Selasa, 12 Desember 2017Mangarok Yang Hampir Kehilangan Regenerasi - Kabarita.co | Situs Berita Terpercaya SawahluntoKabarita.co | Situs Berita Terpercaya Sawahlunto
Mangarok Yang Hampir Kehilangan Regenerasi

Mangarok Yang Hampir Kehilangan Regenerasi

BATU MANANGGAU – Keterampilan yang satu ini menjadi induk dari segala proses setiap kerajinan tenun songket Silungkang.

Mangarok atau gun, merupakan penyusunan awal dari keseluruhan proses yang harus dilakukan jauh sebelum lembaran songket dihasilkan. Proses paling pertama ini dilakukan untuk menentukan bentuk, ukuran serta motif yang akan digunakan sebuah alat tenun bukan mesin.

Berada di Dusun Lubuak Nan Godang Desa Silungkang Tigo, di kawasan Kampung Tenun Batu Mananggau, Yusben (46) satu dari dua orang yang memiliki kemampuan dalam hal mangarok.

“Proses ini sangat menentukan bentuk, ukuran tenun, hingga motif yang akan digunakan di alat tenun ke depannya. Setelah dilakukan mangarok, bentuk, ukuran hingga motif tidak lagi bisa diubah,” terang Yusben.

Rata-rata dalam sepekan, Yusben bisa menyelesaikan mangarok untuk 3 set tenun. Pesanan mangarok yang didapatkannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan tenun songket Silungkang atau seputar Sawahlunto saja.

Namun, Yusben juga memasok kebutuhan mangarok untuk Sumatera Barat, mulai dari Solok, Pandai Sikek, hingga Tanjuang Gadang. Terkadang, pesanan juga kerap datang dari Negeri Jiran.

Satu set tenun, pria kelahiran 1 Januari 1971 itu, bisa meraih omset Rp1 juta. Untuk tahun ini, Yusben tidak bisa lagi menerima pesanan. Sebab, order yang masuk sudah penuh.

Begitu banyaknya order yang masuk, memang tidak sebanding dengan kemampuan Yusben yang hanya seorang diri. Selain Yusben, hanya Ana, wanita yang kini sudah berusia 80 tahun, yang memiliki menguasai keterampilan mangarok tersebut.

Yusben sendiri bukannya tidak mau menurunkan ilmunya sebagai regenerasi. Namun, kemauan generasi muda untuk belajar mendalami keterampilan mangarok yang sangat rendah.

Rata-rata, lanjut pria yang pernah melanglang buana hingga Thailand, Malaysia dan Singapura itu, mereka yang belajar banyak putus di tengah jalan. Sebab, untuk mengusai kemampuan mangrok dibutuhkan waktu hingga satu tahun.

“Kalau mengajar saja mau, namun untuk menanggung biaya atau menggaji tentu saya tidak bisa. Mungkin, kelangsungan ke depan pemerintah bisa memberikan fasilitas untuk pelatihan,” terangnya.

Yusben sendiri saat ini, berusaha menurunkan keterampilannya mangarok kepada anak-anaknya. Namun usaha itu masih membutuhkan waktu panjang, hingga benar-benar dikuasai.

“Saya juga takut, jika suatu saat keterampilan mangarok atau gun ini tidak ada lagi yang memilikinya. Padahal, mangarok merupakan proses awal yang tidak bisa dilewati sebelum kerajinan tenun songket bisa dilakukan,” pungkasnya.(dil)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *