Masalah Abu, PLTU Sektor Ombilin Diprotes Warga

News | 09 Mei 2019
Protes PLTU Ombilin

SAWAHLUNTO - Dibatasi pagar kawat, masyarakat Desa Salak dan Sijantang, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, yang menggelar aksi protes pencemaran udara akibat abu bekas pembakaran batubara, akhirnya ditemui manajemen PLTU Sektor Ombilin, Kamis (9/5).

Sayangnya, langkah masyarakat Desa Salak dan Sijantang, untuk menyuarakan aksi protes mereka itu, tertahan pagar kawat yang berdiri membentengi pintu masuk ke kawasan pembangkit yang menggunakan pembakar batu bara itu.

Santi (42) warga Desa Sijantang mengatakan, aksi protes itu dilakukan karena masyarakat sudah tidak lagi tahan dengan ‘hujan’ abu bekas pembakaran batu bara, yang dihasilkan PLTU Sektor Ombilin.

Menurut Santi, kesehatan masyarakat menjadi korban akibat tebaran abu, baik abu yang berasal dari cerobong asap, maupun abu yang berterbangan dari ribuan ton abu yang ditumpuk di sekeliling kawasan pembangkit.

Santi mengaku, rumahnya yang berbatasan dengan pagar PLTU Ombilin, selalu dipenuhi debu abu yang beterbangan. Dalam hitungan beberapa jam saja, abu yang masuk ke rumah sangat banyak.

“Lima tahun pertama, kami memang mendapatkan perhatian dari PLTU Sektor Ombilin, selanjutnya hingga saat ini, kami hanya menerima dan menikmati abu yang keluar dari cerobong tersebut,” keluhnya.

Senada dengan Santi, Yen Harianti (53), warga yang juga berada di sekitar kawasan pembangkit mengaku, menggelar aksi protes ini, karena PLTU Sektor Ombilin tidak menghiraukan keluhan yang mereka sampaikan selama ini.

“Kami sudah sangat lama mengeluh, baik melalui tokoh masyarakat, maupun melalui pemerintah, dan sempat juga langsung datang ke PLTU, namun sama sekali tidak ditanggapi. Malahan asap yang keluar dari cerobong hamper mirip dengan hujan abu,” ujar Yen.

Sementara itu, Asri (65) warga Sijantang, mengaku harus mengkonsumsi obat rutin untuk mengobati penyakit paru-paru yang diceritanya akibat limbah abu PLTU Sektor Ombilin yang mencemari udara Sijantang sejak 2011 lalu itu.

Akhirnya, beberapa perwakilan masyarakat diterima masuk ke PLTU Sektor Ombilin. Dalam pertemuan yang berjalan alot itu, menghasilkan 6 poin kesepakatan, antara masyarakat dan pihak PLTU Sektor Ombilin.

Keenam poin itu yakni, menajemen PLTU akan meminimalisir permasalahan abu yang keluar dari cerobong, tumpukan Fly Ash Bottom Ash (FABA) atau debu abu batubara akan dicarikan solusi untuk segera dipindahkan.

Ketiga, sebelum selesai jalan alternatif dan jembatan, PLTU Ombilin akan berkoordinasi dengan pemasok batubara dan Dinas Perhubungan terkait aturan kelas jalan. Selanjutnya, PLTU Ombilin juga akan membuat jembatan untuk akses mobilisasi batubara dan FABA.

PLTU Ombilin juga akan menindaklanjuti kembali kesepakatan dengan masyarakat Desa Sijantang yang telah dibuat pada pertengahan April 2011 lalu. Poin terakhir, PLTU akan menindaklanjut surat dari masyarakat Desa Salak, pada Agustus 2018 lalu.

Kesepakatan itu ditandatangani, perwakilan masyarakat Sijantang yakni, Eka Oktarizon, Junaidi Ilyas, Gusrinal, dan perwakilan masyarakat Salak, Ali Imran, Zainur Pokieh Sati, dan Jeri Rizal. Sedangkan pihak manajemen PLTU Ombilin ditandatangani, Asisten Manager Adri Putra, Heryadi MR, Safrul, Ahmadi, dan Benny Aprianto.

Selanjutnya, PLTU Sektor Ombilin bersama perwakilan masyarakat menemui masyarakat yang tertahan di gerbang berpagar kawat. Dibantu pengeras suara (toa), komunikasi antara manajemen PLTU Sektor Ombilin, yang diwakili, Asistem Manager, Asri Putra, menyampaikan perusahaan pembangkit listrik berkekuatan 2 x 100 Megawatt itu, akan berusaha memperbaiki pengelolaan abu yang dihasilkan.

“Kami akan berusaha untuk mengelola limbah abu dengan baik dan benar. Sebab, kami juga tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Harapan kami, ke depan masyarakat juga dapat mengawasinya,” ujar Asri Putra.(del)