Selasa, 12 Desember 2017Marhamah Pertahankan Kerajinan Tudung Saji dan Renda - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Hj Marhamah Pengerajin Tudung Saji dan Renda Sawahlunto

Marhamah Pertahankan Kerajinan Tudung Saji dan Renda

SAWAHLUNTO – Satu demi satu payet alias manik-manik berhasil dimasukannya ke dalam benang, yang bakal menjadi rangkaian penghias tudung saji berbahan pandan. Matanya yang berada di ambang senja, tidak pernah mau mengalah, tetap fokus menyelesaikan kerajinan itu.

Meski tanpa dibantu kacamata, Hj. Marhamah tetap yakin mampu menyelesaikan kerajinan tudung saji, yang telah dipesan sang pelanggan dua pekan lalu, untuk dirampungkan. Jika dua puluh tahun lalu satu tudung saji bisa diselesaikan dalam tempo satu pekan, di usianya yang telah memasuki 67 tahun, Marhamah dengan sabar bisa menyelesaikan kerajinan tudung saji dalam hitungan tiga pekan.

“Asal yakin dan bersabar, Insya Allah bisa selesai. Mengerjakan kerajinan ini memang tidak bisa tergesa-gesa,” ujar Marhamah, pengerajin tudung saji dan renda Sawahlunto. Bagi nenek dua cucu itu, berteman dengan jarum dan benang dalam mengerjakan kerajinan tudung saji dan renda, selain untuk mendatangkan pemasukan, juga sebagai pengisi waktu luang, di sela-sela melaksanakan ibadah di kesehariannya.

Marhamah merupakan satu-satunya pengerajin tudung saji di Sawahlunto, yang digunakan para kaum ibu sebagai penutup dulang pembawa susunan piring, yang berisi beragam hidangan dalam kegiatan adat di Sumatera Barat.

Kerajinan yang terbilang langka dan sulit ditemui ini, masih dipertahankan Marhamah. Wanita kelahiran 1 Desember 1949 itu, belajar membuat kerajinan tudung saji secara otodidak semenjak masih remaja.

Langkanya pengerajin tudung saji, disebabkan tidak adanya masyarakat yang mau untuk belajar dan mendalami kerajinan tersebut. Sebab, mendalami kerajinan butuh kesabaran dan ketekunan.

“Kalau pembosan, sangat sulit untuk bisa menjadi pengerajin. Dulu pernah ada beberapa remaja yang belajar. Sayangnya, mereka cepat bosan, sehingga hanya beberapa kali belajar, mereka tidak datang-datang lagi,” ungkapnya.

Khusus untuk kerajinan tudung saji, Marhamah hanya mengerjakan berdasarkan pesanan pelanggan. Rata-rata, dalam sebulan masuk tiga hingga empat pesanan dari pelanggan, dimana satu tudung saji dibanderol Rp200 ribu.

Selain kerajinan tudung saji, Marhamah juga mampu membuat kerajinan renda. Untuk kerajinan yang satu ini, mendapatkan ilmunya ketika masih duduk di bangku Pendidikan Guru Agama (PGA). Keterampilan yang didapatkannya semenjak usia belia itu, tetap masih bisa dilakoninya hingga hari ini. Banyak produk kerajinan renda yang sudah dihasilkannya.

Mulai dari renda kotak tisu, sprei talam, hiasan sandaran kursi, bantalan kursi, tas rajut, tutup galon, hingga tutup penanak nasi listrik, dan taplak meja makan dalam ukuran besar. Untuk pemasaran, selain memajang hasil kerajinan di toko pakaian Hendrawati sang anak, di ruas Jalan Khatib Sulaiman Santur Sawahlunto, Marhamah hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut pelanggan.(rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *