ICOMOS, Jadi Warisan Dunia Sawahlunto Tidak Harus Berevoluasi

News | 07 September 2019
Johannes Widodo

SAWAHLUNTO – Menyadang status sebagai Warisan Dunia yang ditetapkan UNESCO, Sawahlunto tidak harus berevolusi menjadi kota lain. Sawahlunto harus tetap menjadi Sawahlunto.

Sawahlunto harus prioritaskan pembangunan yang diperuntukan bagi masyarakatnya, bukan menghadirkan pembangunan bagi wisatawan. Sebab, kedatangan wisatawan ke Sawahlunto untuk melihat dan belajar dari kota seluas 279,5 kilometer persegi tersebut.

Hal itu diungkapkan Prof. Dr. Johannes Widodo, yang hadir sebagai nara sumber dalam Seminar Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto, Sabtu (7/9/2019).

Alumni arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (1984), yang hadir mewaliki International Council on Monuments and Sites Indonesia (ICOMOS) itu mengibaratkan, inovasi terhadap sebuah rumah, yang tujuannya untuk menciptakan rasa nyaman dan aman serta enak bagi penghuni rumah sendiri.

Jika pun nantinya ada yang tertarik melihat hasil inovasi terhadap rumah, atau ingin merasakan kenyamanan rumah tersebut, ada yang ingin belajar, itulah yang disebut dengan wisatawan.

“Intinya, Sawahlunto melakukan pembangunan harus demi masyarakatnya. Membangun infrastruktur, jalan, air kran yang bisa diminum dan segala macamnya, hanya untuk masyarakat Sawahlunto sendiri,” terang doktor jebolan Univeritas Tokyo Jepang (1996) tersebut.

Artinya, bagi pria kelahiran Indonesia yang menetap di Singapura itu, bangun infrastruktur untuk mensejahterakan masyarakat. Jika masyarakat sudah sejahtera, dengan label Warisan Dunia dari UNESCO itu, Sawahlunto tentu akan dikenal dimana-mana.

Silahkan, lanjut Johannes kepada kabarita.co, membangun sarana transportasi yang representatif bagi masyarakat, air yang langsung bisa diminum di kran, adanya tenpat makan dan minum yang nyaman, dapat dipastikan masyarakat Sawahlunto akan betah dan kerasan untuk tinggal di kota ini.

Sehingga, kata Johannes Widodo, kota ini benar-benar makmur, karena infrastrukturnya dibangun memang untuk masyarakat sendiri. Masyarakat merasa nyaman dan mungkin akan banyak ide yang muncul dari masyarakat.

Masyarakat dengan anak-anak muda muncul untuk buka usaha di kota ini. Sehingga kota ini memang betul-betul makmur. Tamu-tamu tenru akan berdatangan dengan sendirinya.

Hidupkan makanan yang khas yang dimiliki masyarakat dulunya pernah ada, gali semua potensi yang dimiliki di masa lalu, yang tentunya tidak ada di daerah lain. Wisatawan akan datang untuk melihat langsung daerah ini.

“Wisatawan tidak akan mencari segelas kpi Startbuck atau empuknya makanan MC Donald ke Sawahlunto. Sawahlunto adalah Sawahlunto, disajikan secara jujur, bukan secara pura-pura,” katanya.

Wisatawan datang ingin rendang, ingin songket yang benar-benar buatan Sawahlunto, bukan didatangkan dari daerah lain. Mereka tidak mau songket made in China, yang meskipun harganya jauh lebih murah dibandingkan songket Silungkang Sawahlunto.

Mumpung belum terlambat, ICOMOS sebagai organisasi akademik, yang belajar banyak dari kasus-kasus seluruh dunia. Johannes berharap Sawahlunto tidak menjadikan turisme sebagai tujuan utama.(del)