Mantan Wako Boyong Perusahaan Komoditi Jagung

Ekonomi | 16 Juli 2019
Pertemuan Perusahaan Komoditi Jagung

SAWAHLUNTO - Bebas tugas sebagai walikota, bukan alasan bagi Ali Yusuf, Walikota Sawahlunto periode 2013 – 2018 itu untuk tidak memikirkan Kota Sawahlunto. Kali ini, pria yang pernah memimpin KUD Talawi itu, memboyong perusahaan untuk kembangkan komoditi jagung di ‘Kota Arang’.

Target awal, 200 hektar lahan di kawasan Bukit Teletabis Desa Kolok Nan Tuo, Kecamatan Barangin, sudah disetujui pihak Desa Kolok Nan Tuo, dan tinggal menunggu perjanjian kerja sama dengan pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kolok Nan Tuo.

“Saat ini kita sedang menunggu draf kerja sama yang sedang dibuat pihak BUMDes. Mudah-mudahan, awal Agustus 2019 ini kerja sama sudah bisa jalan,” ungkap Ali Yusuf kepada kabarita.co, usai rapat persiapan pengembangan kebun jagung, Selasa (16/7/2019).

Ali Yusuf mengatakan, areal yang akan digarap itu merupakan kawasan kehutanan, yang telah mendapatkan persetujuan Gubernur Sumbar. Di bawah bendera PT Amal, perusahaan yang bergerak di bidang penanaman komoditas jagung serta pakan ternak dan BUMDes, akan menggarap 200 hektar lahan, sebagai kebun inti.

Dalam kerja sama itu, katanya, PT Amal hadir sebagai penyedia bibit dan pupuk, serta melakukan pengawasan dan pemeliharaan terhadap komoditas  jagung. Begitu juga dengan hasil, perusahaan memberikan jaminan untuk menampung.

Nantinya, perusahaan akan memberikan dukungan terhadap masyarakat sekitar untuk ikut mengembangkan usaha serupa, sebagai bagian dari plasma. Dengan demikian, perusahaan akan memberikan jaminan harga terhadap jagung produksi masyarakat.

Bapak tiga anak yang kini berstatus sebagai perwakilan PT Amal di seluas 279,5 kilometer persegi itu, sangat yakin, dengan program pengembangan kebun jagung akan memberikan dampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar.

Baginya, akan sangat banyak manfaat yang akan didapatkan masyarakat dan pemerintah daerah. Sebab, akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Dalam hitungan ekonomisnya, Ali Yusuf mengatakan, setidaknya perkebunan akan menyedot 100 kepala keluarga sebagai tenaga kerja.

“Harapannya, tentu pemerintah akan ikut terbantu dengan terbuka peluang kerja bagi masyarakat. Apalagi dengan kondisi perekonomian saat ini. Kami sangat yakin, masyarakat dan pemerintah saat ini akan terbantu dalam mewujudkan visi menjadikan Sawahlunto yang lebih baik,” katanya.

Lebih jauh diutarakannya, target yang akan dicapai secara ekonomi, dengan menggunakan bibit unggul, target produksi untuk satu hektar berkisar antara 8 hingga 13 ton. Target awal, Ali Yusuf hanya mematok rata-rata produksi 6 ton.

Dengan jaminan harga jagung Rp4000 hingga Rp4500 perkilogram, diperkirakan dengan luas 200 hektar, dalam jangka waktu tanam hingga panen selama 5 bulan, akan membuat uang yang beredar di Kota Sawahlunto, minimal sebesar Rp4,8 miliar.

Setidaknya, ujar Ali Yusuf didampingi Kepala Desa Kolok Nan Tuo, Supriadi Mukri, dalam setahun produksi jagung minimal sebanyak dua kali. Tidak hanya buah, pohon jagung juga dapat dijadikan sumber pasokan pakan ternak.

“Akan ada produk hilir lainnya, yang dapat mengangkat perekonomian masyarakat. Kerja sama ini, sudah kita rencanakan sejak awal 2018 lalu. Namun baru akan terealisasi mulai Agustus mendatang,” pungkasnya.

Bagi pria yang kini juga Ketua DPD Partai Golkar Sawahlunto itu, pengembangan komoditas jagung juga akan memberikan dampak terhadap peternak ayam di Sumbar. Sebab, produksi jagung sendiri akan dijadikan bahan baku pakan ternak.

“Jadi dampaknya tidak hanya untuk masyarakat Sawahlunto, namun juga untuk mengatasi kegelisahan peternak ayam yang kerap terdampak dari kenaikan harga jagung sebagai nahan baku pakan ayam.(del)