Kebijakan dan Pendidikan Berkarakter

News | 11 April 2019
Beasiswa

SEJAK perubahan APBD Sawahlunto 2018 lalu, perhatian Pemerintah Sawahlunto terhadap sektor pendidikan seolah hidup kembali. Pemberian bantuan pendidikan, menjadi salah satu program penting yang digulirkan pemerintah di daerah berpenduduk 65 jiwa lebih itu.

Jika perubahan APBD 2018 lalu, Pemerintah Sawahlunto mengalokasikan sebesar Rp200 juta, kini di awal 2019 perhatian terhadap pendidikan, berupa pemberian penghargaan terhadap siswa dan mahasiswa berprestasi dialokasikan sebesar Rp1 miliar.

Satu miliar rupiah anggaran yang dialokasikan itu, disalurkan dalam bentuk penghargaan bagi anak Sawahlunto yang diterima di perguruan tinggi negeri dan swasta, yang program studinya terakreditasi A dan B untuk jenjang pendidikan D3 atau S1.

Selanjutnya penghargaan bagi mahasiswa yang berhasil memperoleh indek prestasi minimal 3,1, untuk jenjang D3 atau S1 yang berkuliah di perguruan tinggi negeri dan swasta, dengan program studi terakreditasi A atau B.

Mereka yang berhak menerima reward tersebut, selain harus memenuhi syarat prestasi, tentu juga dipastikan terdaftar sebagai penduduk Sawahlunto, yang ditunjukan dengan terdaftar dalam kartu keluarga di Kota Sawahlunto.

Saat ini, diperkirakan anak-anak Sawahlunto yang duduk di perguruan tinggi sebanyak seribu orang. Dan setiap tahunnya, diperkirakan yang masuk dan menamatkan pendidikan di perguruan negeri maupun swasta mencapai 300 orang.

Serupa cerita yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Sawahlunto, Deswanda, dihadapan wartawan, Selasa (9/4), Walikota Sawahlunto, Deri Asta, menyatakan akan menambahkan anggaran tersebut di perubahan APBD, jika anggaran yang disediakan saat ini tidak mencukupi.

Tidak hanya bagi mahasiswa, untuk siswa SMP/MTs, SMA/MA dan SMK yang berprestasi 10 besar peringkat ujian nasional tingkat Kota Sawahlunto. Selain itu, bagi siswa SMP/MTs, SMA/MA dan SMK yang memperoleh prestasi juara 1, 2, dan 3 pada lomba tingkat provinsi maupun nasional.

Penghargaan lainnya, berupa pemberian reward bagi penghafal al quran, yang ditujukan untuk pembentukan generasi Sawahlunto berkarakter. Program itu juga disandingkan dengan program membaca al quran di pagi pertama masuk, dengan menagih hafalan al quran.

Terlepas dari itu semua, perhatian yang diberikan Pemerintah Sawahlunto terhadap generasi penerus yang masih duduk di kursi pendidikan, mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi itu, tidak lagi berdasarkan tolak ukur berdasarkan asal keluarga.

Jika sebelumnya, reward atau penghargaan yang diberikan lebih banyak menyasar dan menitikberatkan pada keluarga kurang mampu, keluarga miskin, maupun pra sejahtera, kini justru lebih menitikberatkan kepada pencapaian dan prestasi.

Reward dan penghargaan  didasari pada pemenuhan pencapaian dan prestasi, berupa keberhasilan masuk ke perguruan tinggi dengan program studi berakreditasi, pencapaian indek prestasi 3,10. Siapapun yang bisa meraih pencapaian, rewardpun akan diberikan.

Ada perubahan yang cukup drastis dari perhatian yang diberikan pemerintah itu. Sebab, dengan syarat dalam meraih reward lebih mengedepankan prestasi, bukan lagi berdasarkan standar ekonomi yang dimiliki keluarga semata.

Artinya persaingan, peluang dan kesempatan yang diberikan pemerintah bagi generasi calon pemimpin masa depan terbuka bagi siapa saja secara merata, tidak ada perbedaan hanya disebabkan faktor ekonomi, tetapi lebih kepada prestasi.

Secara tidak langsung, kebijakan pemerintah itu justru telah membentuk karakter bagi generasi ke depan. Sebab, mereka digiring untuk bersaing dan berkompetisi dengan mengedepankan prestasi.

Siapa saja yang berprestasi dan memenuhi pencapaian yang telah ditetapkan, Pemerintah Sawahlunto akan memberikan penghargaan atas prestasi dan pencapaian yang diraih. Perhatian itu, tentu akan memunculkan semangat bagi setiap generasi muda Sawahlunto, yang masih duduk di bangku sekolah dan perguruan tinggi, untuk meraih prestasi dan pencapaian yang terbaik.

Kebijakan ini membentuk karakter, karena merubah pola yang biasanya diterapkan. Pola kali ini tidak lagi menjual kemiskinan, kekurangmampuan, atau ketidakberdayaan, tetapi mengedepankan prestasi.

Sehingga kebijakan yang ditelurkan Pemerintah Sawahlunto di bawah kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Deri Asta – Zohirin Sayuti ini, menghadirkan pemerataan, kesejajaran, atau kesamaan hak bagi siswa maupun mahasiswa dalam meraih prestasi.

Tentunya, prestasi dan pencapaian yang dijadikan sebagai acuan dan pijakan dalam memberikan reward atau penghargaan itu, jangan sampai tercederai, hanya karena ini akan siapa, ini keponakan siapa, keluarga sianu, maupun katebelece lainnya.

Semoga saja kebijakan Pemerintah Sawahlunto atas perhatian di sektor pendidikan ini dapat benar-benar menghadirkan kebijakan yang berkarakter, dalam menciptakan generasi calon pemimpin masa depan yang berkarakter pula.( Fadilla Jusman)