CUKUP JADI SAWAHLUNTO

Ulasan | 10 September 2019
Fadilla Jusman

SEDERHANA. Menindaklanjuti status yang kini disandang Sawahlunto Coal Mining Heritage of Sawahlunto sebagai Warisan Dunia yang disematkan UNESCO, ternyata tidak serumit yang dibayangkan selama ini.

Sawahlunto cukup menjadi Sawahlunto saja, tidak perlu berevoluasi merubah diri menjadi daerah lain, atau tampil menyerupai kota dengan segala kemajuan dan fasilitas penunjang.

Langkah yang harus dilakukan, justru tidak harus serumit layaknya mempersiapkan kedatangan undangan pada resepsi perkawinan. Dimana tuan rumah bersusah payah mendirikan tenda megah, dengan jamuan dan hidangan luar biasa yang mengundang selera.

Menyematkan Warisan Dunia, ternyata UNESCO tidaklah memberikan catatan yang neko-neko. Sawahlunto hanya dituntut tampil menjadi Sawahlunto saja, tidak perlu repot-repot untuk berubah.

Cukup dengan menggali potensi yang pernah ada. Mulai dari potensi kesenian budaya, menghidupkan kembali kuliner tempo dulu, dan menjaga serta merawat situs-situs yang dimiliki.

Infrastruktur yang dibangunpun, cukup ditujukan untuk masyarakat. Membangun infrastruktur penunjang kehidupan warga yang ada, sehingga warga merasa betah dan tidak mau berimigrasi ke daerah lain.

Tulisan ini sengaja dirangkum dari penyampaian Prof. Johannes Widodo, dari International Council on Monuments and Sites Indonesia (ICOMOS), dalam seminar terkait Sawahlunto Coal Mining Heritage of Sawahlunto.

Materi yang dibahasnya menyentakan hampir semua peserta seminar. Yang disampaikannya, ternyata langkah yang harus diambil Sawahlunto sangat-sangat simple, yakni cukup menjadi Sawahlunto.

Barang kali tidak ada yang menyangka akan sesederhana itu. Namun dalam penerapannya tentu tidak sesederhana menyebutkan kata sederhana dan simple itu sendiri.

Tetap saja, Sawahlunto sebagai daerah inti dari kawasan situs Warisan Dunia UNESCO itu, harus berupa membangun berbagai infrastruktur. Hanya saja, infrastruktur yang dibangun ditujukan untuk membangun kenyamanan masyarakat Sawahlunto sendiri.

Infrastruktur yang dibangun tidak ditujukan untuk menarik wisatawan, yang datang masuk dan berkunjung membelanjakan rupiah ataupun dollar. Namun infrastruktur yang mampu memberikan kenyamanan menciptakan kesejahteraan di tengah masyarakat.

Apalagi, label Warisan Dunia yang disematkan UNESCO, merupakan bagian dari upaya menjaga kekayaan yang dimiliki sebuah kawasan situs, agar bisa berguna bagi pendidikan generasi berikutnya.

Sementara kunjungan wisatawan, hanya sebagai sebuah bonus. Jika kehdidupan masyarakat di kawasan Warisan Dunia sudah sejahtera dan nyaman, tentu akan menjadi contoh bagi daerah lain.

Masyarakat dari daerah lain akan datang, mereka datang untuk belajar bagaimana proses dari pencapaian kesejahteraan dan kenyamanan yang didapatkan masyarakat di kawasan Warisan Dunia UNESCO bisa tercipta.

Untuk itu, dalam mewujudkannya, tidak akan terlepas dari dukungan semua kalangan masyarakat. Mari kita dorong Sawahlunto menjadi Sawahlunto, dan cukup menjadi Sawahlunto, dengan menjaga dan merawatnya serta mengembangkan semua potensi yang kita miliki.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi