B E R T U A N

Ulasan | 20 November 2019
Fadilla Jusman

MEDIO mei tiga tahun lalu, salah satu sekolah lanjutan tingkat atas di Kota Sawahlunto, melakukan kunjungan ke SMA unggul di Kota Surabaya. Kebetulan, waktu itu penulis diajak untuk mendampingi kegiatan tersebut atas nama media.

Rombongan yang ikuti tidak kurang dari 50 orang, mulai dari siswa, guru dan tenaga administrasi sekolah itu, berangkat menggunakan salah satu travel lokal Sumbar dari Bandara Internasional Minangkabau, dan transit di Batam, selanjutnya rombongan mengakhiri perjalanan udara di bandara Juanda.

Begitu mendarat, pendamping dari travel lokal tadi, terlihat sibuk mengatur semua kebutuhan akomodasi rombongan, termasuk menyediakan bus untuk membawa rombongan makan dan menuju penginapan.

Begitu bus datang, rombongan ternyata sudah dinanti salah seorang guide lokal. Dengan sebuah pengeras suara, Ia pun sibuk bercerita banyak, menceritakan beragam kisah yang dimiliki kota terbesar kedua di Indonesia tersebut.

Sebagai tuan rumah, guide lokal memang tampil meyakinkan dengan kisah-kisah menarik yang mengalir mulus dari mulutnya. Kami yang berkunjungpun ternganga, dengan cerita yang kadang sudah begitu banyak bumbu dicampurkan sang guide dalam penuturannya.

Mulai dari kisah sejarah perjuangan, arek-arek suroboyo, cerita rakyat, jembatan merah hingga cerita lucu dan cerita yang sedikit berbau dewasa. Tapi tidak mengapa, sang guide memang sengaja melontarkan semua koleksi ceritanya untuk mengambil perhatian rombongan.

Dalam hitungan dua hingga tiga cerita, guidepun berhasil menyatukan perhatian rombongan, kendalipun langsung berada di tangannya. Setiap cerita yang dibumbui sedikit humor mampu membuat rombongan tertawa dan decak kagum.

Menarik memang, biro travel harus melibatkan guide di kota kunjungan setempat atau daerah tujuan, sebagai pramuwisata, yang sudah menjadi aturan tak tertulis maupun tertulis di dunia pertravelan.

Beberapa kota tujuan wisata memang sudah menjadikan hal tersebut sebagai aturan baku, yang dituangkan dalam peraturan daerah (Perda), dimana setiap biro travel diwajibkan melibatkan guide lokal dalam membawa rombongan wisatawan.

Jogjakarta sendiri sudah menetapkan aturan tersebut dalam Perda sejak 2015 lalu. Berselang satu tahun, Bali juga menetapkan Perda yang sama, yang mengatur tentang guide atau pramuwisata.

Kehadiran pramuwisata atau guide memang memiliki andil tersendiri. Salah satunya dalam menyiarkan pariwisata yang dimiliki sebuah daerah. Melalui mulut pramuwisata atau guide, cerita-cerita tentang sebuah daerah beredar dan menggema kemana-mana.

Berwisata tanpa mendengar cerita, bagaikan berjalan dalam kebisuan, yang berujung pada kejenuhan, menimbulkan kebosanan. Suasana senang dan gembira yang diharapkan dari berwisata, juga tidak akan pernah dirasakan.

Cerita-cerita unik dan khas yang tentunya dimiliki setiap daerah yang dilontarkan para guide atau pramuwisata akan bergulir dari satu mulut ke mulut lain. Cerita itu dengan sendirinya akan menarik wisatawan lain untuk datang, dan kembali mendengarkan cerita-cerita yang sama dari guide.

Sepertinya peran dan tanggung jawab guide memang terlalu besar untuk mempromosikan sebuah daerah tujuan wisata secara detail. Keberadaan guide akan memberikan kontribusi penting bagi perkembangan pariwisata.

Bagi Sawahlunto sendiri, keberadaan guide dan aturan yang mengaturnya tentu sangat dibutuhkan. Apalagi, Sawahlunto yang kaya dengan beragam wisata. Mulai dari wisata alam, wisata buatan, hingga situs-situs sejarah pertambangan Ombilin yang kini berstatus Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Mungkin peluang kerja atau usaha yang satu ini masih terbilang perawan di Kota Sawahlunto. Jika pun ada, mungkin hanya dalam bilangan jari sebelah tangan yang mulai menekuninya, dan itu pun belumlah mandiri, masih berada di bawah panji instansi pemerintah.

Bus-bus pariwisata yang mulai bersilangsiur di Kota Sawahlunto itu, belum lagi mendengungkan cerita-cerita tentang Sawahlunto, cerita tentang perjuangan masyarakat Sawahlunto, cerita tentang pekerja tambang Sawahlunto, atau mungkin cerita Lasuang Manangih yang ada di Nagari Lumindai Sawahlunto.

Bus-bus pariwisata yang keluar masuk Sawahlunto, bagai melintasi kawasan wisata tak bertuan. Tak ada guide atau pramuwisata yang digandeng puhak travel pembawa rombongan, untuk menceritakan beragam kisaha yang ada di kota ini.

Wisatawan baru mendengar cerita-cerita dangkal dari sebuah kawasan wisata. Padahal, begitu banyak cerita yang patut didengarkan wisatawan yang telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk datang ke kota yang berdiri sejak tahun 1888 itu.

Tidak hanya itu, tentunya aturan tentang keberadaan guide akan membuka peluang baru bagi masyarakat Sawahlunto sendiri, kesempatan untuk menjadi guide, menjadi pramuwisata, menemani wisatawan dengan beragam cerita yang pernah ada di kota tua itu.

Agaknya hal ini perlu segera menjadi perhatian pemerintah, memberikan dorongan berupa regulasi, dalam mendukung terorganisirnya keberadaan guide atau pramuwisata di Kota Sawahlunto ke depan. Jangan sampai wisatawan yang datang, bak berkunjung ke daerah tak bertuan.(Fadilla Jusman)

#harianhaluan #kolom #sawahlunto #literasi