X

Mahasiswa UBH Kuliah di Istano Silinduang Bulan

News | 24 November 2018
Kuliah Lapangan Mahasiswa UBH

TANAH DATAR - Istano Silinduang Bulan Pagaruyung menjadi tujuan 250 mahasiswa Universitas Bung Hatta (UBH), dari dua program studi dalam melakukan kuliah lapangan, Sabtu (24/11).

Kehadiran mahasiswa dari prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Ekonomi Managemen tersebut, disambut Daulat Yang Dipertuan Raja Alam Minangkabau Pagaruyung, Dr Farid Thaib diwakili Datuk-Datuk Silinduang Bulan, yakni Datuk Rajo Malano, Datuak Sikoto, Datuak Cumano Koto dan Paduko Siramo di dalam Istano Tuan Gadih Pagaruyung.

Para mahasiswa yang dipimpin dua Dosen Pembimbingnya yakni, Wirnita Eska, dan Daryulizar, mendapatkan pemahaman mengenai adat dari para datuak di Silinduang Bulan, mulai dari aluah pasambahan, adat dan penerapannya pada generasi saat ini serta makna yang terkandung dalam pasambahan makan, di rumah gadang Minangkabau.

Hal tersebut disampaikan empat orang perangkat kerajaan di Silinduang Bulan. Setelah berbagai hal materi disampaikan, para mahasiswa juga berkesempatan melontarkan berbagai pertanyaan terkait adat budaya Minangkabau.

Dosen Pembimbing, Wirnita Eska kepada kabarita.co, mengatakan agenda yang dipimpinnya tersebut merupakan rutinitas mahasiswa tiap semester, yaitu mengikuti kuliah lapangan.

“Selain di Istano Silinduang Bulan ini, kami juga akan mengunjungi rumah gadang di Situjuah Kabupaten Limapuluh Kota, dan rumah gadang Pinang Balirik di Agam. Mahasiswa bisa menyaksikan secara langsung bagaimana tentang adat istiadat di rumah gadang itu,” ujar Wirnita yang juga merupakan keluarga besar kerajaan Pagaruyung itu.

Dikatakan, agenda itu diikuti oleh 250 mahasiswa UBH Padang dari dua prodi yang terdiri dari lima lokal mahasiswa, para mahasiswa juga akan dinilai dalam kegiatan kuliah lapangan tersebut termasuk yang memberikan pertanyaan saat dialog dengan datuk di Silinduang Bulan akan mendapatkan nilai tambahan, ujarnya.

Datuak Rajo Malano menyambut baik kehadiran para mahasiswa dari UBH Padang saat itu, Ia menyatakan kebanggaannya telah mengunjungi Istano Silinduang Bulan tersebut.

“Kami bangga kepada adik-adik mahasiswa yang telah mau belajar adat, menggalinya lebih dalam. Pelajarilah adat kita ini dimanapun berada karena adat akan membawa seseorang pada kehidupan yang lebih baik karena adat tersebut pakaian kita sehari-hari,” ujarnya.

Datuak Sikoto juga menyebutkan bahwa adat itu sudah diterima oleh seseorang sejak ia dilahirkan ibunya. “Sejak kita lahir, sang ibu telah mengajarkan kepada kita tentang berbagai hal, itulah adat. Adat itu aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari dalam suatu kaum, dan aturan adat itu saling terkait dengan agama karena di Minangkabau kita berfilosofi adat basandi sarak - syarak basandi kitabullah,” ujarnya.

Disebutkan, jika adat itu tetap dipegang teguh oleh suatu masyarakat seperti tradisi adat nyepi di Bali.

“Pemerintah pun tidak ada yang bergerak saat hari nyepi itu, bandara tutup, tidak ada orang yang lalu lalang dalam negerinya kecuali para dubalangnya yang diamanahkan oleh adat bali tersebut, begitu agungnya maksa adat pada suatu daerah," katanya.(fe)