Mengintip Budidaya Lele Tunas Muda Muaro Kelaban

Ekonomi | 08 Februari 2019
Budidaya Lele Tunas Muda

SAWAHLUNTO - Kelompok pembudidaya ikan lele ini, mungkin satu dari sedikit usaha budidaya ikan yang layak menjadi rujukan bagi desa yang ingin membangun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di sektor perikanan.

Kelompok yang hanya beranggotakan belasan kepala keluarga itu, tidak hanya mampu bertahan dari masalah ketersediaan bibit, namun juga bisa menjaga diri dari fluktuasi harga pasar, hingga pemasaran produksi sendiri.

Permasalahan yang kerap menimpa pembudidaya ikan itu, mereka atasi sendiri. Caranya, mulai dengan memiliki indukan sendiri, pengolahan hasil produksi, hingga kemasan dalam menarik dan mempertahankan pasar.

Berada di kawasan yang memang terbilang jauh dari sumber dan aliran air, itulah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdatan) Tunas Muda, Desa Muaro Kelaban Sawahlunto. Sejak berdiri 2015 lalu, hingga kini terus melakukan pengembangan usaha dan mendapat lirikan dari warga.

Kelompok yang tersebar di Dusun Balai-Balai dan Dusun Pintu Lubang Desa Muaro Kelaban itu, terdiri dari 11 kepala keluarga, dengan 68 petak kolam lele, baik tembok maupun kolam terpal.

Awalnya, usaha budidaya ikan lele itu dirintis Indra Sukriani Putra, lulusan D3 Politeknik Universitas Andalas, dari hasil belajar dari temannya di Kota Padang. Indra merupakan urang sumando masyarakat Muaro Kelaban, di Dusun Balai-Balai.

Saat itu tahun 2011, Indra panggilan akrab Bapak dua anak Kelahiran Bukittinggi 9 April 1985 silam tersebut, sudah bosan menjadi karyawan, ingin bebas dan memilih untuk mandiri dengan membangun usaha sendiri.

Berawal belajar dari seorang teman pengusaha budidaya lele di Kota Padang, Indra pun memilih mencoba untuk mengembangkan budidaya ikan lele dengan memanfaatkan halaman depan rumah sang mertua, dengan membuat kolam terpal.

“Saya yakin saja, sebab teman tempat saya belajar juga mengembangkan budidaya lele dengan kolam terpal,” ujar Indra Sukriani Putra kepada kabarita.co, di belasan kolam lele miliknya, Jumat (8/2).

Sesuai dengan hasil belajar yang dilakukannya, usaha lele yang dilakukan ternyata membuahkan hasil. Lambat laun, usaha budidaya lele milik Indra mulai dilirik masyarakat sekitar.

Setahun berselang, 2012 beberapa masyarakat mulai ingin tahu dan belajar, serta ikut mengembangkan usaha yang sama. Bagi Indra, keinginan masyarakat tersebut bukanlah sebuah masalah. Sebab, pasar ikan lele masih sangat besar.

Kolam-kolam lele terpal pun mulai tumbuh di Dusun Balai-Balai dan Dusun Pintu Lubang yang posisinya bertetangga. Seiring dengan tumbuhnya pembudidaya lele, produksi lele pun mulai meningkat.

Waktu itu, kenang Indra, bersama dengan beberapa masyarakat pembudidaya, masih bergantung pada pasar yang dikelola tengkulak maupun pengepul. Hasil budidaya lele dibawa pengepul, uang penjualan lele diterima setelah pengepul pulang dari pasar.

Dengan kondisi yang kurang menguntungkan itu, membuat harga lele yang diterima pumbudidaya kerap berada jauh dari harga pasar. Harga tertinggi yang ditawarkan pengepul, hanya pada kisaran Rp14 ribu per kilogram, sangat tipis keuntungan yang dapat dinikmati pembudidaya.

Selain itu, Indra dan teman-teman juga pernah ditipu pengepul, yang tidak membayar belasan juta rupiah hasil produk lele yang mereka bawa. Alhasil, pembudidya terpaksa mencari modal kembali, untuk memulai usaha dari awal.

Mengatasi masalah tersebut, pria yang pernah mengemban amanah sebagai Direktur BUMDes Desa Muaro Kelaban itu, mulai memutar otak. Lele yang dihasilkan tidak langsung dilempar ke pasar.

“Untuk meningkatkan nilai ekonomis, kami mulai belajar mengolah lele. Salah satu mengembangkan produk hilirisasi berupa lele asap, dengan belajar ke beberapa kelompok pembudidaya yang mengembangkan usaha serupa,” ujar pria yang kini Direktur Smart Desa Indonesia itu.

Pertengahan 2015, Indra bersama sepuluh kepala keluarga lainnya, membulatkan tekad untuk bersama, dengan mendirikan Pokdatan Tunas Muda. Mulai dari pengadaan bibit, pembesaran, hingga pengolahan hasil produksi, dilakukan Pokdatan Tunas Muda.

“Kami tidak lagi menjual lele segar, namun seluruh hasil produksi anggota kelompok ditampung dan dibeli dengan harga lebih tinggi dari harga pasar. Kemudian lele diolah menjadi produk lele asap, baru kemudian dijual ke pasar,” ujarnya.

Menurut suami Nur Afni itu, pasar lele asap jauh lebih besar ketimbang lele segar, termasuk soal harga yang lebih menjanjikan. Saat ini, produk lele asap yang dilabeli Ikanku Lele Asap itu, sudah menyebar mulai dari Sawahlunto, Solok, Tanah Datar, Jakarta serta Bandung.

Dalam pengolahan dan mendapatkan satu kilogram lele asap, dibutuhkan sedikitnya 4 kilogram lele segar yang rata-rata satu kilogramnya Rp15 ribu. Artinya, untuk satu kilogram lele asap, membutuhkan modal Rp60 ribu.

Nilai ekonomisnya, harga jual lele asap mencapai Rp75 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram. Dalam sekali produksi, Pokdatan Tunas Muda mampu menghasilkan 50 kilogram lele asap.

Dalam sepekan, Pokdatan Tunas Muda melakukan tiga kali produksi, dengan total produksi lele asap dalam sepekan mencapai 150 kilogram atau 600 kilogram hingga 750 kilogram lele asap dalam satu bulan.

“Margin yang didapatkan Pokdatan setelah keluar biaya operasional, tenag kerja, rata-rata sebesar Rp5 ribu per kilogramnya. Dalam sebulan margin yang dihasilkan berkisar Rp3 juta hingga Rp3,75 juta,” katanya.

Namun demikian, ujar Indra, poin penting yang perlu diambil dari aktifitas Pokdatan Tunas Muda itu, bukan hanya margin keuntungan yang diperoleh dari pengolahan lele menjadi lele asap.

Akan tetapi ada poin penting berupa jaminan harga lele, jaminan pasar produk lele dan terbukanya peluang kerja. Selain itu, Pokdatan Tunas Muda juga memiliki pembibitan anakan lele sendiri, yang mampu menghasilkan 60 ribu bibit lele setiap bulannya.

Pada 2016 dan 2017, aktifitas Pokdatan Tunas Muda Muaro Kelaban yang dinilai memiliki efek besar terhadap ekonomi masyarakat setempat itu, mendapatkan perhatian dari Dinas Pertanian Sawahlunto, berupa bantuan pembuatan kolam tembok.

Kini, tidak hanya masyarakat yang ada di Desa Muaro Kelaban saja yang ingin mengembangkan usaha lele tersebut. Beberapa warga dari Desa Taratak Bancah sera desa dan keluarga di Kecamatan Barangin tengah mempersiapkan kolam terpal untuk mengembangkan budidaya lele.

Indra Sukraini Putra dan Pokdatan Tunas Muda menyambut baik keinginan masyarakat Sawahlunto, yang ingin mengembangkan usaha lele. Bahkan, Indra siap untuk memberikan pendampingan dalam pengembangan.

“Pokdatan Tunas Muda tidak akan menutup diri, jika bisa bersama-sama kita menjadi Sawahlunto sebagai sentra produksi ikan lele dan produk lele asap,” pungkasnya.(del)