MARI BERCERITA

Ulasan | 16 Juli 2019
Fadilla Jusman

PENETAPAN kawasan bekas tambang batu bara Ombilin Sawahlunto atau Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO, tidak terlepas cerita panjang sejarah tambang itu sendiri.

Sejarah yang tidak akan lepas dari cerita lama. Cerita penting bagi mereka yang terkait, tentu cerita itu tidak akan pernah usang. Mendengarkannya pun akan selalu dirindukan, bahkan tidak bosan jika mendengarnya secara berulang. 

Semua hal lama yang pernah terjadi, tentu akan menjadi bagian penting yang tak akan bisa dipisahkan dari sejarah itu sendiri. Mereka yang terkait dan yang ingin tahu akan hal itu, tentu akan merunut jauh ke belakang.

Cerita awal dari dibukanya tambang, proses penambangan, hingga kisah-kisah orang penting dalam perjalanan pertambangan tentu akan sangat dinantikan. Status Warisan Dunia yang disematkan UNESCO itu, tentu akan membawa daya tarik tersendiri bagi mereka yang terkait dan tertarik terhadap sejarah tambang Ombilin itu sendiri.

Mulai dari mereka dari keturunan Belanda yang pernah menjadi bagian penting dari perkembangan tambang batu bara, keturunan pekerja tambang yang pernah datang dan bermukim di kawasan kota tua ini.

Mereka yang datang tentu mencari cerita, cerita tentang masa lampau, cerita sejarah akan keterkaitan Warisan Dunia UNESCO, cerita-cerita yang membangkitkan kenangan mereka akan nenek moyang mereka yang pernah singgah lama di kota penghasil batu bara.

Sejarah tambang batubara Ombilin memang banyak meninggalkan bukti, yang sebagiannya masih menjadi misteri yang perlu diungkap. Diantaranya deretan makam Belanda, makam pekerja paksa yang hanya ditandai dengan nisan bertuliskan angka.

Cerita itu akan mengundang wisatawan untuk datang. Sebut saja cerita Mbah Soero, yang diangkat sekaitan dengan dibukanya sebuah lubang bekas tambang, yang dulunya digunakan kolonial Belanda di kawasan Tanah Lapang Sawahlunto.

Dibukanya lubang tambang yang diperkirakan memiliki panjang puluhan kilometer itu, dibarengi dengan cerita para pribumi yang membangkang dan tahanan politik, yang dipekerjakan secra paksa.

Cerita orang rantai yang diperlakukan dengan tidak manusiawi menyeruak. Mereka bekerja siang malam dan tidak diberi makanan yang layak. Kalau mau bertahan hidup, harus kerja terus.

Dulu ketika Lubang Mbah Soero dibuka menjadi objek wisata dan direnovasi, banyak ditemukan tengkorak-tengkorak. Diyakini, itu adalah tengkorak-tengkorak dari jenazah para orang rantai.

Cerita lainnya yang muncul, tentang mandor tambang bernama  Samin Soero Sentiko. Dimana dalam sejarah lisan, beredar kabar ia meninggal di Sumatera Barat, konon setelah Belanda menangkap dan membuangnya ke Digul dan Padang.

Jenazah Samin Surosentika dimakamkan di pekuburan orang rantau di Tanjung Putri, Sawahlunto, Sumatera Barat. Makamnya tanpa nama hanya angka-angka. Untuk itu, butuh pembuktian ilmiah untuk memastikan makam Samin Soero Sentiko.

Terlepas dari keberadaan makam Samin yang misterius, ternyata di sejumlah lokasi beredar mitos Samin tidak pernah mati. Itu pula sebabnya Belanda membuangnya ke Digul dan Padang karena Samin tak bisa dibunuh di tanah Jawa.

Cerita itu malah membawa generasi penerus Samin Soero Sentiko datang ke Sawahlunto, jauh-jauh dari Blora Jawa Tengah. Mereka datang untuk mengungkap keberadaan nenek moyang mereka, menyusuri setiap cerita yang pernah ada.

Ternyata cerita mampu membawa mereka yang terkait menuju satu titik, untuk mencari jawaban, memenuhi keingintahuan, serta melepas rasa rindu, yang mungkin mereka pun baru pertama kali menginjakan kaki di tempat itu.

Cerita-cerita itu tentu butuh kajian, pembuktian, tidak hanya sekedar karangan belaka, namun dibarengi dengan bukti yang menjadi kekuatan akan sebuah sejarah. Yang pasti, tentu mereka yang datang ke Sawahlunto, akan merindukan cerita-cerita masa lampau, untuk menutupi rasa rindu yang mereka miliki.

Semakin banyak cerita yang tergali, tentu mereka yang mengejar sejarah akan semakin betah untuk berlama-lama. Di sinilah, sisi lain kehidupan akan tumbuh, ekonomi masyarakat setempat akan terangkat.

Mereka yang datang tentu butuh penginapan, makanan, transportasi, yang membuat mereka harus menjadi bagian dari berputarnya ekonomi di tempat yang mereka kunjungi.

Untuk itu, marilah kita mulai untuk bercerita, bercerita apa saja tentang sejarah pertambangan batu bara Ombilin, yang kini telah berstatus Warisan Dunia.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi