Adinegoro, Bapak Perintis Pers Indonesia

Biografi | 01 Desember 2017
Djamaluddin Adinegoro

ADINEGORO (nama lengkapnya Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan) adalah wartawan terkemuka dan salah seorang perintis pers Indonesia. Ia bahkan dijuluki ‘Bapak Pers Indonesia’.

Djamaluddin termasuk orang Indonesia pertama yang secara formal mempelajari ilmu publisistik di Jerman. Di Eropa ia juga mempelajari geografi, geopolitik, dan kartografi. Maka jadilah ia orang Indonesia pertama yang membuat atlas dalam bahasa Indonesia.

Ia lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904 dan wafat di Jakarta, 8 Januari 1968. Djamaluddin mengawali pendidikan di HIS kemudian Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah yang dikhususkan untuk anak-anak Belanda dan anak-anak pejabat terkemuka pemerintah Hindia Belanda, di Palembang.

Ayahnya, Tuanku Laras Bagindo Chatib, sering berpindah tempat pekerjaan. Oleh karena itu, saat memasuki usia remaja, Djamaluddin diikutkan kepada saudaranya yang tertua, yakni Muhammad Yaman Gelar Raja Endah, guru Hollandsch Inlandsche School (HIS) Palembang.

Setelah menyelesaikan pendidikan di MULO Pelambang, Djamaluddin masuk School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, karena ayahnya mengharapkan ia menjadi dokter. Sebagai anak Minangkabau, Djamaluddin lebih dulu membekali dirinya dengan empat kepandaian, yakni pandai mengaji, pandai menjahit, pandai memasak, dan pandai bersilat untuk membela diri.

Dari kegemarannya membaca, Djamaluddin tertarik ingin mengemukakan pendapat dan buah pikirannya di surat kabar. Tulisannya pertama kali dimuat di Tjahaja Hindia, sebuah majalah yang diterbitkan oelh Landjumin Datuk Tumenggung. Tulisannya terus mengalir dan selalu mencantumkan Dj, sebagai kependekan dari Djamaluddin.

Kecanduan menulis, akhirnya Djamaluddin dikeluarkan dari STOVIA dan melanjutkan sekolah ke Jerman untuk belajar ilmu publisistik. Ia ingin mengikuti jejak Abdul Rivai, seorang dokter bangsa Indonesia, yang selama belajar di Eropa banyak menulis di Harian Bintang Timoer pimpinan Parada Harahap.

Selama melakukan lawatan ke beberapa negara Eropa, Adinegoro secara teratur mengirimkan artikel ke majalah Pandji Poestaka, dan karangannya kemudian dibukukan dengan judul Melawat ke Barat oleh Penerbit Balai Poestaka. Ia juga secara teratur mengirimkan karangan ke Pewarta Deli (Medan) dan Bintang Timoer (Jakarta).

Tahun 1930 Adinegoro pulang ke Indonesia. Setiba di tanah air, dia segera menerima tawaran untuk menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pandji Poestaka. Akan tetapi, ketika Pewarta Deli mencari tenaga muda terpelajar untuk memimpin harian itu, Adinegoro pun pindah ke Medan dan mengemudikan harian tersebut dari 1932 hingga Jepang masuk ke Indonesia.

Di bawah asuhannya Pewarta Deli  mengalami kemajuan pesat. Tulisan Adinegoro dikenal karena analisisnya yang tepat. Rubrik ‘Pandangan Luar Negeri’ yang diasuhnya sangat disukai pembaca. Terlebih-lebih saat pecah Perang Dunia II. Saat itu Pewarta Deli menerbitkan peta perang sendiri, hal yang tidak dilakukan koran-koran lain. Di samping memimpin Pewarta Deli, Adinegoro juga mengemudikan majalah Abad XX, sebuah majalah umum populer yang isinya beraneka ragam.

Menjelang perpecahan Perang Pacifik, Adinegoro sudah mempunyai nama harum di kalangan kaum cerdik pandai Medan. Atas prakarsanya, pada waktu-waktu tertentu kaum intelektual Indonesia menghadiri pertemuan untuk mendengarkan ceramah dari tokoh-tokoh terkenal.

Sesudah Proklamasi 1945, Adinegoro diangkat Presiden Soekarno menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Sumatera. Organisasi ini bergerak mempelopori rakyat di Sumatera melaksanakan komando Presiden guna mengambil alih administrasi pemerintahan dari tangan Jepang. Selain itu, bersama-sama para pemimpin lainnya, Adinegoro aktif mensosialisasikan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Sumatera.

Di akhir Perang Kemerdekaan, Adinegoro bersama beberapa wartawan melakukan lawatan ke Negeri Belanda untuk meliput Konferensi Meja Bundar (KMB), setelah penyerahan kedaulatan, Adinegoro kembali ke Nederland untuk membuat atlas dunia, yang menjadi atlas pertama berbahasa Indonesia.

Kembali ke tanah air, tahun 1950-an bersama tokoh-tokoh masyarakat lainnya, Adinegoro mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta yang berkembang menjadi IISIP (Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Publisistik) Adinegoro pula yang mengambil prakarsa (bersama PWI Cabang Bandung) mendirikan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjajaran Bandung.

Beberapa waktu sebelum Adinegoro meninggal dunia, universitas tersebut menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) dalam Ilmu Publisistik kepada tokoh pers ini.

Bung Karno penah menawari jabatan duta besar, tetapi Adinegoro menolaknya. Namun ia bersedia ketika ditunjuk menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Depernas) dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

Pada akhir hayatnya, Adinegoro bekerja di Kantor Berita Antara setelah cukup lama bekerja di kantor berita PIA. Djamaluddin meninggal dunia pada hari minggu, 8 Januari 1968 dalam usia 64 tahun. Ia dimakamkan di Pekuburan Karet. Pada batu nisannya tetulis ‘Djamaluddin Adinegoro Gelar Datuk Maradjo Sutan’.

Pada tahun 1972, pemerintah menganugerahi Djamaluddin Adinegoro penghargaan sebagai Perintis Pers. Dan sejak tahun 1974 PWI Jaya mengabadikan namanya untuk menamai penghargaan bagi karya jurnalistik terbaik yang diselenggarakan setiap tahun. Pada awalnya penghargaan tersebut diberi nama Hadiah Adinegoro, tetapi kemudian diubah menjadi Anugerah Adinegoro.

Setelah kurang lebih 20 tahun menjadi program PWI Jaya, sejak 1994 Anugerah Adinegoro dialihkan menjadi program PWI Pusat, atas kesepakatan antara PWI Pusat, Yayasan Adinegoro dan PWI Jaya. Namanya juga diabadikan sebagai nama Balai Wartawan (Kantor PWI Cabang Sumatera Barat) di Padang, serta menjadi nama perpustakaan di Kota Sawahlunto.(Sumber – Buku 121 WHDRM)