Selasa, 12 Desember 2017Sate Don Pondok Bambu Kian Gurih - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Sate Si Don Pondok Bambu Silungkang

Sate Don Pondok Bambu Kian Gurih

SAWAHLUNTO – Bermodalkan resep khas dari orang tua, Sate Si Don Pondok Bambu Muara Kelaban Silungkang ‘Kota Arang’ makin gurih. Tidak tanggung-tanggung, hanya dalam hitungan jam, kuliner berkuah kental itu habis diserbu pelanggannya.

Semenjak berdiri empat tahun silam, Sate Pondok Bambu yang berdiri di ampang-ampang Simpang Cintomoni Silungkang ruas Lintas Sumatera itu, kian hari jumlah pelanggannya kian bertambah.

Jika terlambat sedikit saja, jangan harap kita akan dapat menikmati sate yang memiliki kekentalan yang luar biasa itu. Sebab, Sate Pondok Bambu memang sangat dinantikan, baik untuk sarapan pagi, maupun untuk mengisi kerinduan akan kuliner di sore harinya.

Rata-rata setiap hari Sate Si Don Pondok Bambu, menghabiskan 20 kilogram daging dan 15 liter beras yang diolah menjadi ketupat. 20 kilogram daging tadi, diolah dan ditusuk dengan ukuran besar.

“Memang untuk daging sate, kami membuat dalam ukuran yang besar. Sehingga pelanggan puas, dan rindu untuk kembali menikmati kuliner yang kami jual ini,” ungkap Doni Hendri, pemilik Sate Pondok Bambu.

Momen libur lebaran, terangnya, daging yang diolah juga ikut meningkat, seiring meningkatnya jumlah permintaan. Setidaknya, ketika libur lebaran 50 kilogram daging akan habis dalam sehari.

Bukanya pun tidak lagi pagi dan sore, namun mulai dari pagi sore hingga malam. Libur lebaran dimanfaatkan untuk meningkatkan pundi-pundi pemasukan bagi pemilik usaha sate tersebut.

Terkait rahasia rasa yang dimiliki, pria kelahiran 15 Juli 1977 itu, hanya menjawab dengan senyum. Menurutnya, hidangan sate yang dijualnya bersama sang istri Ermita, bisa bertahan semenjak pagi hingga sore, atau sebalinya dari sore hingga pagi.

Sate kami ini, terang bapak lima anak itu, memiliki kuah yang lebih kental. Dan yang tidak kalah hebatnya, kuah Sate Si Don Pondok Bambu, tidak akan mencair dalam waktu hitungan jam.

Kalau untuk resep, lanjutnya, tentu rahasia. Tapi yang sangat penting, hingga saat ini resep yang dipakainya, masih produk olahan tangan sang ibunda, yang juga berjualan sate di kawasan Tanjung Ampalu Kabupaten Sijunjung.

Setiap harinya, Sate Pondok Bambu buka pukul 07.30 WIB. Biasanya, belum sampai pukul 10.00 WIB, sate tersebut telah ludes diborong pelanggan. Jika ingin menikmati kembali, Doni akan membuka dagangannya pada pukul 16.00 WIB sore.

Itupun, dalam hitungan dua hingga tiga jam, seluruh tusuk sate akan kembali habis dikonsumsi pelanggan. Doni bersama istripun akan kembali tutup sebelum pukul 21.00 WIB menjelang.

Untuk omset, Doni menjawabnya dengan alhamdulillah, bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan membayar sisa utang untuk membuka usaha. Namun demikian, dapat dipastikan tidak kurang dari Rp3 juta omset diraihnya di hari biasa.

“Dulu, untung yang didapatkan bisa mencapai separuh dari hasil penjualan. Tapi, seiring meningkatnya harga bahan baku, keuntungan tidak bisa lagi mencapai separuh hasil penjualan,” terangnya.

Kian bertambahnya pelanggan yang datang, tutur pria yang mengaku tidak menamatkan bangku SMP itu, tidak terlepas dari dukungan pelanggan yang mempromosikan sate miliknya di berbagai media.

“Alhamdulillah, promosinya bantuan dari pelanggan yang datang. Mereka foto-foto dan memajangnya di media sosial. Mungkin karena rasa yang mereka rasakan begitu enak, sehingga terdorong untuk mempromosikannya,” ujar Doni.

Menurut Dewi (38), salah seorang pelanggan, Sate Pondok Bambu memiliki rasa yang khas, dengan kuahnya yang cukup kental dan memiliki ketahanan yang lebih lama dibandingkan dengan sate yang lain.

Yang tidak kalah pentingnya, ujar Dewi, Pondok Bambu juga didukung dengan areal parkir yang lebih luas. Sehingga, pelanggan lebih leluasa dalam memakirkan kendaraan yang dibawa.

Doni sendiri berencana untuk mengembangkan usaha sate yang dimilikinya, dengan mendirikan cabang. Rencana tersebut, akan direalisasikannya ketika anak-anaknya sudah mampu menjalan usaha serupa untuk dikembangkan.

Doni sendiri mengaku sudah sangat pas dengan usaha yang kini dikembangkannya bersama keluarga. Penghasilan yang didapatkannya pun, terbilang sangat jauh lebih baik ketika bekerja dengan orang lain dulunya.(fad)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *