Hengki Ariadi, Alam Takambang Jadi Kandang

Ekonomi | 12 Agustus 2019
Hengki Ariadi Peternak Sapi

SAWAHLUNTO - Tidak ada manajemen khusus bagi peternak yang satu ini dalam mengembangkan sapi peliharaannya. Baginya alam takambang jadi kandang, yang terpenting rajin saja memantau ternak, pagi dan sore hari.

Sisanya, pria kelahiran 8 Agustus 1982 itu bisa memanfaatkan waktu untuk kegiatan lain yang lebih produktif. Bahkan, pagi sebelum memantau sapi-sapinya, Hengki Ariadi malah sempat untuk menyadap ratusan batang pohon karet miliknya.

Usai menyadap, baru Bapak dua anak itu meluncur ke lokasi, kawasan dimana ternak ternaknya diikat. Berbekal satu botol plastik air kemasan, dengan panggilan khusus, seluruh sapinya berkumpul.

Hengki memang terlihat sangat akrab dengan puluhan sapinya, dengan air dalam botol plastik di tangannya, Hengki mampu memanggil dan mengumpulkan ternak dalam hitungan beberapa detik saja.

Tak lama berselang, Hengki pun membawa puluhan sapi jenis Bali yang dimilikinya ke lapangan hijau untuk mendapatkan pakan segar, mengisi perut gembalanya yang terus tumbuh dan berkembang.

“Alhadulillah, sejak dua bulan belakang sudah ada 6 ekor anakan sapi yang lahir. Kini sedangkan menunggu empat lainnya yang tengah bunting,” ujar Hengki kepada kabarita.co di kawasan padang rumput, di Kecamatan Barangin Sawahlunto.

Usaha peternakan sapi yang dilakukan Hengki Ariadi memang tidak serumit manajemen yang diterapkan PT Lembu Betina Subur yang dimodali Pemerintah Kota Sawahlunto miliaran rupiah, yang kini justru hanya tinggal kandang usang dan lapuk.

Namun, secara perlahan tapi pasti, Hengki Ariadi mampu mengembangkan usaha sapi yang dirintisnya sejak 2012 lalu. Awalnya dulu, Hengki Ariadi memulai usaha dengan 5 ekor indukan.

Untuk saat ini, Hengki mengaku memiliki sekitar 28 ekor sapi, mulai dari anakan hingga induk bunting. Jika tidak ada aral melintang, dalam waktu dekat keluarga sapinya itu akan kembali kedatangan anggota baru.

Dalam mengatasi berbagai penyakit yang kerap melanda ternak, Hengki Ariadi selain belajar secara otodidak, juga berkoordinasi dengan Yance Dumupa, putra Papua yang menjadi ‘bidan’ ternak di Sawahlunto.

Jumlah itu belum termasuk dengan belasan sapi yang telah ‘dipangkas’ atau dijual untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama istri dan sepasang buah hatinya. Hampir setiap ldul adha tiba, sapi miliknya selalu diincar peserta kurban.

Namun Hengki Ariadi memang tidak menjual semua sapi yang telah cukup umur. Sebab, sebagian besar sapi miliknya berjenis kelamin betina, yang dianjurkan pemerintah untuk dipelihara dan dijadikan indukan.

Mudah-mudahan saja, ujar lelaki murah senyum itu, empat induk bunting yang akan lahiran itu bisa memproduksi berjenis kelamin jantan, yang dapat dijadikan bakalan untuk kurban dalam dua tahun ke depan.

Namun demikian, lanjut Hengki, dengan banyaknya sapi betina juga terbilang sangat menguntungkan. Sebab, akan semakin banyak ‘mesin’ produksi anakan sapi yang bisa dihasilkannya setiap tahun

Jika dihitung, dengan total 28 sapi dari anakan hingga indukan bunting, usaha sapi Hengki Ariadi memiliki aset setidaknya Rp250 juta, yang tentunya akan terus berkembang seiring dengan tumbuhnya indukan sapi.

Bagi Hengki Ariadi, peternakan dan perkebunan menjadi dunianya. Kedua dunia itu menjadi ladang uang baginya bersama keluarga. Hidup dengan beternak dan berkebun, mendidiknya untuk terus mandiri.

Kini selain sapi, Hengki juga mempersiapkan kambing sebagai gembalaan barunya. Setidaknya 6 ekor kambing sebagai modal awal sudah masuk dalam kandang yang didirikannya dalam dua bulan terakhir.

“Peternakan dan perkebunan akan selalu menjadi bagian penting dalam kehidupan. Sebab dari disitulah semua kebutuhan manusia dihasilkan,” pungkasnya.(rel)