Jembatan Gantung Senilai Rp1,7 M Terancam Tak Rampung

News | 04 Desember 2019
Peninjauan jembatan gantung

SAWAHLUNTO - Pembangunan jembatan gantung di Dusun Siambalau Desa Talawi Hilie, Kota Sawahlunto terancam tidak rampung. Tiga pekan menjelang batas akhir, bobot hasil pengerjaan masih kisaran 32 persen.

Bahkan, kontraktor pelaksana kegiatan yang berada di bawah bendera CV Gunung Jantan dari Painan Pesisir Selatan itu, telah dua kali mendapatkan surat peringatan dari pihak Dinas PUPR Kota Sawahlunto.

Hal itu terungkap dalam kunjungan lapangan Komisi III DPRD Sawahlunto, yang dipimpin Ketua Komisi, Lazwardi, bersama Wakil Ketua, Iwan Kurniawan, dan anggota Masril, ke kawasan pembangunan jembatan gantung Desa Talawi Hilie, Selasa (3/12/2019).

“Pengerjaan pembangunan yang tidak rampung, nantinya bukan hanya akan merugikan daerah, namun juga masyarakat. Sebab, nilai manfaatnya sama sekali tidak ada,” ujar Ketua Komisi III DPRD Sawahlunto, Lazwardi.

Artinya, lanjut anggota dewan dua periode itu, kegiatan pembangunan yang dilakukan mubazir, tidak bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat, yang semula menjadi sasaran manfaat dari perencanaan pembangunan yang dilakukan.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Sawahlunto, Iwan Kurniawan mengungkapkan, hasil pelaksanaan pengerjaan pembangunan, khususnya proyek yang melalui mekanisme lelang hendaknya tidak hanya memenangkan siapa yang terendah saja.

“Azaz kepatutan dan kewajaran juga mesti dilihat panitia lelang pekerjaan dalam memenangkan perusahaan yang layak untuk melaksanakan kegiatan. Jika ada perusahaan yang berani turun jauh dari pagu anggaran, sangat patut untuk dipertanyakan,” ujar Iwan Kurniawan.

Proyek pembangunan jembatan gantung di Dusun Siambalau Desa Talawi Hilie, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, ditawar perusahaan CV Gunung Jantan turun 14 persen dari pagu anggaran yang disediakan. Agaknya hal itu yang membuat panitia lelang menetapkan CV Gunung Jantan sebagai pemenang dan berhak untuk melaksanakan proyek pembangunan dengan masa 140 hari itu.

Senada dengan Iwan Kurniawan, Masril mengungkapkan, pembangunan yang tidak siap atau terbengkalai sangat merugikan Sawahlunto. Hal itu harus menjadi catatan penting bagi pemborong yang ingin melakukan kerja.

“Program kerja yang sudah tertuang dalam APBD itu hendaknya terlaksana dan bermanfaat bagi masyarakat. Tidak bisa dikerjakan asal-asal, sehingga memberikan dampak terhadap kehidupan masyarakat,” ujar Masril.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Sawahlunto, Maizir yang turut dalam kunjungan lapangan wakil rakyat tersebut mengatakan, dengan kondisi yang ada, sangat mungkin pekerjaan dengan pagu anggaran lebih dari Rp1,7 miliar itu tidak akan rampung.

“Kami sudah berupaya menekan kontraktor untuk bekerja sesuai dengan schedule yang ada. Namun bobot yang dihasilkan tetap tidak sesuai dengan perencanaan,” ungkap Maizir.

Sementara itu, Kepala Desa Talawi Hilie, Ferdian Irwan mengungkapkan, jembatan gantung yang dibangun tersebut merupakan aspirasi masyarakatnya, yang telah lama diajukan. Namun baru terealisasi dalam APBD Kota Sawahlunto 2019.

Ferdian Irwan mengungkapkan, dari pantauan masyarakat setempat, pengerjaan jembatan tersebut sempat terhenti beberapa pekan. Padahal, masyarakat sangat berharap, jembatan yang melintasi aliran Batang Ombilin itu dapat dimanfaatkan akhir tahun ini.

Pelaksanaan pembangunan jembatan gantung Dusun Siambalau Desa Talawi Hilie, dimulai sejak 14 Agustus, dan akan berakhir 26 Desember, dengan masa kerja 140 hari kalender.

Saat ini, waktu pengerjaan hanya tinggal 3 pekan ke depan, untuk mengerjakan jembatan gantung sepanjang 52 meter dengan lebar 2 meter tersebut. CV Gunung Jantan telah mengambil uang muka sebanyak 30 persen atau sekitar Rp520 juta.

Satria, yang mengaku pelaksana lapangan CV Gunung Jantan ketika dikonfirmasi terkait kemungkinan rampungnya proyek senilai Rp1,7 miliar itu, terlihat kurang yakin akan rampungnya pembangunan jembatan. “Diyakin-yakinkan saja Pak,” ujarnya lirih. (efj)