D U P L I K A T

Ulasan | 17 November 2019
Fadilla Jusman

PEKAN lalu seorang teman berkunjung ke kota yang menjadi bagian penting dari warisan budaya dunia, yang ditetapkan UNESCO. Kedatangannya tidak terlepas dari keinginan untuk mengabadikan spot-spot penting dari catatan sejarah pertambangan batubara Ombilin.

Sembari melepas penat perjalanan berkendara dari Kota Padang, sambil merasakan udara Kota Sawahlunto, sang teman mencoba menikmati seduhan kopi di salah satu warung kaki lma di kawasan Lapangan Segitiga.

Baginya, warisan budaya dunia yang disematkan UNESCO memiliki daya tarik yang kuat untuk dikunjungi. Jika tidak, mana mungkin dirinya mau meluangkan waktu khusus untuk berkunjung ke kota yang berdiri sejak 131 tahun lalu ini.

Beberapa peninggalan bersejarahpun didatangi. Mulai dari Museum Gudang Ransum, Museum Tambang Ombilin, Museum Kereta Api, pusat distribusi batubara Silo, Lubang Tambang Mbah Soero, dan berakhir di kawasan Puncak Cemara.

Hampir dua hari dihabiskannya untuk menikmati kawasan sejarah bekas pertambangan batubara Ombilin. Dengan menginap di salah satu homestay, dirinya merasakan bersentuhan langsung dengan masyarakat setempat.

Baginya, homestay jauh lebih baik ketimbang harus menginap di satu-satunya hotel yang kini melayani wisatawan di Kota Sawahlunto. Bukan hanya disebabkan biaya yang relatif murah, namun interaksi langsung dengan masyarakat setempat menjadi daya tarik tersendiri.

Selain itu, dengan menginap di homestay, berarti wisatawan juga langsung ikut memutar ekonomi masyarakat. Sebab, nilai ekonomi yang dikeluarkan, langsung diterima dan dimanfaatkan masyarakat, bukan perusahaan.

Memasuki hari ketiga, sang teman bertanya tentang duplikat sertifikat UNESCO, yang belum lama ini diterima Pemerintah Sawahlunto bersama 20 instansi dan lembaga lain yang dinilai memiliki andil dalam sejarah pertambangan Ombilin serta upaya mendorong Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto menjadi warisan budaya dunia.

Besar harapannya untuk dapat foto dengan duplikat sertifikat yang sangat terbatas jumlahnya tersebut. Jika diberikan izin untuk memegang dan berfoto dengan duplikat sertifikat tersebut, tentu akan menjadi foto edisi foto spesial baginya.

Harapan itu tentu sangat mudah untuk diwujudkan, pasalnya saat ini duplikat sertifikat yang diterbitkan UNESCO tersebut disimpan di ruang kerja Walikota Sawahlunto, yang memang sangat terbatas orang yang dapat mengakses untuk melihatnya.

Menurutnya, harapan untuk dapat melihat dan mengakses duplikat sertifikat warisan budaya dunia UNESCO, tentu harapan banyak wisatawan. Bisa disebut sebagian besar wisatawan berkeinginan untuk berswafoto dengan sertifikat tersebut.

Untuk mewujudkan keinginan itu, sang teman mengusulkan pemerintah untuk membangun monumen duplikat sertifikat warisan dunia UNESCO, dalam ukuran besar, setidaknya dengan ukuran 3 meter kali 4 meter, jika dibangun akan menjadi destinasi baru di Kota Sawahlunto.

Dengan latar belakang pusat kota, keberadaan monumen duplikat dari duplikat sertifikat warisan budaya dunia UNESCO akan bisa menjadi magnet baru bagi pariwisata Sawahlunto ke depan.(Fadilla Jusman)