di tanah ulayat nagari. Pemerintah Desa Kolok Nan Tuo pun minta kajian BPTP dan Balitbu Sumbar.

Masih begitu luasnya lahan tanah ulayat nagari itu, pihak Desa Kolok Nan Tuo melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sejati, juga akan mengembangkan tanaman serai wangi, dalam satu hamparan.

“Seiring mengembangkan sukun, melalui BUMDes Sejati juga akan dilakukan pengembangan tanaman serei wangi di satu hamparan," ujar Kepala Desa Kolok Nan Tuo, Adeks Rosyie Mukri, Selasa (6/11).

Mantan Ketua PWI Bukittinggi itu mengatakan, sekitar 1.000 hektar tanah ulayat dan kawasan hutan lindung sudah diserahkan, dan akan dikelola serta ditanami. Sehingga dapat memberi nilai ekonomi bagi masyarakat desa.

Peneliti BPTP Sumbar, Ismon mengatakan hamparan lahan  yang ada di Nagari Kolok, memiliki kondisi tanah yang memungkinkan untuk ditanami Sukun. Namun tidak bisa semua. Hal itu karena beberapa lahan agak cadas yang berada di ketinggian.

“Hanya di lahan datar dan kemiringan yang tidak begitu curam bisa ditanami Sukun. Lahan yang agak cadas tetap bisa ditanami dengan tanaman konservasi,” ujar Ismon.

Dengan lahan pertanian yang luas itu, lanjut Ismon, sebaiknya ditanami serewangi dan sukun saja, dalam satu hamparan. Sehingga pengawasan dan pengelolaan lebih mudah. Selain itu, sukun yang masa berbuah sekitar tiga tahun di sela tanaman itu, juga bisa dilakukan tumpang sari dengan lainnya. “Jadi, sangat memungkinkan dikembangkan petani,” pungkasnya.(dul)