Kris Biantoro Peternak Kambing Etawa

Inspirasi | 25 Maret 2019
Peternak Kambing Etawa

TIDAK selalu harus dengan modal besar untuk memulai suatu usaha. Setidaknya itu sudah dibuktikan Kris Biantoro, warga RT3 RW2 Kelurahan Lubang Panjang Sawahlunto, dengan modal awal Rp4 juta, dirinya mengawali usaha peternakan kambing etawa di tanah kelahirannya Sawahlunto.

Di pekarangan rumah orang tuanya yang sempit, Kris begitu lajang ini dipanggil, tetap bisa berkreasi memulai usaha yang terbilang tidak berhubungan dengan pekerjaan yang ia tekuni sebelumnya.

Akhir Mei 2016, berbekal modal dari tabungan hasil kerjanya, Kris meyakinkan diri untuk banting stir dari pekerjaan di salah satu perusahaan kredit kendaraan di Kota Padang, dengan dua ekor kambing etawa sebagai modal awal.

Di awal pengembangan usahanya, meski sempat beberapa kali kecewa dengan kematian anakan kambing, namun hal itu tidak menyurutkannya untuk terus berusaha. Kematian anakan kambing ketika proses melahirkan, justru membuatnya belajar.

“Di sekolah tidak ada ilmunya. Pengalaman hanya didapatkan ketika bersentuhan langsung dengan usaha yang kita kembangkan,” ungkap anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Sumard Juki dan Kasmini itu kepada kabarita.co.

Dua tahun berselang, dengan memanfaatkan semua potensi yang dimiliki kambing, mulai dari anakan, susu, kotoran, hingga urine, kini Kris memiliki 18 ekor kambing etawa, dengan perkiraan aset mencapai Rp70 juta.

Aset yang berhasil dihimpun Kris tersebut berupa kambing, penambahan kandang, serta pembelian mesin pengolah kotoran kambing. Khusus untuk kambing, Kris hanya menjual kambing jantan, sedangkan yang betina difokuskan untuk menjadi indukan dalam pengembangan.

Kris sendiri memanfaatkan kotoran kambing untuk diolah menjadi pupuk, selain dimanfaatkan sendiri, juga dipasarkan ke masyarakat. Untuk satu karung berukuran 10 kilogram, Kris menjualnya Rp12 ribu.

Sedangkan untuk susu, Kris selain menjual secara langsung, juga mengolahnya menjadi es dan beberapa produk lain. Dalam mendukung usahanya, Kris juga mengambil pasokan produk olahan susu kambing dari daerah lain.

Di pekarangan yang terbilang sempit itu, Kris juga tengah merintis pengembangan tumbuhan bidara, pohon tin, dan zaitun, serta kurma, dengan memanfaatkan kotoran dan urine kambing sebagai pupuk.

Selain bibit, lajang kelahiran 12 Januari 1987 itu juga mengolah daun tin menjadi teh kemasan, yang dilakukan sendiri, dan dipasarkan sendiri ke tengah masyarakat. Memang saat ini, Kris belum memiliki izin BPOM, namun baginya kepercayaan pelanggan jauh lebih penting.

Jangka panjangnya, Kris berkeinginan memiliki kawasan agrowisata, yang memberikan kesempatan masyarakat untuk melakukan wisata ke kawasan peternakan dan perkebunan yang dimilikinya.

Saat ini, Kris sedang mempelajari pengolahan jerami padi menjadi pakan ternak dengan cara fermentasi. Sehingga jerami padi yang selama ini menjadi masalah bagi petani padi, bisa termanfaatkan dan dapat bertahan menjadi pakan ternak dalam jangka waktu yang panjang.

Meski masih membutuhkan waktu yang panjang, Kris sudah mengancang-ancang usaha masa depannya berada di bawah bendera Biantoro Farm. Dalam jangka panjangnya, Kris siap menjadi tempat belajar bagi masyarakat.

“Silahkan, kapan saja masyarakat berkunjung untuk belajar, baik tentang kambing maupun tentang yang lain. Saya siap untuk berbagai dengan siapa saja, demi pengambangan agrowisata Sawahlunto ke depan,” ujarnya.(rel)