KADO KEMERDEKAAN

Ulasan | 20 Agustus 2019
Fadilla Jusman

PENETAPAN kerajinan songket Silungkang sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) nasional Indonesia, Jumat (16/8), seolah menjadi kado kemerdekaan bagi masyarakat Kota Sawahlunto.

Kerajinan yang kini dikembangkan hampir di seluruh desa dan kelurahan itu, diakui secara nasional. Jika belum melampaui batik, setidaknya tenun songket dan batik kini bisa disebut sejajar atau bersanding satu sama lainnya.

Pengakuan itu tentu memiliki arti yang sangat besar bagi masyarakat Sawahlunto, khususnya pengrajin. Apalagi, kerajinan tenun songket Silungkang sendiri memiliki sejarah panjang, yang sudah dikenal dunia sejak ratusan tahun lalu.

Jika ditilik ke belakang, lebih dari seratus tahun lalu atau tepatnya tahun 1910, dengan menaiki kapal me­ngarungi samudera, hasil kerajinan songket Silungkang Sawahlunto dibawa dan di­pamerkan di Kota Brussel, Bel­gia.

Kala itu, songket Silung­kang yang dihasilkan tangan-tangan halus kaum hawa di nagari yang berada di ruas lintas Sumatera tersebut, mampu memikat mereka yang hadir dalam pameran hasil kerajinan dari berbagai negara di dunia itu.

Sejarah yang masyarakat turun temurun, tenun Silungkang ini telah dipamerkan di Brussel, Belgia tahun 1910. Waktu itu, kali pertama tenun songket Silungkang diper­kenalkan di gelanggang int­er­nasional, dalam ajang Pekan Raya Ekonomi. Tidak hanya hasil songket, cara bertenun songket Silungkang pun di­de­monstrasikan.

Dari cerita yang ada, tersebut nama Ande Baensah sebagai pengerajin tenun songket Si­lungkang, yang langsung mem­per­kenalkan produk kerajinan dengan alat tenun bukan mesin kala itu.

Waktu itu, tenun songket yang mewakili Indonesia di ajang Pekan Raya Ekonomi, Brussel Belgia, hanya berasal dari dua daerah, yakni tenun songket Silungkang dan tenun songket Bali.

Kedua daerah, Silungkang dan Bali membawa nama In­donesia sebagai penghasil kera­jinan, yang menyusun ribuan he­lai benang dalam satu kesatuan.

Masa itu telah lama berlalu. Nama tenun songket Silungkang sempat tenggelam seiring dengan perkembangan industri per­te­nunan nusantara. Jumlah pe­rajinnya pun sangat terbatas.

Kerajinan tenun songket Si­lung­kang, hanya digeluti para kaum ibu yang berusia lanjut. Sangat sulit dijumpai mereka yang muda, yang mau bergelut me­lestarikan kerajinan tra­di­sional yang menjadi warisan nenek moyang.

Setelah lebih dari seratus tahun berlalu. Pemerintah Sa­wah­lunto berupaya me­ngem­balikan kejayaan tenun songket Si­lung­kang, dengan me­ma­sya­rakatkan tenun songket di tengah masyarakat.

Tidak hanya di Silungkang, pelatihan pun digelar hampir di setiap desa dan kelurahan. Nama songket Silungkang tetap diper­tahankan, jumlah perajin juga terus dikembangkannya. Sebab, dengan jumlah produksi yang terbatas, akan membuat promosi berakhir sia-sia.

Nama songket Silungkang pun kembali masuk ke kancah internasional. Setidaknya setelah tenun songket Silungkang tampil dalam ajang New York Fashion Week, di pekan kedua September 2015 lalu.

Butik Shafira tampil mem­boyong tenun songket Silung­kang, dengan menjadikannya sebagai bahan busana muslim. Dengan paduan bahan-bahan berwarna gelap dan silver, hasil desain Shafira membuat pe­nonton di ajang New York Fa­shion Week terpesona.

Fenny Mustafa, pemilik Bu­tik Shafira mengungkapkan ke­ter­tarikannya untuk mengangkat songket Silungkang. Menurutnya, songket merupakan kerajinan tenun yang terbilang halus, dibuat dan dikerjakan langsung oleh masyarakat.

Tidak hanya sampai di situ, dalam Indonesia Fashion Week, yang digelar Maret 2016 lalu, di Jakarta Convention Center, Shafira kembali memboyong tenun songket Silungkang sebagai bahan utama desain mereka.

Meski tenun songket telah tumbuh dengan berbagai nama di berbagai dae­rah. Namun tenun songket Silung­kang memiliki kekhasan ter­sendiri. Pasalnya, selain harganya yang relatif terjangkau, tenun songket Silungkang juga tidak pasaran.

Tidak banyak produk tenun songket Silungkang di pasaran, membuat desainer melenggang santai dengan desain-desain ter­baik berbahan songket Silung­kang. Produknya pun merupakan produk limited edition.

Rancangan dan mode yang dibuat berbahan songket Silungkang, menjadi produk limited edition atau terbatas. Sebab, bahan yang ada di pasaran masih sangat terbatas. Sehingga, membuat produk yang dihasilkan menjadi spe­sial.

Termasuk dengan motif tenun songket Silungkang yang sangat beragam. Hal itu memotivasi para penyuka tenun songket Silungkang untuk datang, melihat langsung proses pembuatan te­nun songket Silungkang ke Sa­wahlunto.

Agaknya hal itu pula yang membuat desainer dan pe­ran­cang mode Kota Bandung Jawa Barat, sempat meninjau langsung proses pem­buatan kerajinan tenun songket Silungkang ke Sawahlunto.

Dapat dipastikan, kuantitas dan kualitas kerajinan tenun songket Silungkang akan menjadi tolak ukur dalam kemajuan tenun songket Silungkang ke depan. Re­generasi pengerajin dan pe­ngu­saha tenun songket Silungkang sangat diperlukan.

Kini, tenun songket Silungkang telah dilabeli dengan WBTb nasional itu, memiliki tiket menuju WBTb yang akan diakui dunia. Sebab, dengan tiket WBTb nasional, secara otomatis tenun songket Silungkang akan diajukan menjadi warisan UNESCO.

Semoga saja, pengakuan atas tenun songket Silungkang ini, akan memberikan dampak luas, terutama dampak terhadap ekonomi masyarakat, khususnya pelaku pengrajin tenun songket Silungkang itu sendiri.(*)