Banyak Peternak Kembangkan Usaha Secara Otodidak

Ekonomi | 13 Agustus 2019
Ternak sapi

SAWAHLUNTO - Banyak peternak di Kota Sawahlunto yang mengembangkan usaha secara otodidak, mampu bertahan dan menjadikan usaha peternakannya sebagai sumber pendapatan utama, yang dapat dibilang menggiurkan.

Ada yang membuka usaha peternakan untuk memenuhi kebutuhan kurban dengan pola penggemukan dalam jangka waktu maksimal satu tahun. Namun ada juga yang khusus mengembangkan usaha untuk pengembanganbiakan.

Roli salah satu contohnya, pegawai Puskesmas Kampung Teleng Sawahlunto yang berstatus kontrak dinas. Bermodalkan tabungan dan sedikit pinjaman dari keluarga, Roli mengawali usaha ternaknya pada triwulan pertama 2015 lalu.

Bermodal dua ekor sapi jenis bali, waktu itu, kedua sapi yang masih berusia sekitar 1,5 tahun tersebut diboyongnya dengan harga berkisar Rp15,5 juta, dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan permintaan hewan qurban.

Dalam tempo enam bulan, kedua sapi yang diangon Bapak satu anak itu dilepas dengan harga yang hampir dua kali lipat dari modal awal. “Alhamdulillah, harga jual setelah diangon sekitar enam bulan, bisa mencapai dua kali lipat,” ujar Roli, di kandang sapi miliknya.

Mendapatkan untung yang terbilang lumayan, Roli bukannya berkeinginan untuk menikmati langsung jerih payah keringatnya itu. Hasil penjualan yang diperoleh justru kembali dijadikan modal untuk menambah jumlah sapi peliharaannya dalam menyambut lebaran qurban tahun berikutnya.

Jika sebelumnya dua ekor, kini sapi angonan Roli bertambah menjadi empat, yang kemudian dipersiapkan untuk dilepas ketika musim haji datang. Benar saja, begitu musim haji datang, sapi milik Roli kembali habis terjual.

Kini, setelah empat tahun berusaha mengembangkan usaha peternakan, telah terparkir 10 ekor sapinya terjual untuk memenuhi kebutuhan hewan qurban ibadah haji idul adha 1440 H. Rata-rata harga sapi yang telah dipanjar tersebut, berkisar antara Rp13,5 juta hingga Rp17 juta per ekor.

Harga sangat tergantung dengan bentuk dan postur sapi yang akan dijual. Semakin besar dan semakin bagus, harga akan semakin tinggi. Sistem pemeliharaan yang dilakukan Roli, selain membawa sapi-sapinya ke lapangan hijau rerumputan, juga dengan sistem arit.

Roli sengaja mengisi waktu luangnya ketika pulang dari bekerja. Menjelang sore tiba, Roli siap dengan pisau aritnya, mengumpulkan rumput tiga hingga lima karung hingga magrib menjelang. Usai rumput terkumpul, Roli pun langsung membawa rumput dan sapi kembali ke kandang.

Serupa dengan Roli, Hengki Ariadi, peternak sapi di kawasan Kecamatan Barangin Sawahlunto itu, telah memulai usahanya sebjak 7 tahun lalu. Jika dulu bermodal 5 ekor sapi jenis bali, kini sapi yang dimiliki mencapai 28 ekor.

Pola yang diterapkan pun terbilang sama, yakni mengembangbiakan ternak secara otodidak. Bahkan, untuk puluhan sapi yang kini dimilikinya, justru tidak dikandangkan. Hanya dikontrol dengan pola ikat indukan.

Kini asset yang dimiliki Hengki Ariadi telah mencapai Rp250 juta. Itu tentu belum termasuk dengan jumlah sapi yang telah terjual untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, yang jumlahnya juga tidak kalah banyak dengan sapi yang kini masih ada.

Jika Roli dan Hengki Ariadi mengembangkan ternak secara otodidak perorangan, Kelompok tani (Keltan) Saiyo Mandiri, Desa Kolok Mudik bertahan dalam usaha pengembangan peternakan sapi, di Kota Sawahlunto.

Bermodal bantuan sosial yang diterima 13 tahun lalu, Keltan Saiyo Mandiri Desa Kolok Mudik, Kecamatan Barangin, tetap bertahan dan berkembang dengan memiliki puluhan sapi dengan catatan omset hingga ratusan juta rupiah.

Pasang surut dalam usaha dirasakan Keltan Saiyo Mandiri. Setidaknya itu ditunjukan dengan jumlah anggota kelompok yang mengalami penurunan, banyaknya anakan sapi yang mati ketika lahir.

Awalnya Keltan Saiyo Mandiri memiliki 20 anggota dengan 40 ekor sapi, kini Keltan yang belum memiliki badan hukum itu, hanya memiliki 6 anggota tetap dalam kelompok. Sedangkan belasan sisanya, memilih mengembangkan usaha secara mandiri di pemukiman masing-masing.

Di atas lahan seluas 5 hektar, Keltan Saiyo Mandiri kini memiliki 38 ekor sapi jenis bali dan lokal. 16 ekor diantaranya indukan yang sebagian besar tengah bunting dan menunggu waktu beranak, sedangkan sisanya 22 ekor masih anakan.

Usaha pengembangan ternak sapi secara berkelompok tidak ada susahnya. Justru banyak kemudahan yang didapatkan. Mulai dari berbagi waktu, hingga pendelegasian tanggung jawab. Sebab, dengan beternak secara mandiri, membutuhkan waktu penuh untuk beternak. Sehingga usaha peternakan secara berkelompok menjadi solusi, menjadikan peternakan sebagai usaha sampingan bernilai ekonomi.(del)