Hari Ibu di Sawahlunto, Gandeng Disabilitas dan Tolak LGBT

News | 16 Desember 2018
Sawahlunto Bersama Disabilitas

SAWAHLUNTO - Gandeng anak disabilitas dan tolak LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual Trangender) warnai peringatan Hari Ibu ke 90, akhir pekan ini, di Kota Sawahlunto.

Tidak kurang dari 197 anak disabilitas membaur bersama masyarakat, khususnya kaum ibu, mereka ikuti jalan sehat dan senam bersama, di Lapangan Segiitiga, Minggu (16/12).

Suasana riang dan gembira, serta rasa bahagka tampak menghiasi wajah anak disabilitas.

"Senang, bisa bertemu langsung dengan Bapak Walikota, Wakil Walikota," ujar salah seorang anak penyandang disabilitas, usai bersalaman dengan Walikota Deri Asta dan Wakil Walikota Zohirin Sayuti.

Rasa bahagia itu mereka tumpahkan dengan semangat turut mengikuti jalan sehat sepanjang 3 kilometer, melintasi Lapangan Segitiga, Pasar Remaja dan kembali lagi ke titik start.

Bahagia itu, semakin bertambah ketika seluruh anak penyandang disalibitas mendapatkan doorprize yang disediakan panitia.

Panitia memang menyediakan doorprize melebihi jumlah anak disabilitas yang hadir. Tidak seorangpun anak disabilitas yang tidak membawa hadiah pulang ke rumah.

Walikota Sawahlunto, Deri Asta mengungkapkan, perhatian terhadap disabalitas merupakan salah satu program unggulan yang masuk dalam visi dan misi pemerintahannya lima tahun ke depan.

Bagi Deri Asta, perhatian yang diberikan teramat penting artinya bagi anak disabilitas, terutama dalam membangkitkan motivasi dan semangat mereka untuk berprestasi dan berkontribusi dalam pembangunan Sawahlunto ke depan.

Pemerintah Sawahlunto sendiri, dalam APBD 2019 mendatang, mengalokasikan berbagai program guna menunjang kehidupan, pendidikan serta usaha kaum disabilitas.

Sebelumnya, Sabtu (15/12), masih dalam rangkaian Hari Ibu ke 90, Pemerintah Sawahlunto bersama seluruh elemen masyarakat, melakukan deklarasi tolak LGBT. Deklarasi yang diselenggarakan di ruang sidang utama DPRD Sawahlunto itu, bertujuan untuk menangkal penyebarluasan perilaku LGBT, yang mulai menjadi permasalahan serius di tengah masyarakat.

LGBT sendiri dinilai sebagai pintu masuk lahirnya penyakit berbahaya HIV dan AIDS. Data yang ada menunjukan, sejak 2002 hingga 2018, Sawahlunto memiliki 23 pengidap, dimana 20 orang diantaranya telah meninggal dunia. Sedangkan tiga orang lainnya masih terus mendapatkan pendampingan medis.

Pengidap HIV dan AIDS sendiri, juga tercatat memiliki pendidikan yang mumpuni, serta berprofesi sebagaj pegawai negeri sipil, karyawan BUMN, pedagang dan ada juga yang masih berstatus anak-anak.

"Angka itu mungkin masih kecil, sebab juga banyak pengindap yang tidak mau memeriksakan diri ke rumah sakit. Untuk itu perlu bersama-sama, seluruh masyarakat berkomitmen untuk menolak prilaku LGBT," ujar Walikota Deri Asta.

Ketua Himpunan VCT (Voluntary Conseling Test) Sumbar, Katerina Welon dalam kesempatan itu mengatakan, hasil penelitian Yayasan HIV/AIDS mencatatkan temuannya di Sumatera Barat, sebanyak 620 kasus baru HIV dan AIDS dalam enam bulan terakhir.

Usia pengidap sendiri mayoritas antara 20 hingga 39 tahun. Kenapa hal itu bisa terjadi, salah satunya karena fasilitas orang tua yang memberikan gadget kepada anak tanpa kontrol, serta membebaskan anak masuk ke jaringan dunia maya.

Selain itu, anak saat ini juga sudah mulai kehilangan figur ayah, karena orang tua sibuk dengab handphone masing-masing.

Penanganan LGBT cenderrung sulit, yang disebabkan perlindungan hak asasi manusia, sehingga butuh upaya fundamental yang bisa dilakukan adalah dengan membangun ketahanan keluarga.(rel)