H. Jhon Reflita, Dari Pekerja Tambang Hingga Pimpinan Parpol

Inspirasi | 22 Februari 2019
Jhon Reflita

LANGKAH, pertemuan, dan maut. Tiga hal yang memang tidak akan pernah bisa diduga. Namun demikian, kerja keras dan semangat pantang menyerah menghadapi tantangan hidup, akan menjadi bagian penting menuntun menuju ke arah kebaikan.

Agaknya hal itu pula yang membuat seorang H. Jhon Reflita, pengusaha tambang batu bara, di bawah bendera CV. Bara Mitra Kencana itu bisa meraih sukses hingga ke tingkatan yang bisa dibilang mapan.

Jika dulu sekitar tahun 1996 ketika masih marak tambang liar, mungkin nama pria kelahiran 29 Mei 1972 tidak banyak yang kenal. Wajar saja, kala itu Jhon masih menjadi pekerja tambang.

Berbekal petromak dan pakaian seadanya, bahkan hanya sempak, Jhon memberanikan diri masuk ke lubang tambang mengambil bongkahan batu bara, di kedalaman ratusan meter ke perut bumi.

Kala itu, tuntutan hidup memaksanya untuk bertarung dengan resiko yang teramat tinggi. Menjarah batu bara dengan melakukan tambang liar atau halusnya disebut tambang rakyat, menjadi pilihan pahit baginya untuk menjalani hidup.

Kalau sekarang, untuk mengukur kadar gas metan, pekerja tambang dilengkapi dengan multi detektor. Dulu, ukurannya hanya sesak nafas atau lampu petromak mati mendadak.

“Saya pernah merasakan pahit, memulai tambang batu bara dari nol. Pengalaman itu yang membuat saya bisa menjadi seperti sekarang ini,” ungkap Jhon Reflita ketika ditemui kabarita.co.

Reformasi memberikan kesempatan bagi Bapak empat anak itu untuk merubah hidup. Begitu pemerintah membuka kran bagi perusahaan lokal untuk turut memiliki kuasa pertambangan, Jhon bersama beberapa rekan pekerja tambang tidak mensia-siakannya.

Perusahaan yang dimiliki beberapa orang yang semula pekerja kasar tambangpun berdiri. Secara perlahan, belasan perusahaan tambang milik mereka yang dulunya para pekerja tambang liar pun mulai bergerak.

Kini Jhon memiliki perusahaan sendiri, dengan ratusan keluarga pekerja yang menggantungkan hidup, di lahan pertambangan kawasan Tanah Kuning Desa Batu Tanjung Talawi seluas 70,53 hektar.

Ledakan tambang batu bara yang terjadi di salah satu kuasa pertambangan di Kota Sawahlunto tahun 2009, yang menewaskan 33 pekerja tambang, memberikan pengalaman berharga baginya.

Meski peristiwa yang merenggut korban jiwa terbanyak itu tidak terjadi di kawasan tambang batu baranya, namun memberikan pelajaran yang sangat berarti bagi suami Cipra Srigusti tersebut.

Secara per lahan, persyaratan dan perlengkapan tambang dipenuhinya satu per satu. Baik standar operasional, hingga BPJS Ketenagakerjaan. Seluruh karyawannya, terdaftar di BPJS Ketenagakerjaan.

Sebelum calon karyawan masuk ke areal pertambangan, nama karyawan tersebut sudah harus terdaftar dalam administrasi BPJS Ketenagakerjaan. Mungkin hal itu pula, yang membuat BPJS Ketenagakerjaan memberikannya penghargaan sebagai juara pertama perusahaan tertib pelaporan administrasi 2015.

Baginya, setiap karyawan memiliki hak untuk terindungi dan merasa nyaman dalam melaksanakan pekerjaan. BPJS Ketenagakerjaan ujarnya, hadir untuk menciptakan suasana nyaman di tengah karyawan.

Sebab, perlindungan terhadap karyawan, juga merangkul keluarga karyawan itu sendiri. Tentu hal itu, juga diiringi dengan standar operasional kerja, terutama penggunaan safety dalam bekerja.

Tidak hanya kepedulian terhadap karyawan, perusahaan miliknya juga menyalurkan dana Corporate Social Responsibility terhadap masyarakat. Mulai dari membuka jalan ke sentral perekonomian, bantuan bedah rumah, hingga bahan bangunan bagi masyarakat kurang mampu.

Beberapa kegiatan CSR yang dilaksanakan CV. BMK, yakni membuka ruas jalan Kubang – Balai Batu Sandaran. Jalan sepanjang lebih 10 kilometer itu, melintasi empat kenagarian di Kecamatan Lembah Segar.

Beberapa waktu lalu, Jhon Reflita juga membuka ruas jalan baru, yang menghubungkan Desa Bukit Gadang dengan Talawi Mudik, yang melintasi kawasan sentra pertanian masyarakat.

Tidak hanya itu, masih melalui perusahaannya, juga dilakukan bedah rumah, bantuan pendidikan, insentif guru mengaji, serta bantuan modal usaha bagi masyarakat kurang mampu.

Lebih jauh, Jhon Reflita juga menggagas untuk menjadikan Sawahlunto sebagai sentra penghasil pinang, dengan gerakan satu juta pinang. Kini gerakan satu juta pinang itu, justru mendapatkan lirikan dari pemerintah Sawahlunto, yang menjadikan pembagian bibit pinang sebagai upaya memaksimalkan lahan pertanian dan lahan tidur milik masyarakat.

“Insya Allah, selagi perusahaan ini masih menghasilkan, kami akan selalu ada untuk masyarakat dan lingkungan di Kota Sawahlunto ini,” ungkapnya.

Kini tidak hanya tambang yang diarsiteki Jhon Reflita, namun mulai masuk ke dunia politik dan menggawangi salah satu parpol. Dengan pergaulannya yang luas, Jhon mendapat kepercayaan memimpin DPD Partai Perindo Kota Sawahlunto hingga 2020 mendatang.(faj)