Gandeng WWF, Dharmasraya Dorong Budidaya Karet Berkelanjutan

Ekonomi | 04 Desember 2019
Budidaya karet berkelanjutan

DHARMASRAYA - Dorong budidaya karet berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya bersama World Wildlife Fund (WWF) Indonesia perwakilan Pekanbaru menggelar Focus Group Discussion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terfokus dengan para petani karet Dharmasraya.

Kegiatan yang digelar di Aula Lantai II Kantor Bupati Dharmasraya, Rabu (4/12/2019), itu diikuti puluhan petani karet, wali nagari dan sejumlah instansi terkait. Bahkan, Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan bersama Ketua DPRD Kabupaten Dharmasraya, Paryanto, turut hadir dalam diskusi tersebut.

Diskusi yang menghadirkan narasumber dari pihak perusahaan karet PT. Djambi Waras (Kirana Megatara Group) dan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat itu berlangsung cukup menarik. Bahkan semakin menarik, ketika Bupati Sutan Riska terlihat begitu bersemangat terlibat dalam diskusi, setelah mendengar pengakuan beberapa petani yang tetap dapat meningkatkan penghasilan di tengah kelesuan produksi dan harga karet saat ini.

Sejak tahun 2017, Pemerintah Kabupaten Dharmasraya memang sudah bekerjasama dengan WWF untuk memberikan pendampingan kepada para petani dalam menjalankan usaha perkebunan. Dan saat ini, pendampingan yang dilakukan pihak WWF itu telah mulai menampakkan hasil.

Sebagaimana yang diakui M. Rizal, Ketua Kelompok Tani Sako Mandiri. Sejak dibina oleh WWF, M. Rizal mengaku penghasilannya kini mulai meningkat. Oleh WWF, ia mengaku dibina tentang bagaimana cara menyadap karet yang baik, polanya seperti apa, dan kapan waktu yang bagus untuk menyadap. Sehingga karet yang dihasilkan lebih bagus dan hasilnya lebih maksimal.

"Dulu biasanya saya nyadap setiap hari. Setelah dibina WWF, sekarang polanya diganti, dua hari sekali. Tapi hasilnya tetap sama. Sehingga dalam sepekan kini saya menyadap hanya empat kali, dan waktu tiga hari yang tersisa bisa saya manfaatkan untuk pekerjaan yang lain. Jadi setiap hari tidak terfokus hanya pada karet," paparnya.

Malah kini, imbuh M. Rizal, dengan binaan WWF, kelompoknya kini telah mampu menjadi penyedia bibit karet berkualitas bagus dan bersertifikat.

Lain lagi hal yang disampaikan Ratnawati, Ketua Kelompok Wanita Tani Lansek Manih. Wanita yang akrab disapa Ratna itu mengaku juga mendapat pendampingan dari WWF dalam program budidaya madu trigona, yang di wilayah Dharmasraya lebih dikenal dengan madu galo-galo.

Meskipun belum sepenuhnya menerapkan usaha budidaya madu galo-galo ini, namun Ratna mengaku telah menuai hasil dari beberapa sarang (stup) yang ia coba buat di pekarangan rumah.

"Saat ini kami sudah coba membuat 25 stup untuk budidaya madu galo-galo ini. Beberapa sudah ada yang produktif. Alhamdulillah, satu sarang yang produktif itu bisa menghasilkan hingga Rp 1 juta dalam sebulan. Jadi lumayan untuk menambah penghasilan," tuturnya.

Menurut Ratna, jika usaha budidaya madu galo-galo ini dipadukan dengan usaha perkebunan karet, tentu hasilnya akan lebih menjanjikan. "Kita bisa memasang stup itu diantara pohon-pohon karet. Jadi, selain panen karet, kita juga bisa panen madu sekaligus. Kalau harga karet sedang merosot, ada madu galo-galo yang tetap dapat menopang penghasilan petani. Bahkan mungkin cukup menjanjikan untuk menambah kesejahteraan petani," terang Ratna.

Namun saat ini, aku Ratna, persoalan pemasaran menjadi salah satu masalah yang dihadapi dalam menjalankan budidaya madu galo-galo. Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan solusi akan hal ini.

Menanggapi hal ini, Bupati Sutan Riska berjanji akan membantu petani untuk memasarkan madu galo-galo. "Waktu Menteri Koperasi datang ke Dharmasraya beberapa waktu lalu, beliau bilang, madu yang bagus itu ada di Kalimantan dan di Dharmasraya. Jadi ini adalah potensi yang harus kita gali," tukas bupati. Malah bupati berencana akan turun langsung ke lokasi budidaya madu galo-galo milik Ratnawati, dan akan mencarikan upaya-upaya pengembangan budidaya madu galo-galo ini.

Menurut bupati, pemaparan M. Rizal dan Ratnawati ini sangat menarik untuk ditiru oleh para petani yang lain. "Kita ingin ke depan petani karet setiap hari tidak hanya sibuk dengan menyadap karet, tapi juga mampu menemukan sumber perekenomian baru untuk menambah penghasilan dan meningkatkan kesejahreraannya. Salah satunya ya itu, bisa dengan mencoba budidaya madu galo-galo," ungkap Bupati.

Maka dari itu, bupati menginstruksikan kepada Dinas Pertanian dan Wali Nagari untuk membuat grup diskusi dengan para petani karet terkait hal ini. "Atur jadwal, lakukan kunjungan ke tempat pak Rizal dan juga Bu Ratna. Lihat, pelajari dan contoh apa yang telah mereka lakukan untuk dapat meningkatkan penghasilan. Tak perlu jauh-jauh lagi belajar, sudah ada di daerah kita," tandasnya.(rel)