Barang Bekas, Antarkan Sarintan ke Tanah Suci

Ekonomi | 04 September 2019
Sarintan

SAWAHLUNTO - Profesi boleh sebagai pengumpul barang bekas. Namun wanita yang akrab disapa Wawak ini, memiliki semangat yang sangat tinggi, dalam mewujudkan cita-citanya ke tanah suci.

Hampir 20 tahun menabung, kini wanita bernama lengkap Sarintan itu, tengah mempersiapkan diri untuk berangkat menuju tanah suci menjalankan ibadah umrah. Jika tidak ada aral melintang, wanita 62 tahun itu akan berangka 27 Oktober mendatang.

Mendengar kisah Sarintan yang sangat inspiratif itu, memancing perhatian dan apresiasi dari Walikota Sawahlunto Deri Asta, untuk datang langsung menemui Sarintan ke rumahnya.

"Selamat kepada ibu Sarintan, kisah ibu berhasil umrah dengan menabung sejak lama ini, walaupun hanya dengan menjual barang - barang bekas merupakan cerita yang sangat inspiratif," kata Deri.

Bagi Deri Asta, kisah ibu Sarintan merupakan cermis atas keteguhan dan komitmen dalam mewujudkan niat beribah ke tanah suci. Ada pelajaran dan inspirasi yang bisa diambil masyarakat atas kisah ibu Sarintan tersebut.

Melihat semangat itu, secara pribadi Deri Asta memberikan bantuan, sedikit bekal bagi Sarintan ketika di tanah suci nanti. Deri Asta sendiri sangat berharap, kisah Sarintan dapat menjadi tauladan dan memotivasi masyarakat Sawahlunto.

“Kisah ibu Sarintan memberikan motivasi bagi masyarakat lainnya, untuk kembali bersemangat menabung dan percaya bahwa bisa menggapai mimpi, asalkan tetap berusaha, rajin dan berkomitmen," ujarnya.

Kepada Walikota Deri Asta, Sarintan atau Wawak menceritakan, jika dirinya mulai rajin menabung sejak tahun awal 1980 silam. Ketika itu, suaminya masih hidup, berusaha membuat batu bata.

Sarintan sendiri ikut membantu sang suami. Dari hasil usaha batu bata itu, Sarintan menyisihkan sedikit uang, yang ditabungnya. Kala itu, niatnya untuk ke tanah suci sudah mulai tumbuh.

Sekian tahun belakang, lanjut Sarintan yang tidak begitu pasti waktunya, usaha batu bata pun terhenti. Sarintan pun mulai beralih, Ia mengumpulkan barang-barang bekas. Wanita yang terbiasa bangun jam 3 dini hari itu, selesai shalat tahajud langsung keliling mencari barang-barang bekas.

Begitu memasuki subuh, sekitar pukul 5, Sarintan pulang, mandi dan langsung Subuh. Usai subuh, mulai pukul 9 atau 10 Ia mulai menyortir barang-barang bekas tersebut. Wawak sendiri mengaku harga juag barang bekas cenderung menurun.

Dulu, katanya, harga barang bekas di bisa mencapai tujuh ribu rupiah per klogramnya. Namun kini, harga seribu rupiah sudah susah. Untung saja, ketika dulu harga masih tinggi, Sarintan sering menabung.

Pokoknya, terang Sarintan, setiap hari dirinya menabung, bisa Rp5 ribu, bahkan juga Rp2 ribu. Yang terpenting, katanya, setiap hari selalu ada tabungan untuk berangkat ke tanah suci. Kini biaya sebesar Rp26 juta sudah terlunasi. Wawak atau Sarintan hanya tinggal menunggu keberangkatannya dalam paket 10 hari umrah di tanah suci.(del)