MENYULAM ALAM

Ulasan | 26 November 2019
Fadilla Jusman

MUNGKIN kita sudah tidak terlalu ingat, kapan terakhir kali kita melihat dari dekat satwa liar, layaknya rusa, kancil, kijang, burung enggang, ayam hutan, udang dan ikan atau sejenisnya di alam sekitar kita.

Jika tidak salah, mungkin terakhir kali melihat rusa atau ayam hutan, di hutan belakang rumah, saat masih berusia sekitar 8 tahun. Waktu itu, di hutan belakang rumah masih hijau.

Bahkan sungai yang tidak jauh dari rumah masih sangat jernih, hutan alam, dan hutan karet, hingga pohon kemiri dan kopi, dapat dengan mudah ditemui. Teman-teman yang kerap mencari kemiri untuk tambahan uang jajan, juga kerap meminum air langsung dari akar-akar pohon.

Tiga puluh tahun kemudian, tempat itu telah berubah. Sungai sudah rusak, kering, dan tercemar. Kondisi seperti ini berlangsung di berbagai belahan planet bumi. Entah sudah menjadi hukum alam, entah mengikuti trend zaman.

Program PBB untuk Lingkungan (UNEP, 2019) merilis laporan ‘Global Environmental Outlook 6: Healthy Planet Healthy People’, tentang kondisi lingkungan yang mencakup kondisi global alam asli di planet bumi, termasuk kondisi udara, laut, air bersih, lahan dan tanah, keanekaragaman hayati, dan kebijakan.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa apa yang dilakukan setiap bangsa ternyata tidak berkelanjutan. Hal ini dibuktikan dengan adanya pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan, termasuk pola perdagangan yang dilakukan antar-kawasan.

Laporan itu menyimpulkan ketahanan ekologi, sosial, dan ekonomi akan menurun dalam beberapa dekade mendatang serta pada ujungnya akan berdampak negatif terhadap trend global yang tidak dapat dikendalikan.

Polusi air bersih terjadi di kawasan pertanian, dari permukaan hingga ke air tanah, yang menyebabkan air berkualitas rendah. Di Sawahlunto sendiri, hujan yang terjadi dalam hitungan beberapa jam, mampu mendatangkan banjir bandang, setali dengan tanah longsor.

Begitu banjir bandang membawa air yang tidak terkendali itu, membuat rumah-rumah masyarakat rusak, sawah yang semestinya memasuki musim panen dilanda air tanpa ampun, hewan ternakpun ikut menjadi korban.

Ketika itu telah terjadi, tidak satupun yang mau hadir atau tampil sebagai penanggung jawab. Semua dipulangkan kembali kepada alam, dengan menyebutnya sebagai bencana alam.

Kawasan aliran air, layaknya sungai, rusak tanpa bisa diperbaiki. Apalagi, beragam kegiatan penambangan tak terkendali yang terjadi di aliran sungai, baik galian C maupun tambang emas, ikut andil membuat bahu sungai tidak lagi bisa menahan air yang mengalir deras.

Untung sementara yang dinikmati masyarakat masa kini, bisa menjadi musibah bagi masyarakat masa depan. Alam yang tidak terjaga dengan baik, tentu akan membuat masyarakat yang menjadi penghuninya juga ikut tidak tentram.

Segelintir masyarakat dapat menikmati kekayaan dari eksploitasi yang dilakukan dalam hitungan sesaat. Namun, musibah juga turut hadir membayangi, menghantui masyarakat di masa-masa mendatang.

Kawasan yang dieksploitasi dibiarkan bergitu saja, porak poranda. Tidak ada lagi humus yang dapat dijadikan titik awal hadirnya tumpuhan. Yang tertinggal hanyalah bebatuan.

Apalagi, upaya untuk menanam atau menyulam kembali alam yang telah terekspoitasi tidak berbanding lurus dengan kegiatan eksploitasi itu sendiri. Yang terancam adalah masyarakat bersama, bukan hanya masyarakat yang mengeksploitasi saja.

Ada baiknya, pemerintah bersama masyarakat untuk bergerak dan kembali menyulam alam yang telah rusak ini. Mengembalikan kondisi alam dengan gerakan menanam di setiap dusun, desa dan kelurahan, hingga kecamatan yang ada.

Sehingga alam yang akan ditempati generasi penerus ini akan kembali menjadi hijau, alam kembali rindang, alam yang kaya dengan keanekaragaman satwa, alam yang bersahabat dengan masyarakat yang menjadi penghuninya.

Jangan sampai generasi mendatang hanya mengetahui satwa yang dulu pernah ramai di alam ini, hanya dalam bentuk gambar di atas kertas. Namun generasi penerus juga dapat menjumpainya di alam sesungguhnya.(Fadilla Jusman)